
Keesokan harinya, Neta berangkat dengan wajah sedikit lebih lesu. Seperti bunga yang rindu dengan air hujan, tidak bergairah dan layu. Semalaman dia berpikir, bagaimana caranya agar bisa membantu Sumini.
Dari lagak Rendra semalam, sepertinya dia enggan membantu permasalahan yang Neta hadapi. Terlihat cuek dan tak mau perduli. Satu-satunya cara, memang harus bertemu Billy sebagai pemilik perusahaan.
Sampai di kantor, Neta langsung mengerjakan pekerjaannya. Ketika waktu senggang datang, dia akan bersiap untuk pergi menuju lantai tempat direksi berada.
Dalam perjalanan menuju lantai direksi, dia harus berhati-hati agar tidak bertemu dengan Rendra di tengah jalan. Bisa gagal kalau sampai bertemu makhluk itu, karena dari kemarin Neta selalu di larangnya.
Masuk ke dalam lift, Neta merasa aman. Ketika dilantai ke lima, pintu lift terbuka. Terlihat sesosok pria yang enggan dia temui kala itu, sedang berbicara dengan dua orang lainnya yang tidak dia kenal.
Neta berharap Rendra tidak melihatnya, dengan segera dia membalikkan badan. Ketika Rendra dan dua rekannya masuk ke dalam lift. Mereka terus berbicara tentang hal yang tidak dia mengerti.
Di saat itu, ada yang aneh menurut Rendra. Dari cermin pada dinding lift nampak seorang wanita berseragam cleaning servis membelakangi mereka. Dia mulai curiga, ketika pintu terbuka dua rekannya dia suruh untuk keluar terlebih dahulu. Rendra ingin memastikan siapa si wanita cleaning servis ini.
Neta merasa panik, melihat Rendra yang tidak turun-turun. Dia melihat lantai paling atas adalah pilihan pria itu, sedang Neta tak mau ke sana. Bagaimana dia melarikan diri dari lift sekarang juga?
"Ehm... Sepertinya kita harus bicara empat mata," ucap Rendra seketika membuat Neta nyaris mati saat itu juga saking kagetnya.
Ternyata Rendra sudah menyadari bahwa itu adalah Neta, gadis polos yang tidak bisa menyembunyikan rasa gundahnya.
Pintu lift terbuka di lantai yang paling atas, Rendra keluar terlebih dahulu dan di ikuti oleh Neta. Lantai itu hanya sebuah gudang yang berisi kardus-kardus kosong, sisa pembelian dari alat tulis kantor dan inventaris lainnya. Tidak ada banyak orang suka datang ke sana, karena tempatnya terlalu sepi. Hanya petugas gudang yang beberapa kali dalam sehari sekedar untuk melakukan pemeriksaan.
"Kamu mau kemana anak kecil?" tanya Rendra menarik Neta untuk mendekat kepadanya.
"Aku mau membersihkan lantai 20. Kan aku sekarang tugas di sana," ucap Neta asal, dia enggan menatap Rendra yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Oh ya? Kok aku gak tau ya. Baiklah kembali ke lantaimu." Rendra melepaskan Neta dan memancing sesuatu darinya.
'Semudah itu kah?' pikir Neta, dia berbalik dan pergi menjauh.
Di depan lift bayangan bu Sumini terus menghantui, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Atau Neta tidak akan tenang seumur hidupnya.
__ADS_1
"Aku mau bertemu Billy," ucap Neta seketika sambil membalikkan badannya.
'Dapat!' Rendra berucap dalam hati.
"Aku gak bisa ngapa-ngapain, kalau tidak bisa berbuat sesuatu untuk membantu bu Sumini," jelas Neta dengan wajah mengiba.
'Lucu sekali dia,' gumam Rendra.
"Aku gak nyangka, kamu seorang gadis kecil yang penuh dengan rasa kepingin tahun yang besar dan selalu ingin ikut campur urusan orang lain," sinis Rendra menghampiri Neta.
