
"Ayo aku antar kamu ke bawah, supaya kamu tidak bisa kabur lagi." Rendra mengajak Neta untuk pergi bersama.
Wajah Neta berubah pucat, dia tidak mau Rendra tahu keadaannya. Tetapi dia juga bingung, harus mencari alasan apalagi untuk menghindari ajakan pria itu.
Rendra masih menunggu, namun Neta bergeming. Dia diam saja, kaki yang terluka tadi begitu sakit dipakai untuk berdiri. Maksud hati, dia akan mencoba bangun saat tak ada orang lagi yang akan melihatnya.
"Kamu tunggu apa? Ayo..." Rendra menarik tangan Neta yang berakhir dengan teriakan kesakitan.
"ARRGGH!!" Neta tak sanggup menahan sakit ketika Rendra berusaha membangunkannya.
Rendra kaget, dia sadar ada yang salah dengan wanita di sisinya kini. Neta terlihat begitu kesakitan sambil memegang kakinya.
Tanpa memberi aba-aba, pria yang memiliki senyum terdingin itu berjongkok kembali, dan melipat sedikit bawah celana seragam yang dipakai Neta di bagian kaki sakitnya.
Spontanitas Rendra melihat luka lebam yang cukup parah. Keadaan begitu cepat, Neta tak bisa menutupinya lagi. Dia hanya pasrah saat luka lebam terbuka menganga.
"Apa ini?" Rendra shock.
"Lutut," jawab Neta santai tanpa mau melihat Rendra.
"Aku tahu itu lutut, tetapi kenapa bisa lebam begini?" Rendra berusaha tetap tenang sebenarnya dia panik melihat keadaan Neta.
"Aku jatuh tadi," jawab Neta jujur enggan membari alasan macam-macam.
"Gadis bodoh, kamu itu bukan supergirl yang sok kuat menahan sakit. Kenapa diam saja? Kenapa gak cerita? Kenapa kamu... Aahh... Sudahlah!"
Rendra enggan berdebat dengan Neta saat ini, mengobati kaki tunangannya jauh lebih penting dari rasa ingin tahu penyebab dari luka tersebut.
Dengan sigap dia lantas menggendong Neta untuk membawanya ke rumah sakit.
"Rendra, aku mau turun!" pinta Neta saat pria itu mengangkatnya tiba-tiba.
__ADS_1
Tak mengacuhkan Neta, Rendra terus berjalan menuju lift.
"Rendra aku mau turun, nanti apa kata orang yang lihat??" rengek Neta sambil memberontak.
"Diam! Kali ini kamu gak punya kuasa apa-apa!" ketus Rendra menjadi sifat asal ketika mereka bertemu dulu.
Rendra membawa Neta dengan lift khusus. Otomatis tidak akan ada yang melihat keadaan mereka, kecuali orang Cctv yang sudah diancam Rendra sebelumnya. Agar tidak menyebarkan gosip yang aneh-aneh tentangnya.
Neta tak berani lagi merengek ataupun memberontak. Kini dia diam seperti seorang gadis manis yang diangkat ayahnya.
Bahkan di dalam lift pun Rendra tidak menurunkan Neta sama sekali. Dia sama sekali tidak punya keinginan untuk melepaskannya.
Wajah dingin Rendra saat itu membuat Neta terkesima. Jantungnya terus berdegup kencang, dan tak mau berhenti. Yang ada dalam pikiran Neta apakah luka di kakinya kini merambat ke jantung?
Sedang dalam pikiran Rendra saat ini, dia berdoa agar Neta tidak mendengar suara detakan jantungnya yang tidak bisa diatur.
"Kamu jangan lihat aku terus," ucap Rendra yang tidak sengaja melihat Neta terus memandangnya.
"Apa sih? Aku gak lihat kamu kok, tapi serius aku malu jika ada yang melihat kita begini."
Benar saja, ketika lift terbuka mobil milik Rendra sudah ada di depan mata. Tidak perlu susah untuk berjalan terlalu jauh mencari keberadaan mobil tersebut.
Neta tidak banyak bicara, dia takut keluar sebuah keluhan dan fakta tentang dirinya. Karena sejak tadi Rendra terus bertanya tentang luka yang didapat Neta, dia tidak percaya kalau itu hanya sebuah kecelakaan biasa.
"Kamu kesambet ya?" tanya Rendra sambil terus mengemudikan mobilnya.
Neta masih diam.
"Kalau kamu tidak mau bicara, aku akan mencari tahu apa yang terjadi. Jika kamu berbohong, kamu akan dapat hukuman yang akan kamu kenang seumur hidupmu,"
Mendapat ancaman dari Rendra membuat Neta sedikit takut. Awalnya dia ingin bicara jujur, tapi ah untuk apa? Dia masih butuh waktu untuk membalas perbuatan perempuan tadi. Sebab jika dia bercerita kepada Rendra, nanti dia akan dilarang untuk kembali ke kantor ini.
__ADS_1
Selain itu, Neta merasa masih dibutuhkan di kantor ini. Dia senang mengeksplore diri apa adanya, karena sebelumnya dia hanya gadis biasa yang terlalu dibatasi oleh kedua orang tuanya.
Di sini jiwa sosial Neta selalu tertantang, seolah menguji nyali yang selama ini tersembunyi.
Rendra menatap tajam disela menyetir, dia berharap Neta mau jujur. Tetapi sepertinya gadis itu terlalu keras kepala, tidak ada suara sedikitpun dari mulutnya. Maka dari itu Rendra tahu kalau Neta sedang menyembunyikan sesuatu.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sampai di rumah Rendra tidak membiarkan Neta untuk banyak bergerak, kecuali ke kamar mandi.
Saat ini yang ada di dalam pikiran Rendra adalah bagaimana cara mengabarkan keadaan Neta kepada keluarganya? Tetapi tidak membuat mereka khawatir atau cemas
Dia merasa bukanlah calon suami yang baik, tidak bisa menjaga Neta. Rasa bersalah terus menghantui Rendra.
Tanpa sepengetahuan Neta, Rendra mengabari Iban kakaknya. Dia berkata agar tidak perlu khawatir karena kali ini Rendra berjanji akan menjaga Neta dengan sepenuh hati.
Dikamar, Neta terus saja memeriksa jantungnya. Sejak diangkat Rendra, degup jantungnya terasa mau meledak, bahkan itu terjadi kembali disaat dia membayangkan wajah Rendra.
Apa ada yang salah dengannya?
Dering handphone makin membuatnya kaget. Dengan cepat Neta mengangkat telpon tersebut yang ternyata dari Iban.
[NETA!!] Sebuah teriakan terdengar dari handphonenya.
[Apa sih ban? Berisik tau!!] ketus Neta kesal.
[Bagaimana kabarmu? Kenapa gak pernah ngasih kabar lagi?? Kamu masih hidup kan??]
[Aku baik, Ban. Aku lupa. Maklum dah wanita karier]
[Tapi kedengarannya kamu gak baik?]
__ADS_1
[Aku sehat kok, serius. Eh ban, Aku mau tidur ya. Bye]
Neta segera menutup handphonenya, ribet kalau ngobrol sama si Iban kelamaan. Dia tidak akan pernah berhenti memberi pertanyaan jebakan untuk Neta, sampai gadis itu benar-benar bicara jujur. Lagi pula dia memang sudah lelah, dan ingin beristirahat segera.