SOUL MATE

SOUL MATE
Hari Pertama


__ADS_3

Neta terbangun tiba-tiba saat alarm pada handphone nya berbunyi yang ke 5, setelah sebelumnya dia tunda terus menerus. Pukul 06:10, matanya terbelalak saat melihat angka tersebut. Ini hari pertama dia bekerja, masa harus terlambat.


Berlari menuju kamar mandi. Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk mandi. Neta hanya mencuci muka dan menggosok giginya. Dia memakai baju yang baru saja dibelinya kemarin, setelah pulang wawancara kerja. Sebuah cardigan hitam, dengan rok span selutut membuat dia terlihat seperti seorang wanita karier. Rambut panjangnya di ikat ekor kuda, dengan lipstik sedikit menor pada bibirnya, Neta pun siap berangkat.


Dia keluar kamar, dan melihat Rendra sudah ada di ruang makan sedang menikmati sarapan. Neta berharap akan mendapat pujian dari teman serumahnya itu.


"Uhuk... Uhuk.... Uhuk...!!!" Rendra terbatuk saat melihat Neta.


Bukannya terpukau dia justru geli dengan apa yang dipakai Neta saat itu. Pekerjaan seorang cleaning servis sangat bertolak belakang dengan pakaian itu.


"Gak usah kaget dong dengan penampilan aku, gimana cocok gak?" tanya Neta penuh harap dapat pujian.


"Lebih baik kamu jangan pakai itu, pakai bajumu yang biasa saja," saran Rendra menahan tawanya.


"Loh kamu gak tau di sana, semua orang berpakaian yang sama denganku. Seperti halnya kamu, dengan stelan jas dan dasi. Apa kamu kerja di sana juga?" Neta penasaran sambil melihat tidak ada yang salah dengan pakaiannya.


"Aku bekerja di sana, sebagai karyawan biasa." Rendra berdusta.


"Aku percaya, karena di sana banyak yang bekerja dengan pakaian yang sama dengan kita. Bukankah kita serasi?" Neta merasa percaya diri.


"Ahahaha.... Iya kita serasi, sebagai pasangan konyol. Kamu harus bekerja dengan giat. Jangan membuatku malu dihadapan temanku itu," jelas Rendra yang kini tawanya meledak.


"Ok siap, apa kita jalan bersama?"


"Oh tidak, aku sudah memberi mu tumpangan tempat tinggal, memberimu pekerjaan dan kini kamu juga mau menumpang? Tidak semudah itu Marimar," sindir Rendra menghabiskan makanannya.


"AR NE TA, bukankah namaku mudah diucapkan? Atau kamu mengalami penyakit pikun?" Neta tidak suka dengan panggilan Rendra.


"Terserah, aku berangkat duluan." Rendra pamit, sambil berlalu meninggalkan gadis tersebut.


Neta memberi lambaian tangan, ketika dia melihat jam tangannya, pukul 06:40. Bukanlah waktu yang tepat untuk menunggu angkutan umum, dia akan terlambat.


Dengan cepat dia mengejar Rendra yang sudah berada di dalam mobilnya. Neta berusaha mencoba bernegosiasi dengan si pemilik mobil, diketuknya kaca mobil tersebut yang kemudian terbuka.


"Rendra izinkan aku untuk ikut bersama mu," pinta Neta memohon.


"Tidak bisa, kamu harus pergi sendiri. Jadilah anak yang mandiri." Rendra menutup kembali kaca mobilnya.


"RENDRA!!! TUNGGU!!! AKU IKUT!!!!" teriak Neta yang tidak dihiraukan sama sekali.


❤️❤️❤️❤️❤️


Pukul 08:15 akhirnya Neta sampai ke kantor dengan penuh perjuangan. Dari menunggu lama ojek online sampai harus mengantar si tukang ojek untuk mengisi bensin terlebih dahulu.


Dengan nafas tidak teratur, Neta terus mengumpat dalam hati.


'Cowok sial, tega bangat dia ninggalin aku begitu aja,' runtuk Neta kesal dan tanpa dia sadari kini telah berada dihadapan seorang satpam.


"Permisi, Mbak mau cari siapa?" tanya pak Satpam.


"Aku pekerja baru di sini pak," jawab Neta dengan nada sedikit kesal.


"Bagian apa, Mbak?"


"Cleaning servis, permisi pak saya sudah telat!" dengus Neta kesal.


Sudah telat dihari pertama, sekarang dia harus disulitkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang gak penting.

__ADS_1


"Tunggu Mbak, selain karyawan gedung ini. Mbak gak bisa masuk ke dalam." Satpam tersebut menahan Neta yang berusaha memaksa masuk.


"Bapak gak percaya amat sih, kalau saya karyawan di sini!" protes Neta.