"Kalau kamu gak mau bilang sama Billy, aku yang akan langsung bertemu dengannya. Kamu tahu, Billy adalah target untuk menjadi calon suamiku nantinya." Neta penuh percaya diri.
"Hahaha.. Billy tidak akan suka sama kamu."
"Memang kenapa? Aku cantik, siapapun tidak akan bisa Menolak ku," ucap Neta dengan nada yang genit.
"Kecuali aku," jawab Rendra singkat.
"Terserah. Aku tidak pernah berharap kamu akan jatuh cinta padaku. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam." Neta pamit.
"Aku akan ikuti maumu, kamu tidak perlu bertemu Billy," jelas Rendra tanpa mau melihat Neta.
"Sungguh? Ya ampun, Rendra kamu memang pria baik. Semoga yang akan menjadi jodohmu nantinya adalah orang yang baik juga." Neta begitu senang sehingga dia melompat kegirangan di dalam lift.
"Hei bodoh, apa yang kamu lakukan? Di dalam lift ini ada CCTV nya. Kamu akan terlihat bodoh jika terekam," ucap Rendra seraya pergi dari lift tersebut ketika lantainya dibuka.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sebuah kejadian yang tidak diduga Neta, ternyata Sumini hari itu dipecat langsung tanpa penjelasan pasti. Alasan diberhentikan karena dia sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan berat.
Karena bekerja sebagai pegawai kontrak, tak ada pesangon atau uang lebih yang didapat. Kini dia terkulai lemas dipojok ruangan, beberapa pegawai menghibur dan memberi semangat.
__ADS_1
Tak berani mendekati, dia merasa ada yang salah dengan harapannya. Neta berdiri gemeter, dia menjadi orang paling bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Sumini. Dia memang ingin wanita itu diberhentikan tetapi harus ada uang kompensasi yang diberikan perusahaan kepadanya.
Neta hendak pergi menemui Billy, namun kata satpam yang menjaga lobi. Pria itu sudah pergi sejak 15 menit yang lalu. Sia-sia dan tak ada harapan lagi, Neta menjadi sedih dan merasa tidak berdaya.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Kamu kenapa lagi?" tanya Rendra saat melihat Neta pulang dengan wajah yang begitu pucat dan panik.
"Rendra, apa yang kamu katakan kepada Billy hari ini?" Neta curiga semua ini ada hubungannya dengan Rendra.
"Pecat dan berhentikan Sumini karena dia sudah tua. Itu kan yang kamu mau?" tegas Rendra tepat dihadapan gadis itu.
"BUKAN!!! Aku bilang berhentikan dengan hormat dan berikan dia uang kompensasi untuknya tiga kali gaji atau berapapun itu!!" Neta menjadi histeris.
"Aku sudah bilang, kamu jangan suka terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Toh aku sudah melakukan yang kamu pinta," ucap Rendra membela diri.
Neta diam, semua memang salahnya. Tetapi bukan seperti ini yang dia mau.
"Kamu harus tanggung jawab," sinis Neta.
"Aku akan tanggung jawab, aku akan nikahi kamu." Rendra menggoda Neta yang sedang emosi.
"Ini bukan soal aku. Ini soal bu Sumini, dan perbuatanmu!" Neta menarik kerah baju Rendra ke arahnya, dan menatap pria itu dengan tatapan yang begitu tajam.
'Gadis ini memang manis,' bisik hati Rendra malah senang diperlakukan seperti itu oleh Neta.
Cukup lama dengan posisi yang sama, Neta sadar ada rasa canggung diantara keduanya. Akhirnya dia melepaskan pegangannya dan menjadi salah tingkah sendiri.
"Kita tanggung jawab bersama, besok kita ke rumah Bu Sumini." Neta malu sendiri dengan apa yang telah ia lakukan.
"Kok dilepas?? Nanggung nih, terusin dong!" Rendra merasa kecewa.
__ADS_1
"Brugh!!!!" Sebuah bantal kursi di lempar Neta tepat mengenai wajah Rendra.
"Terusin tuh sama bantal!!" ketus Neta sambil berlalu pergi menuju kamarnya.