
Neta terus mencari handphone yang sudah disembunyikan Rendra saat ia tertidur. Benar juga firasatnya, handphone itu akan dicari ketika gadis itu membuka mata.
Tak juga ketemu, Neta memilih menyerah dan pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan kehidupannya nanti.
Rendra keluar dengan membawa sepiring nasi goreng yang siap untuk dihidangkan. Tanpa berkata, ditaruhnya piring tersebut dihadapan Neta.
Melirik sebentar lalu menoleh kembali, Neta seperti terhipnotis harum dari piring tersebut. Ingin dia melahap bulat-bulat isi di dalam piring, namun diurungkan karena takut telah diberi racun. Kalau mati, bisa saja organ dalamnya dijual dengan mahal.
"Aku gak lapar!!!" jerit Neta tiba-tiba membuat Rendra sedikit kaget.
"Oh syukurlah, kalau begitu aku yang makan." Rendra mengambil ancang-ancang untuk memakan.
"STOOPP!!!" Teriakan Neta kembali membuat telinga sakit.
Rendra menghentikan gerakan, sedikit bingung dengan kelakuan gadis di depannya. Begitu aneh dan membuat gemas.
"Kamu paksa aku dong, rayu atau gimana kek sampai aku mau makan!! Gak peka bangat sih!!!" keluh Neta kesal dengan wajah yang polos.
"Hahahaha... Memang kamu siapa? Menyuruh aku peka, kalau memang kamu mau makan saja." Rendra tidak dapat menahan tawa atas tingkah Neta.
"Ada racunnya gak? Aku gak mau mati muda."
"Apa untungnya aku meracuni kamu?" Tatapan mata Rendra begitu tajam, tersinggung.
"Kamu bisa jual organ tubuhku, kalau aku mati." Neta menelan ludah mengatakannya.
"Iya, aku akan menjual organ tubuhmu. Tapi sebelum itu, akan ku kuliti setiap inci di sana. Tanpa ampun, dan pasti akan terasa menyakitkan," jawab Rendra menakut-nakuti dengan gerakan.
Menelan ludah, membayangkan setiap ucapan yang keluar dari Rendra. Membuat dengkulnya terasa lemas, rasa ingin kabur itu mendadak tumbuh kembali.
"Hahaha... Lihat tubuhmu itu. Kecil dan kurus, aku tidak tau penyakit apa yang ada di sana. Jadi gak usah khawatir, aku gak akan lakukan itu." Tawa Rendra kembali meledak, ketika melihat rona wajah Neta.
Padahal sebenarnya dia tidak terlalu kurus untuk ukuran seorang gadis, hanya saja badan kecilnya membuat terlihat imut.
__ADS_1
"Cowok gila, psycho, gak tau diri. Hampir saja aku mati berdiri mendengarnya!!"
"Sudahlah, kamu makan saja dulu. Setelah kenyang mari kita bicara. Sepertinya kamu orang yang menyenangkan."
Neta masih menatap penuh curiga. Namun sepertinya dia harus mengalah. Karena rasa lapar itu sudah tidak mungkin bisa ditahan kembali. Dengan lahap, masuklah semua isi piring tersebut ke dalam perutnya.
Sebuah senyuman keluar dari bibir Rendra saat melihat Neta makan. Wajah kecil gadis itu terlihat lebih menggemaskan dan tidak dibuat-buat untuk menjadi cantik.
"Aku mau nanya, apa tujuan kamu membawa pakaian sebanyak itu?" tanya Rendra setelah melihat Neta selesai menghabiskan makanannya.
Neta melihat isi tasnya, memang cukup banyak jika dia beralasan akan bepergian sebentar. Mungkin jujur adalah jalan terbaik.
"Aku kabur," singkat Neta.
"Heemm... Menarik, karena apa?" Rendra menjadi penasaran.
"Orangtuaku telah menjodohkan aku dari kecil, dan aku menolak, karena tidak kenal dengannya."