"Bukan tidak percaya, Mbak bilang karyawan bagian cleaning servis tidak lewat sini. Tetapi ada pintu di samping." Pak Satpam mengarahkan Neta ke pintu di sebelah samping.


'Kenapa harus beda?' pikir Neta kantor ini terlalu berdiskriminasi, masa pintu masuk aja harus dibedain?


Tanpa menjawab lagi, Neta melangkah dengan kesal menuju pintu yang dituju. Terlihat beberapa pegawai berseragam layaknya cleaning servis betulan.


Masuk ke dalam, ruangan tersebut cukup luas dengan loker-loker yang tersusun rapi. Hanya saja dengan banyaknya karyawan tetap terasa sumpek dan pengap, tempatnya pun agak turun kebawah dari bangunan ini. Bisa ditebak ini di dalam basement.


"Kamu siapa? Tidakkah salah masuk?" tanya seorang wanita yang terlihat seumuran Neta.


Dia bertanya begitu, karena bingung dengan pakaian Neta tidak seperti cleaning servis lainnya. Mereka terbiasa datang dengan pakaian biasa, dan sepatu kets. Dandanan Neta tidak cocok untuk pekerjaannya.


Kini semua mata tertuju pada Neta, dia terlihat bodoh dan merasa risih. Ingin rasanya dia segera melepas pakaiannya.


"Aku juga cleaning servis, dimana aku bisa mendapatkan seragam seperti kamu?" tanya Neta penasaran.


"Lebih baik kamu menghadap pak Deri dulu, dari tadi dia sudah bertanya tentang anak baru. Dan ternyata itu kamu," jawab gadis itu segera sambil menarik tangan Neta.


Neta pasrah begitu saja, saat gadis yang tidak mengenalnya mengajak dia ke sebuah pintu. Tertulis nama Deri Adrian, sebagai supervisor penanggung jawab langsung karyawan cleaning servis.


Pintu diketuk sigadis, tak ada jawaban dari dalam. Namun dia tetap nekat membuka pintu ruangan tersebut.


Di dalam ruangan itu, duduk seorang pria bertubuh sedikit gempa dengan wajah yang tidak ramah. Dia tidak memperdulikan dengan kehadiran 2 orang karyawannnya, terlalu sibuk dengan layar komputer di depan.


"Maaf pak, saya sudah membawa Neta karyawan baru yang bapak cari tadi." Gadis itu bicara dengan penuh sopan santun.


"Kamu Arneta? Kenapa kamu terlambat? Apa kamu tau yang kamu pakai itu?" sinis Deri menghina.


"Itu... Aku..." Neta terbata, percuma rasanya menjelaskan alasan apapun dihadapan pria itu. Jadi terserahlah anggapannya seperti apa.


"Saya gak mau banyak alasan, sekarang ambil seragam kamu! Karena terlambat, kamu akan dihukum di toilet wanita lantai pertama," ucap Deri sambil melempar sekantung pakaian seragam yang sudah disiapkan terlebih dahulu ke lantai.


'Perasaan aku belum bilang apa-apa, ya sudah lah kalau begitu," bisik hati Neta kesal sendiri, lalu dia mengambil seragamnya.


Neta dan gadis itu keluar tanpa berpamitan. Manusia seperti Deri itu tipe penjilat, yang baik ke atas namun kejam ke bawahan. Jadi rasanya memang pantas untuk dijauhkan, percuma saja untuk didekati. Orang seperti ini biasanya akan mencari selamat sendiri.


'Rendra sial, coba dia bilang tadi jangan pakai baju itu, nanti kamu dimarahi. Atau jangan pakai itu, gak sesuai dengan pekerjaanmu. Pasti langsung aku ganti!' runtuk Neta.


"Aku Yulia, kamu Arneta?" tanya si gadis itu tiba-tiba.


"Iya, bagaimana kamu tahu namaku?"


"Tadi pak Deri manggil kamu dengan nama itu," ucapnya singkat.


"Oh iya, aku bisa ganti baju ini di mana?" tanya Neta merasa bingung.


"Di toilet pojok kanan sana. Ini kunci loker kamu, tadi pak Deri memberiku sebelum kamu datang. Hari ini aku longgar, aku akan bantu menjelaskan kepadamu tentang gedung ini." Yulia memberikan kunci tersebut kepada Neta.


"Hhmmm... Baiklah, terimakasih," jawab Neta sambil berlari kecil menuju toilet ganti untuk memakai seragam barunya.


Tak sampai 10 menit, Neta kembali ke tempat Yulia menunggu. Seragam berwarna abu-abu itu terlihat pas dengan tubuh Neta yang mungil Namun terlihat padat. Rambut ikal panjangnya dia gelung keatas agar tidak mengganggu.


Yulia tersenyum melihat Neta, dia berpikir kalau Neta seorang gadis yang manis dan lincah. Siapapun akan cepat menyukai dia nantinya.

