SOUL MATE

SOUL MATE
Pertemuan


__ADS_3

Iban mengantar Neta sampai terminal, entah kendaraan dan tujuan mana yang akan dipilih, dia tak tahu. Setelah pamit, tanpa sepengetahuan adiknya, dia mengintai dari jauh. Agar tidak terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Biar begini, Iban itu pemilik sabuk hitam dalam pencak silat.


Sepertinya aman, karena terminal masih cukup ramai meski waktu menunjukan pukul tiga pagi. Neta terlihat bingung, entah apa yang dipikirkan. Mungkin dia bingung akan kemana.


Menutup mata, diantara bis yang terparkir dan mencoba berputar sebentar, ketika dia membuka mata tepat di hadapan sebuah bis itulah pilihannya.


Iban melihat kelakuan Neta yang langka, tak bisa menahan tawanya.


"Bokap tega bangat, pengen buru-buru nikahin bocah polos ini," bisik hati Iban sambil terkekeh.


Neta membuka mata, sebuah bis bertuliskan Jakarta. Sebuah kota yang belum pernah dia injak sama sekali, Kota sejuta mimpi untuk orang lain yang katanya bisa meraih kesuksesan.


Semoga pilihan Neta tidak salah, karena dari awal dia membiarkan takdir yang baru merubah kehidupannya.


Melihat adiknya naik, Iban lantas memberi pesan kepada seseorang.


[Jakarta, Kp. Rambutan]


[Ok] Balas seseorang di sana.


 


Beberapa jam kemudian, sampai lan Neta pada tujuan. Sebuah terminal cukup padat dengan manusia ditambah ini adalah hari biasa. Jumlah penduduk kota tersebut yang luar biasa, membuat mereka terlihat seperti semut di kejauhan. Banyak orang berlalu lalang untuk mencari kendaraan tumpangan.


Tidak terlalu memperdulikan keadaan sekitar, matanya terasa begitu berat karena tidak tidur semalaman. Neta oleng, bahkan beberapa orang menabrak langkahnya tak pula dihiraukan, sampai akhirnya...


"DIINN...." Sebuah Lexus Rx 350 membunyikan klaksonnya tepat di depan Neta yang sempoyongan.


Kaget dan lelah karena tidak tidur semalam. membuatnya terkulai lemas dihadapan mobil tersebut, pingsan.


Pemilik mobil merasa bingung, dia merasa tidak menyentuh gadis itu sama sekali dengan mobilnya. Kenapa dia malah pingsan? Kemudian dia turun untuk melihat keadaan, khawatir akan disalahkan dengan kejadian tersebut.


Semua mata tertuju pada mereka. Beberapa bahkan sudah mengerumuni.


"Ketabrak gak tuh, Mas?" tanya seorang Ibu diantara kerumunan.


"Bawa aja ke rumah sakit," ucap Ibu lainnya.


Berusaha membangunkan, namun Neta tak kunjung membuka mata, akhirnya dia membawa gadis itu kedalam mobil. Dia yakin sekali tidak menabrak Neta, tetapi tetap aja nanti semua orang akan menyalahkannya.

__ADS_1


Dalam perjalanan, pria yang diketahui bernama Rendra itu tetap berusaha menyadarkan Neta.


"Mbak, bangun dong. Kan tadi gak saya tabrak juga. Masa gak sadar-sadar sih??!!" Rendra cemas, dia berfikir untuk membawa Neta ke rumah sakit.


Sebenarnya Neta tidak hanya pingsan, dia justru tertidur pulas di dalam mobil mewah tersebut. Harum parfum dari mobil itu membuatnya merasa rileks dan nyaman. Bahkan terdengar suara dengkuran dari mulut Neta, Rendra yang mendengar suara dengkuran malah bernafas lega.


"Gue kira udah mati nih cewek, kaga taunya dia ngorok," ucap Rendra sedikit kesal.


Tidak jadi membawa Neta ke rumah sakit, Rendra malah menbawa ke rumahnya.


Seperti seorang puteri tidur, yang tidak bisa bangun karena gangguan. Begitu juga Neta, yang kini digendong oleh Rendra menuju salah satu kamar yang berada di rumahnya.


"Hei Mbak, bangun!!!!" teriak Rendra tetap tak digubris.


Pindah ke sebuah kasur yang empuk malah membuat Neta merasa lebih nyaman lagi dari sebelumnya. Bahkan dia menarik sebuah bantal guling yang kebetulan berada di dekatnya.