"Aku... Aku... Gak jadi. Pokoknya gak ada nikah-nikahan. Aku mau cari cintaku sendiri," jawab Neta memacu semangatnya sendiri.
Nih cewek modelnya tipe plin plan, moodnya bisa berubah kapan aja dia mau.
"Kali ini kamu akan tinggal dimana??"
"Di sini, tadi katamu aku gak boleh kemana-mana. Iya kan?" Neta penuh harap, semoga sang pria mau menerima dia untuk tinggal sementara waktu.
"Aku berubah pikiran, kali ini kamu harus keluar dari sini." Rendra begitu santai mengatakannya.
Wajah Neta berubah jadi kesal dia merasa dipermainkan. Tadi dia mau kabur, malah diajak ke sini. Tetapi sekarang?
"Kenapa? Aku bayar saja kalau begitu. Aku punya banyak uang, setiap bulan ATM ku di isi oleh tunanganku itu."
"Kamu tidak mau menikah dengannya, tetapi kamu tetap akan pakai uang darinya? Kamu cewek matre gak tau diri," sinis Rendra.
__ADS_1
"Aku terpaksa. Niatnya aku akan kembalikan jika aku sudah bekerja nanti," jawab Neta tak terima dirinya dihina.
"Apa keahlianmu?" tanya Rendra penasaran.
"Menurutku aku pandai bersih-bersih, dan..." Neta berpikir keras apalagi yang bisa dia lakukan.
Selain menyapu dan mengepel lantai, tidak ada keahlian lain yang bisa Neta lakukan. Mami tidak pernah meminta dia untuk membantu di dapur, karena masakan yang dipegang Neta akan hancur rasanya.
Dalam pelajaran pun dia tidak begitu pandai, Neta itu anak yang mudah bergaul dengan siapa saja. Tetapi tidak pandai bergaul dengan mata pelajaran, makanya kadang dia sudah menyerah sendiri jika harus untuk melanjutkan kuliah.
"Hanya itu ternyata, kecuali jika lompat karung termasuk sebuah keahlian yang kamu maksud. Aku selalu mendapat juara pertama jika diadu," jawab Neta dengan penuh percaya diri.
Rendra menepuk wajah dengan tangannya. Gadis bodoh ini memang sangat menggemaskan, sesuai dengan kelakuannya yang bodoh.
"Kamu mau kerja di perusahaan temanku? Sebagai seorang cleaning service?"
"Apa?? Kamu menghinaku, dengan tawaran itu. Tapi berhubung aku butuh, aku terima!" Neta menjabat tangan Rendra.
'Hahaha... Benar-benar gadis yang unik,' bisik hati Rendra.
"Kamu boleh tidur di sini, tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh ikut campur dengan urusanku!" ancam Rendra.
"Terimakasih, aku Arneta akan memenuhi janjiku."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Keesokannya, Neta diberi alamat untuk pergi ke kantor yang direkomendasikan Rendra. Sebuah perusahaan arsitek yang cukup besar di pusat kota. Dengan bermodalkan pengetahuan minim tentang, akhirnya Neta sampai.
Perusahaan itu begitu tinggi, dengan berjumlah 30 lantai. Bangunan modern minimalis dan unik, sangat cocok untuk sebuah perusahaan yang bergerak dibidang arsitek.
Karyawan berlalu lalang dengan pakaian kantor yang elegan. Mereka sama sekali tidak memperhatikan Neta yang berpakaian kemeja biru, bercelana jeans dengan sepatu kets berwarna merah jambu. Maklum ini adalah pengalaman pertama Neta untuk melamar kerja, dia pun tidak membawa begitu banyak baju pilihan yang cocok.
Saking takjub dengan suasana kantor, Neta berjalan dengan pikiran kosong, jiwa norak dan Kampungannya tiba-tiba bangkit. Dia seperti berada di dunia lain, saat melihat wanita-wanita cantik berpenampilan modis. Apakah dia akan seperti mereka saat bekerja nanti?
__ADS_1