SOUL MATE

SOUL MATE
Berulah


__ADS_3

Neta dan Rendra telah sampai di kantor bersama, masih terlalu pagi kala itu. Masih sedikit karyawan yang baru datang.


Neta memperhatikan keadaan sekitar, dia enggan siapapun tahu jika hari ini berangkat bersama Rendra. Nanti pasti akan menjadi sebuah skandal yang besar dan akan menyulitkannya. Apalagi jika sampai Billy tau, bisa buyar sudah impian Neta.


"Kamu kenapa? Habis mencuri ya di kantor ini?" tanya Rendra yang bingung melihat tingkah Neta seolah tidak mau dilihat siapa pun.


"Aku akan turun dari mobil jika tidak ada orang yang bisa melihatmu," ucap Neta masih melakukan aksinya.


"Memangnya kenapa? Apa kamu malu jalan dengan ku?" Rendra mulai tersinggung.


"Loh kamu tau itu, nanti aku pulang sendiri saja. Terimakasih, dah Rendra!" pamit Neta membuka pintu mobil dan memberi lambaian tangannya.


"Aku ini seorang pemilik perusahaan ini, harusnya aku yang malu jalan dengan anak kecil seperti kamu. Kok jadi kamu yang malu??!!" Rendra gemas sendiri melihat kepergian Neta.


Tak cukup memakan waktu lama, Neta sudah masuk ke dalam ruangan lokernya. Sudah ada beberapa teman yang hadir di sana, mereka tidak lagi berusaha mengganggu Neta karena kabarnya bahwa gadis itu sungguh sombong dan memilih-milih pergaulan.


Tapi dengan begitu dia merasa bebas, tak ada lagi yang dapat mengganggu ketenangannya. Namun masih terlalu pagi, jadi dia agak bingung untuk melakukan apalagi saat itu.


Kantor pak Derry masih gelap, sepertinya dia belum datang. Neta tidak suka sama sekali pada orang itu, karena dia selalu baik dengan beberapa wanita dengan postur tubuh yang luar biasa bagusnya. Neta hanya memiliki modal wajah, namun untuk soal bentuk tubuh dia bukanlah apa-apa. Lagipula dia tidak perduli, apa pria itu akan menganggapnya atau tidak. Karena dia sudah punya tujuan hidupnya, menggaet Billy.


"Uhuk... Uhuk.... Uhuk...!!!" terdengar suara batuk yang begitu dalam.


Untuk pertama kalinya Neta mendengar suara batuk itu, rasanya begitu menyakitkan. Neta kalau batuk flu biasa aja dia udah gak bisa tidur, apalagi yang seperti ini.


Seorang pria tidak terlalu tua, sedang berusaha terus menahan batuknya. Sebuah sapu tangan di genggamnya, untuk menutup mulut saat batuk itu melanda.


"Bapak sakit?" Neta ingin tahu apa yang sedang terjadi.


Pria itu terkaget, melihat seorang gadis bertanya kepadanya. Padahal sejak penyakit yang baru di deritanya itu datang, sudah banyak memilih enggan untuk dekat dengannya.


Melihat wajah Neta sebentar, kemudian dia membuang wajah kembali takut gadis itu merasa jijik pada akhirnya karena mengetahui penyakit yang dia derita.


"Aku Neta, sepertinya Bapak sedang tidak sehat," ucap Neta kembali, dia tidak perduli jika pria itu menghindar darinya.

__ADS_1


"Eh, Tio pergi sana. Sudah banyak karyawan yang datang. Kamu segera kembali ke tempat mu!" usir sebuah suara kepada pria itu.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Neta, pria tersebut langsung berdiri dan pergi meninggalkan Neta yang masih bingung.


Kok maunya pria itu disuruh pergi begitu saja, padahal ini belum waktunya untuk pergi ke tempat plotingan. Karena penasaran Neta berlari mengejar pria yang mengusir tadi.


"Mas!" Panggil Neta pada pria tersebut.


"Kenapa kamu usir Bapak yang tadi?" Neta bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Kamu gak tau? Dia itu baru saja divonis TB paru. Masih awal sih katanya, cuma kalau dilihat dari batuknya kita gak tau sudah searah apa dia. Jadi pak Derry memutuskan untuk mengusir dia setiap loker ramai, untuk mengantisipasi agar tidak tertular yang lain," jelas pria yang nametagnya bernama Eko.


