
Neta berjalan dengan perlahan, dia mencoba untuk kuat dan tidak mengeluh. Rasa sakit di lutut cukup terasa meski sudah dicoba untuk mengalihkannya.
Berusaha kembali menuju loker dengan susah payah, beberapa melihat wajahnya dengan sinis. Kesalahan apa yang sudah dia perbuat kembali? Padahal sejak keluar dari ruangan rahasia, tidak ada masalah sama sekali.
Melihat Neta yang berjalan kesulitan, tidak ada satu orang pun yang menolong bahkan bertanya kepadanya. Padahal jelas sekali kalau mereka melihat itu semua.
Tak perduli dengan pandangan orang lain, Neta terus berjalan dengan susah payah. Sampai akhirnya dia sampai di depan lokernya.
Mencoba meluruskan kaki, Neta kembali melihat lututnya. Kini warna merah keunguan sudah mulai sedikit pudar, berganti dengan warna biru dan bengkak yang bertambah.
Seandainya Mami sama Abah melihat luka ini, mereka pasti langsung heboh memanggil semua tukang urut yang ada di kampung. Tetapi kini dia sendiri, tak tahu harus cerita kemana.
Ternyata pribahasa Ibu kota lebih kejam dari Ibu tiri itu benar adanya, banyak yang bersifat acuh dan tak mau perduli kepada sesama.
Tak beberapa lama, Derry menghampiri Neta. Wajahnya begitu menyeramkan seperti ingin memakan orang.
Karena merasa tak bersalah Neta menganggap biasa saja. Tak mau melihat wajah Derry yang sudah memerah seperti sambal tomat.
"Neta, mengapa kamu selalu berulah di sini? Kamu siapa sih? Kenapa melakukan sesuatu yang tidak wajar sebagai pekerja??!" ketus Derry sambil berkacak pinggang.
"Oh, salah saya apa ya?" tanya Neta santai dan masih terduduk di lantai.
"Kamu ini sudah mengacak-acak pegawai saya. Dari bu Sumini, sampai masalah tadi pagi. Bisa gak sih kamu bertingkah normal seperti yang lainnya?"
'Oh jadi dia marah, karena kejadian tadi. Apa mungkin Rendra menegurnya?' bisik hati Neta.
Enggan berdebat, karena sakit yang dirasa. Neta lebih memilih diam.
Emosi Derry terus meledak, dan semakin meledak saat Neta tidak menimpalinya.
"Kamu ini, atasan sedang bicara pandang wajah saya!!" suara Derry semakin kencang dan membuat semua mata tertuju kepada mereka.
__ADS_1
"Sudah? Sudah puas?? Apa bapak butuh jawaban dari saya? Atau sudah puas dengan imajinasi bapak sendiri??!!" Neta mulai naik darah, dia bangkit dan segera pergi meninggalkan Derry yang masih belum selesai dengan kemarahannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Kali ini Neta memilih menghindar, dia sudah lelah dan tenaganya sudah habis untuk menopang tubuhnya saat berjalan. Tak ingin dikasihani, berusaha tetap berjalan normal meski kadang sulit dilakukan.
Kembali ke lantai gudang, tempat yang nyaman menurut Neta. Karena jauh dari hiruk pikuk dan keramaian. Entahlah apa yang akan terjadi dengan dirinya untuk kedepan nanti.
Untuk saat ini, lantai tersebut begitu kosong, bahkan Tio yang bertugas di sana juga tidak ada.
"Fiuuh...!" Neta menghembuskan nafas lega, akhirnya dia bisa beristirahat.
Meski tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, namun Neta merasa lega melihat Tio sudah tidak berada di lokasi. Bisa saja sudah dipindahkan atau diberhentikan kembali seperti Sumarni kemarin? Tak ada yang akan memberi tahunya, jika dia tidak bertanya.
Namun kali ini dia segan melakukan apa-apa, jika dia cerewet kepada Rendra. Pria sombong itu bisa saja melakukan sesuatu yang lebih gila dan membuatnya kesal.
Perut lapar mendera, karena dia belum memakan apa-apa sejak pagi. Di saat seperti ini dia teringat mami kembali. Akan selalu ada makanan yang enak tersaji untuknya. mungkin Neta rindu, atau menyerah dalam pelariannya?
"Aku mencari kamu di mana-mana, dan firasatku benar kamu di sini," sebuah suara pria yang Neta begitu hapal.
Rendra datang dengan sebuah kotak makan yang berisi kentang goreng dan cheeseburger kesukaan Neta. Mencium harumnya saja membuat cacing di dalam perut memberontak.
"Untuk apa kamu cari aku? Bukankah aku hanya pencari masalah?" sindir Neta hatinya sedang buruk.
Rendra duduk di samping Neta, disodorkannya makanan yang ia bawa.
"Aku tau kamu belum makan, sebab tak ada satu orang pun yang melihat kamu keluar dari gedung ini," jawab Rendra.
"Aku gak lapar," singkat Neta.
"Krruukk!!" Lagi-lagi isi perut Neta tidak sinkron dengan isi hatinya.
__ADS_1
"Hahahaa... Selalu saja begitu. Ayo makanlah, ini gak ada modus apapun." Rendra tertawa lepas.
"Ok, kalau kamu maksa!" Neta masih saja angkuh.
Yang membuat Neta kesal dengan Rendra adalah dia pemimpin di perusahaan yang kacau ini. Sistem dan tenaga kerjanya semua buruk, membuat Neta yang memiliki jiwa sosial bak super hero jadi selalu terkena masalah.
Dengan wajah cemberut, Neta membuka kotak makan yang dibawa Rendra. Memakannya tanpa nafas, agar terlihat oleh Rendra bahwa dia sedang emosi.
"Pelan-pelan makannya, kalau tersedak aku kasih nafas buatan loh!" sindir Rendra dengan senyuman menggoda.
"Apa sih? Gak lucu," ucap Neta dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Melihat Neta yang seperti itu membuat Rendra tersenyum dan gemas, tanpa sadar tangannya mulai berani membelai rambut Neta pelan, dan diakhiri dengan mengacak rambutnya.
"Tio sudah aku suruh pindahkan untuk sementara ini. Di bawah, sebagai tukang kebun. Di gudang ini nantinya akan di isi beberapa karyawan, jadi kamu gak perlu ada di sini lagi," jelas Rendra sambil menemani Neta makan.
"Heemm..." Neta menjawab dengan deheman.
"Kamu harusnya berterima kasih sama pemilik perusahaan yang tampan ini," ucap Rendra lagi mengharap pujian.
"Heeemm...," jawab Neta kembali.
"Kamu... Tau terimakasih ga sih? Dari tadi jawabnya heem terus!" Rendra mulai kesal.
"Aku bingung, kamu bawain aku makanan tulus gak sih? Kok makan aja, minumnya mana?? Aku seret niih!!"
"Hahaha, oh iya kamu benar. Aku lupa tadi," jawab Rendra sambil menepuk jidadnya pelan.
Neta benar-benar butuh air, namun dia tidak bisa berdiri sekarang. Kakinya terlalu sakit, dan dia tidak mau Rendra mengetahui keadaannya.
Rendra pun mengambilkan gadis itu segelas air, siapa yang akan menyangka seorang pemilik perusahaan akan mengambilkan air untuk cleaning servisnya.
__ADS_1