SOUL MATE

SOUL MATE
Menunggu


__ADS_3

Rendra berdiri cemas sejak satu jam lalu, dia menunggu kedatangan Neta. Mengapa gadis itu belum sampai juga ke ruangan yang dia maksud sebagai tempat kerja barunya? Apakah perjalanan dari lantai bawah ke sini begitu memakan waktu. Sampai lemas kaki Rendra di pakai untuk berjalan bolak-balik.


Beberapa tahun sebelumnya, Rendra sama seperti Neta. Menolak perjodohan ini, selain dia trauma ditinggalkan oleh Maya satu-satunya gadis yang dicintainya, dia pun merasa perjodohan adalah sebuah hal bodoh.


Lalu Iban datang, dan memberi penjelasan serta meyakinkan bahwa adiknya itu berbeda dengan gadis lain. Rendra penasaran dan sempat menyelidiki sendiri, sekarang dia malah merasa tidak bisa melepaskan Neta dari genggamannya.


"Kamu darimana saja? Apakah sejauh itu dari bawah kesini??!!!" hardik Rendra saat melihat kedatangan Neta, meski masih jauh rasa-rasanya dia tidak dapat lagi menahan amarah.


Neta yang baru sampai kaget setengah mati karena langsung disemprot oleh si Bos besar. 'Moodnya jelek lagi kah?' bisik hati Neta.


"Maaf tadi aku bantu Billy di ruangannya sebentar." Neta memberi penjelasan, berusaha jujur.


"Apa??!! Billy?? Apa yang bisa dibantu oleh seorang Cleaning service seperti kamu? Dia kan sudah punya asisten sendiri, apakah tidak ada yang bisa membantunya selain kamu??" Rendara terus meluapkan kekesalannya.


Menghela nafas panjang, Neta berusaha untuk tidak membalas apa yang diucapkan Rendra. Mungkin karena kedatangan seorang gadis ke rumahnya tadi, membuat pria itu kehilangan kesabarannya. Untuk saat ini Neta berusaha cari aman saja, terlebih dia sudah lelah berdebat menghadapi Mariana.


Merasa diacuhkan membuat Rendra sedikit kesal, kemudian dia teringat pesan Iban. Nafasnya mulai teratur setelah dia pejamkan mata. Citranya akan menjadi buruk kembali dihadapan Neta jika dia terus marah.


"Kamu tekan dan ingat passwordnya, 25072000." Rendra berusaha menstabilkan suaranya.


'Kok jadi ingat sesuatu ya dengan nomor ini,' bisik hati Neta sambil menekan setiap nomor yang disebut Rendra.


Pintu terbuka, sebuah ruangan besar dengan berbagai permainan. Tapi terlihat sudah rapi dan bersih, apalagi yang harus Neta lakukan lagi di sana?? Haruskah dia bersihkan kembali??


"Ini sudah tersusun rapi, lalu apa yang harus aku lakukan lagi?" Neta merasa bingung.


"Memang, semua sudah rapi setengah jam lalu. Suruh siapa datang telat?" sindir Rendra.


"Oh baik, aku bisa laporkan ini ke Derry. Untuk dipindahkan ke tempat yang lainnya," ucap Neta polos.


"Kamu ini, apa gak bisa bilang maaf atau baik-baikin aku sebagai rasa bersalahmu? Setidaknya merasa bersalah sedikit kek," sindir Rendra yang mulai merasa setres menghadapi Neta yang tidak memiliki kepekaan sama sekali.


"Hah?!!" Neta sumpah bingung, dia sama sekali tidak mengerti maksud Rendra.


"Sudahlah lupakan, setidaknya temani aku bekerja di sini. Aku sedang gak enak hati, dan jangan membantah!" Rendra mengancam dengan wajah serius dan pergi meninggalkan Neta menuju ke meja kerjanya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Neta berpikir jika Rendra menjadikannya tumbal, seperti samsak untuk melampiaskan kekesalan.


Memilih duduk manis dan diam sambil memainkan handphonenya, Neta tidak mau menganggap ada Rendra di ruangan tersebut. Dia meyakinkan dirinya berada di sebuah ruangan gelap bersama seekor binatang buas. Jika dia bersikap manis dan tidak mengganggu, binatang buas itu tidak akan menerkamnya. Namun sebaliknya, jika dia memberontak mungkin itu bisa saja membunuhnya.


Merasa sedikit tenang dengan melihat Neta bersikap penurut, mood Rendra kembali baik. Beberapa kali dia tersenyum melihat gadis sebagai masa depannya. Ya setidaknya Neta adalah calon istri yang sempurna, dia begitu lugu dan penurut. Pasti nanti akan menjadi seorang istri yang baik.

__ADS_1


Terdengar dari dalam, sebuah kunci password pintu ditekan berulang. Seolah seseorang ingin masuk ke sana, namun tidak tahu kuncinya. Mungkin petugas kebersihan, Billy atau Sandro. Karena hanya mereka yang memiliki password untuk masuk ke sana. Rendra mengganti nomornya tanpa memberi tahu siapapun selain Neta. Setidaknya baru Neta saja yang baru dikabari.


Menyerah, tombol tak bisa terbuka. Neta merasa khawatir dan tidak enak hati, sedang Rendra tidak perduli sama sekali.


"Kamu tidak mau melihat siapa di balik pintu itu?" tanya Neta merasa sedikit takut karena terpaksa harus bertanya dengan sibuas.