__ADS_1


"Aku ajak ke tempat plottingan mu," ajak Yulia segera.


"Plottingan?" Neta bingung.


"Iya plottingan itu adalah tempat dimana kamu ditugaskan, setiap harinya akan berubah. Dan akan dipilih saat briefing setiap paginya oleh para leader kita nantinya." Yulia menjelaskan sambil terus berjalan.


Di perjalanan Yulia terus bicara tentang gedung ini, toilet umum lantai satu di sebut neraka. Karena tamu yang menunggu pasti akan memakai toilet di sana. Tidak akan ada waktu untuk beristirahat, saking banyaknya tamu yang berlalu lalang.


Selain toilet lantai satu yang disebut neraka, ada lantai 15 tempat para pemimpin dan stafnya berkumpul. Kita akan terus merasa diawasi di sana, tidak ada yang bisa bebas bersantai karena para pemimpin itu ingin kesempurnaan dalam pekerjaan kita.


Neta mengangguk seolah paham. Padahal dia tidak perduli dengan itu semua, yang ada dalam pikirannya hanya bisa bekerja dan memiliki kegiatan setiap harinya. Ketimbang dia harus menikah dan menjadi seorang istri di rumah.


"Baiklah, selamat bekerja. Sekarang aku mau mencari sesuatu dulu," pamit Yulia setelah memberi semangat pada Neta.


Kini Neta siap bekerja, dia sudah mengambil semua peralatannya. Toilet ini memang perlu dibersihkan, bau nya bisa saja membuat siapapun pingsan. Kalau hanya membersihkan toilet, bukanlah sesuatu yang sulit baginya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Saatnya istirahat, tubuh Neta serasa habis di gebukin orang sekampung. Ini adalah pertama kali dia merasakan lelah yang teramat sangat. Memang di sana adalah neraka, tak ada hentinya tamu berlalu lalang. Bau dari toilet membuat Neta terus menerus menyemprotkan pengharum, dia tidak perduli jika penyemprot itu akan habis karenanya.


Neta keluar untuk beristirahat dan mencari udara segar, tak sengaja ketika saat itu dia melihat Rendra dengan beberapa temannya. Dia terlihat angkuh dan berwibawa. Tanpa sadar, Neta melambaikan tangan ke arahnya.


"RENDRA!!" panggil Neta dengan suara cukup keras dan membuat semua mata tertuju kepadanya.


Seorang satpam ingin menghampiri Neta untuk menegurnya, namun Rendra menghalangi dengan memberi kode.


Rendra bersama ke dua orang cowok lainnya, dengan penampilan serupa datang mendekati Neta.


"Bagaimana kamu suka dengan pekerjaanmu?" tanya Rendra dengan sikap yang begitu berwibawa.


"Capek sih, tapi aku suka. Hehehe.... Oh iya itu siapa?" Neta menunjuk salah satu teman Rendra yang paling terlihat ramah.


Cowok tersebut memiliki senyum yang manis, dan tidak disia-siakan olehnya. Makanya dari tadi Neta melihat dia terus mengembangkan senyumnya itu.


Seperti layaknya kucing mendapatkan makanannya, Neta tidak bisa berhenti berkedip. Mungkinkah Billy adalah pangeran yang selama ini sedang dicarinya?


Rendra merasa tidak nyaman dengan tatapan Neta kepada Billy. Dia pun paham betul kalau sahabatnya itu adalah seorang playboy kelas kakap.


"Ini Billy, teman yang aku bilang. Dia pemilik perusahaan ini," jawab Rendra singkat.


"Hai, kamu Neta ya. Bagaimana perusahaan saya, kamu senang kerja di sini?" tanya Billy memperkenalkan diri.


"Aku suka, suka sekali. Apalagi...." Neta belum selesai menjawab, Rendra sudah mengalihkan pembicaraan.


"Ini Sandro, sahabatku juga."


"Hai, Sandro. Aku Neta. Kalian mau kemana?" Neta merasa ingin tahu.


"Makan, kamu mau ikut?" tanya Billy dengan senyum maut yang bisa membuat Neta pingsan saat itu juga.


"Enggak bisa, kita harus rapat. Sampai jumpa anak kecil." Rendra memberi lambaian ke arah Neta.


Dipanggil anak kecil oleh Rendra dihadapan Billy, membuat instingnya keluar. Ingin rasanya dia mencabik-cabik mulut Rendra yang tidak kenal tempat untuk menghina orang lain.


Billy pasti akan berpikiran Neta memang anak kecil seperti apa yang dikatakan Rendra. Padahal baru saja dia menemukan tambatan hatinya, calon suami yang akan dibawa kehadapan Mami dan ayah nanti.


'Awas kamu Rendra, tunggu pembalasanku,' ancam Neta dengan berapi-api dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2