
"Tidak ada yang boleh melakukan kekerasan apapun di dalam kantor saya. Apalagi hanya untuk hal-hal sepele yang tidak penting!" Rendra menghempaskan tangan Mariana.
Semua orang tertunduk melihat tatapan Rendra yang begitu menakutkan.
'Orang ini menolong aku kah?' Neta merasa heran melihat Rendra yang begitu tiba-tiba.
Mariana sedikit kaget, tetapi setelahnya mulai tenang. Dia yakin Rendra tidak akan berani macam-macam padanya.
"Kamu, bersihkan pecahan gelasmu sendiri!" Rendra menunjuk Mariana, yang kemudian beralih kepada Neta dan Juju. "Kalian kembali ke tempat masing-masing!!"
Dengan kesal Marianan, berjongkok dan membersihkan sisa-sisa dari gelasnya yang pecah.
Juju langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada Neta, dia merasa lega urusannya sudah selesai dan tidak berlanjut lagi. Karena menghadapi Mariana adalah sebuah mimpi buruk bagi siapa pun juga.
Neta tak beranjak, karena dia merasa belum menikmati masa bebasnya dari ruang khusus tadi. Rendra memberi kode mata untuk menyuruhnya kembali, namun Neta tidak memgerti mengapa pria ini mengerlingkan mata kepadanya.
Bernafas panjang karena lelah dengan kodenya sendiri, akhirnya Rendra memilih menyerah untuk main kode-kodean.
"Neta, saya perlu bicara sama kamu!" tegas Rendra dengan suara yang berwibawa, untuk menghilangkan kecurigaan bawahan lainnya.
Tadinya Neta mau menolak, tapi takut nanti Rendra meledak dan akan mempermalukan dia lebih parah dari Mariana. Akhirnya dia pasrah dan mengikuti langkah sang CEO.
Ada rasa penyesalan di hati Neta, dia sadar tidak seharusnya dia ikut campur lagi dalam urusan orang lain. Tetapi Mariana Itu memang keterlaluan, memang sih hargan benda yang pecah itu mahal. Apalagi si Ibu sudah mengakui kesalahannya, kenapa dia tidak minta ganti rugi dengan lebih beradab? Ketimbang dia memaki dan mempermalukannya.
Kesempatan Neta untuk berkeliling hilang sudah. Kini dia bersiap mendengarkan ceramah dari Bapak CEO yang tampan dan rupawan, meski kadang dia dingin seperti es balok, namun kadang dia bisa bersikap seperti super hero yang selalu datang tepat pada waktunya.
'Yup dia seperti Hellboy' Itu kata yang tepat untuk Rendra, karena menurut Neta tak ada lagi julukan yang pantas untuknya. Kecakepan kalau superhero yang lain mah, intinya sih gitu.
__ADS_1
Kembali ke ruangan tadi, Rendra sudah duduk di kursinya. Dengan tatapan tajam dan mematikan, dia menunggu penjelasan Neta.
"Ada perlu apa menyuruh aku ke dalam?" Neta dengan nada tak bersalah.
"Tidak ada penjelasankah tentang kejadian tadi?"
"Enggak perlu dijelaskan, seperti biasa salah satu karyawan terhebat di gedung ini berbuat ulah dan semua menutup mata." Neta menjelaskan dengan begitu santainya.
"Mariana? Lebih baik kamu menghindar darinya, dia itu berbahaya," ucap Rendra sedikit khawatir.
"Apa? Kamu pemilik dari perusahaan ini pun tunduk padanya?" Neta merendahkan Rendra sambil mengangkat papan namanya.
"Dia itu perempuan licik, sulit menemukan bukti untuk membuatnya bersalah. Itu karena...."
"Ada pamanmu di belakang yang membelanya? Siapa sih dia? Sampai Pamanmu mau membelanya seperti itu. Mungkin sudah banyak korban jatuh karenanya, dan kamu tidak bisa melindungi bawahanmu. Baiklah, aku yang mencari bukti untuk menjeratnya."
"Kamu gak usah mikirin aku. Oh iya tadi terimakasih, aku akan katakan pada Iban kamu menjagaku dengan baik."
Rendra merasa bingung, apa hubungannya dengan Iban? Apa mungkin Neta sudah tau bahwa dia dipinta Iban untuk menjaga sebagai tunangannya? Sepertinya Rendra perlu memastikan itu.
"Untuk apa berterimakasih pada Iban?" Rendra memulai aksi pancingannya.
"Ya kamu kan cinta sama Kakakku, bukankah begitu?" ucap Neta polos.
Mendengar penjelasan Neta membuat Rendra tertawa kencang. Jadi selama ini dia menganggap bahwa Iban lah orang yang dicintainya?
Masih tertawa karena tingkah polos tunangannya, Rendra bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Neta.
__ADS_1
Melihat Rendra tertawa membuat Neta sedikit bingung bercampur kesal. Tak ada satu kata yang dianggap lucu olehnya, mengapa harus ditertawakan?
"Jadi kamu bilang aku homo?" Rendra menahan tawa, kali ini dengan tatapan serius.
Neta tak menjawab, dia hanya mengangguk bertanda menyetujui ucapan Rendra. Pria itu makin mendekat membuat Neta terus mundur. Hingga akhirnya dia terjatuh di sebuah sofa. Sikap Rendra membuatnya takut.
"Aku bisa buktikan kalau aku tidak homo. Apa kamu mau mencobanya?" bisik Rendra tepat di samping telinga Neta.
Neta menelan air liurnya sendiri, menyesal dia pernah berkata seperti itu. Kini posisi Rendra begitu dekat, bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas pria itu di telinganya.
" A... Aku tadi hanya menebak, jadi..." Sebelum Neta melanjutkan penjelasannya sesuatu membungkam mulutnya.
Rendra bertindak cepat membuat gadis itu berhenti bernafas untuk sesaat karena saking Kagetnya. Situasi yang tidak pernah dibayangkan, seorang CEO mencium seorang Cleaning Service.
Beberapa detik kehilangan nafas, Neta tersadar bahwa ini tidak benar. Dia berusaha mendorong Rendra namun pria itu lebih kuat darinya. Di saat mereka berdua sibuk sendiri, keduanya tak sadar jika Sandro dan Billy sudah membuka pintu ruangan itu dan melihat kejadian yang bisa membuat heboh dunia persilatan.
"Kalian ngapain?" tanya Sandro pura-pura tidak mengerti dengan keadaan dihadapannya.
Billy sedikit frustasi melihat hal tersebut, meski pada akhirnya dia memang harus membuang jauh perasaan itu.
"PLAK!!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rendra.
Neta mendorong jauh Rendra dan pergi berlari keluar dengan keadaan kakinya yang masih sakit. Tadi adalah pengalaman pertama bagi Neta, dicium oleh pria selain keluarganya. Bagaimana dengan nasib tunangannya? Bagaimana dia harus mempertanggung jawabkan semuanya??
Rendra ingin mengejar Neta yang pergi, tetapi dia bingung untuk menghadapi Billy dan Sandro nantinya. Rasa bersalah terus mendera dalam hati namun apa daya tak bisa diungkapkan untuk saat ini.
Di toilet, Neta terus berusaha mencuci bibirnya sendiri. 'Hellboy sial, untuk apa dia melakukan itu padaku?!' gerutu Neta.
__ADS_1