"Tidak," jawabnya singkat.


Tak lama sebuah panggilan masuk ke dalam handphone milik Rendra, dan langsung dijawab.


"Iya, gue ganti. Nanti gue kirim ke nomor kalian berdua." Rendra langsung menutup handphonenya.


Tanpa memberitahu Neta telpon dari siapa, Rendra kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tak melakukan apa-apa membuat Neta merasa bosan. Entah sampai kapan dia akan dikurung di dalam ruangan ini, setiap hari kah? Seperti piaraan saja.


"Aku bosan, mau keluar," ucap Neta tidak tahan, bisa-bisa dia menjamur di sana saking bosannya.


"Kamu bisa memainkan apa saja di sini, kalau lapar atau haus kamu bisa mengambilnya di lemari es. Kalau kamu..." Rendra melanjukan namun keburu dipotong Neta, "Aku mau pipis!"


"Ada toilet di lift belakang, kamu tau itu." Rendra langsung menjawab kembali.


"Baiklah aku beri waktu 30 menit kamu harus kembali ke sini, dan JANGAN BERULAH!" ancam Rendra dengan menekan beberapa kata yang terakhir.


Enggan menjawab, Neta beringsut pergi meninggalkan Rendra yang masih menatapnya tajam.


Terserah Rendra mau bilang apa, yang pasti kini dia senang bisa berada di luar. Saat itu masih dalam keadaan jam kerja, semua berada di mejanya masing-masing.


Satu yang Neta tidak suka di lantai ini adalah keberadaan meja Mariana beserta pemiliknya. Sebuah tempat yang menjadi paling horor untuk Neta.


'Eh, apa tuh?' tanya hati Neta, ketika dia melihat keramaian di depan sana.


Beberapa orang berkumpul dan saling berbisik, sepertinya telah terjadi sesuatu. Penasaran, Neta datang mendekat.


Seorang Cleaning service tengah membersihkan pecahan Mug yang terbuat dari keramik, terlihat mahal dari bentuknya. Namun fakta yang menyeramkan dari kejadian itu adalah Mariana lah pemiliknya.


"Kamu fikir, benda itu murah? sehingga dengan mudahnya kamu bilang maaf!!!" hardik Mariana dengan meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.


Semua yang melihat hanya berbisik, tak ada yang mau berusaha menenangkan Mariana. Begitupun tidak ada yang mau membantu cleaning servis yang sedang dimakinya.


Ini semua membuat Neta geram, mereka yang melihat itu terlalu cuek bahkan seperti tak punya hati sama sekali.

__ADS_1


"Memang berapa sih harganya??" tanya Neta penasaran.


"Aahh..., teman miskin sebangsanya datang. Mencoba menolong?" sinis Mariana melihat kedatangan Neta.


"Ya enggak juga, sih. Aku penasaran aja, semahal apa sih benda yang dipecahkannya??" Neta terlihat santai.


Neta berjongkok, membantu si Cleaning Servis untuk membersihkan pecahan. Juju nama yang tertera di nametagnya, seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan. Dia tidak sengaja memecahkan mug itu karena saat hendak membawa alat kebersihan, salah satunya menyenggol si mug, dan terjadilah insiden ini.


Wanita itu terlihat seperti ingin menangis, Neta berusaha menenangkan dengan menepuk tangan Juju dengan perlahan.


"Ini oleh-oleh dari seseorang, harganya hampir sama dengan gajimu satu bulan. Mau ganti?" Marian merendahkan.


Neta bangkit dan mengambil handphone di dalam sakunya.


"Nomor rekening," ucap Neta singkat.


Semua kaget melihat tingkah Neta yang tidak merasa takut sama sekali dengan Mariana. Bahkan dia berusha untuk tenang menghadapi orang yang memiliki pangkat lebih jauh diatasnya.


"Cepat bilang harga dan nomor rekeningnya!!" Neta merasa tak sabar.


Merasa dipermalukan, Mariana tidak akan melepaskan Neta dengan mudah.


"Ini barang limited edition, maka harganya aku naikan jadi sekitar 8 jutaan. Sanggup?"


"Ok, nomor rekening!"


Mariana menyebutkan semua nomor rekening beserta nama banknya. Tak sampai dua menit, Neta langsung memproses transfer ke rekening Mariana.


"Selesai, dan aku lebihkan sebesar dua juta rupiah. Aku kasihan sama kamu," ucap Neta puas.


"Maksud kamu kasihan sama aku apa?" Mariana tambah naik darah.


"Ternyata kamu miskin yah, baru kehilangan gelas sebesar 4 jutaan saja rasanya udah seperti kehilangan keperawananmu."


"Apa kamu bilang??!!" Mariana kesal dan refleks mengangkat tangannya untuk memukul Neta.


Terlalu dekat sulit bagi Neta untuk menghindar, maka dia hanya bisa menutup kedua matanya. Mungkin dia pikir kalau tutup mata rasanya gak sakit kali ya.


Sebuah tangan besar datang menghalau, menangkap tangan Mariana dengan cepat. Terlambat sedikit mungkin wajah Neta sudah babak belur.


Merasa tangan Mariana tak sampai-sampai, Neta membuka mata. Tangan Rendra masih memegang tangan Mariana yang ingin berusaha lepas.

__ADS_1


__ADS_2