"Aku gak tau, aku kan baru. Lalu di tempatkan di mana dia, jika dia tidak boleh menunggu di sini??" Neta semakin penasaran.


"Dia punya tempat menunggu di pojok sana, tugas dia setiap hari hanya di gudang lantai atas untuk membersihkan tempat itu sendiri," jawab Eko.


"Sendiri?? Gak ada satu pun yang mau bantu? Gudang itu kan besar," ucap Neta yang tahu betul tempat itu seperti apa karena dia sudah pernah ke sana.


Bekerja sendiri, dengan ruang tunggu tempat penyimpanan barang kebersihan. Semua peralatan kimia untuk kebersihan di simpan di sana. Bagaimana bisa sembuh, jika perlakuan mereka kepada pria itu begitu kejam.


"Tetapi tidak mengasingkan dia sendiri, selayaknya virus mematikan." Neta mulai merasa kesal.


"Ya sudah bantu dia sana, kalau sudah tertular baru tahu rasa!" Eko pun mulai naik darah berdebat dengan Neta.


"Iya aku bantu akan bantu dia," ketua Neta seraya meninggalkan Eko.


Eko ini salah satu leader grup, dia memimpin setiap grup yang akan siap diploting. Tak menyangka selama dua menjadi leader, baru kali ini ada anak buah yang berani membentaknya.


Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Eko selain membiarkan Neta pergi. Kebetulan memang niatnya dia memilih Neta sebagai cadangan untuk pengganti waktu istirahat karena hari ini formasi grup sudah lengkap.


❤️❤️❤️❤️❤️


Berjalan dengan gagah, Neta tidak menghiraukan kehadiran 3 pendekar yang begitu tampan sedang memperhatikannya. Siapalagi kalau bukan Rendra, Sandro dan Billy.

__ADS_1


"Si Neta mau kemana tuh?" tanya Sandro yang pertama kali melihat gadis itu berjalan.


Rendra melihat arah yang dimaksud Sandro, dari gelagat Neta seperti itu, rasanya dia sedang membuat masalah baru.


"Mukanya tambah imut ya kalau lagi Jutek gitu. Dia bener cuma kenalan lu bro?" Billy penasaran.


"Iya, dia cuma kenalan biasa. Kasian dia butuh kerjaan." Rendra berbohong, padahal mereka tinggal satu rumah.


"Kalau gue deketin gimana? Lu gak berkeberatan dong?" tawar Billy.


"Eh kupret, urusin noh si Indah, si Mawar, si Diana!" Rendra kesal dengan pertanyaan Billy.


"Busyet, ngegas amat lu!"


"Jangan kan Billy, gue juga naksir sama dia. Habis lucu anaknya," ucap Sandro.


"Enggak... Enggak... Enggak!!! Apaan si lu pada, dia itu anak kecil. Sedang lu semua itu buaya. Paham?!"


"Gue rasa lu juga mau nih sama dia, terus gimana sama si Bulan?" sindir Billy.


Bulan adalah mantan pacar Rendra yang sampai sekarang tidak terima diputuskan olehnya. Mungkin dia memang gadis yang sangat cantik dan modis, tetapi keegoisan dan kesombongannya membuat Rendra muak.


"Bulan gue kasih Sandro. Lu kan jomblo udah lama. Gue hibahkan untuknya," ucap Rendra.


"Idih ogah, gue maunya Neta," kilah Sandro.


"Gak boleh ada yang sama Neta." Rendra benar-benar naik darah.


"Termasuk lo. Gimana adil gak??" Billy kembali memberikan penawaran.


"Kalau lu berbohong, lu juga gak boleh melarang kita buat mengejar dia. Deal?"


"Iiiyaa..." Rendra menjawab ragu.

__ADS_1


Apa yang harus Rendra lakukan? Sedang saat ini hatinya baru mulai terbuka kembali, keluar dari lubang hitam yang pernah dibuat oleh Bulan mantan kekasihnya itu.


Dia tidak mungkin bisa menghindari perasaannya itu, meski sudah berjanji di hadapan sahabatnya. Bersaing bersama mereka pasti sulit, karena Rendra sadar dia bukanlah pria romantis impian semua wanita. Apalagi jika Billy sudah memulai, Neta bisa saja langsung bertekuk lutut dihadapannya. Karena Rendra tahu siapa pria yang disukai Neta.


__ADS_2