Kesal melihat tingkah Neta, Rendra mengambil sebuah wadah dan sedikit air. Tanpa berpikir panjang, air di wadah itu kini berpindah ke wajah gadis yang masih menikmati tidurnya.


Wajah Neta basah, sekejap matanya terbuka dan pemandangan yang tidak kenal kini berada dihadapannya. Seorang Pria tampan berdiri sambil melipat kedua tangan didada.


"Siapa dia?? Loh aku dimana?? " tanya hati Neta melihat berkeliling.


"Kamu siapa? Ini dimana??" Neta menggaruk kepalanya, karena bangun dalam keadaan kaget seperti itu membuat otaknya semakin tidak stabil untuk berpikir.


Rendra setinggi 175 cm, berkulit putih bermata tajam. Dari wajahnya terlukis sepertinya dia adalah pria yang dingin. Setidaknya itu yang Neta rasakan dari tatapan pria tersebut.


"Aku Rendra Bachtiar."


"Kamu tidur di depan mobilku tadi, karena kamu tak kunjung bangun makanya ku bawa ke rumah." Rendra melanjutkan di tengah kesadaran Neta yang masih labil.


"Ini rumahmu? Oh ya sudah terimakasih, kalau begitu aku pamit," jawab Neta enteng, sambil berusaha melangkah keluar.


Rendra menarik jaket Neta, dan menghempaskannya ke atas kasur yang sedikit basah karena air yang tadi sengaja dia siram.


"Hai perempuan, semudah itu kamu datang dan pergi dalam kehidupanku?!" hardik Rendra.


"Terus kamu mau apa?!" Neta menjadi panik.


"Kamu harus membayarnya, banyak waktuku yang terbuang karena kamu." Rendra menatap Neta dengan tajam.

__ADS_1


Menelan ludah, khayalan Neta membawanya ke dalam fantasi liar. Sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


"Kamu lihat apa? Jangan bilang aku harus membayarnya dengan tubuhku!!" pekik Neta tak terima.


"Hahahahaha... Kamu kira aku tertarik dengan anak kecil macam kamu???!!" Rendra tidak bisa menahan tawanya ketika melihat gadis itu panik.


"Lalu aku harus apa?"


"Bersihkan kekacauan yang kamu buat, cuci sprei dan selimut itu. Ganti dengan yang baru!"


"Memangnya kamu gak punya pembantu?" ketus Neta tidak percaya.


"Heemm... Pembantu, boleh juga. Bagaimana kalau kamu jadi pembantuku??"


"Jadi pembantu?? Di rumah saja aku tidak pernah bekerja sama sekali," pikir Neta.


Tetapi hati kecilnya yang lain berkata, bahwa ini kesempatan emas dia butuh tempat tinggal. Menjadi pembantu bukan pekerjaan buruk, apalagi disaat begini.


"Berapa kamu mau membayarku?" Neta bersikap angkuh.


"Huh bayaran, kita lihat seberapa pantas kerja mu untuk mendapat bayaran," tegas Rendra.


Setidaknya, ketika dia sudah menemukan pangeran impiannya. Neta bisa pergi menjauh dan kembali kepada keluarganya. Tapi dimana dan kapan, dia pun tak tahu.


"Ok, aku mau. Tapi sekarang aku lapar, dimana aku bisa mendapatkan makanan?" tanya Neta angkuh.


Rendra melotot, dan menegaskan bahwa dia adalah penguasa di rumah ini.


"Apa kamu pikir, majikanmu akan memasak untukmu?!" Rendra sinis.


Neta menelan ludah, melihat wajah garang Rendra Yang serius. Membuat nyalinya ciut.


"Baiklah, aku mau ke kantor dulu. Sebelum saya kembali, semua kekacauan ini sudah kembali normal," jelas Rendra meninggalkan Neta di dalam rumah sendirian.


Melihat kepergian Rendra, kini Neta merasa bodoh. Masa iya, ada orang yang baru kenal meninggalkan dirinya sendiri di dalam rumah. Apa tidak ada sesuatu yang membuat si pemilik rumah itu cerita??


Persetan dengan itu semua, setidaknya Neta memiliki tempat bagus untuk bermalam hari ini, bahkan lebih baik dari kamarnya yang dulu.


Rendra sengaja membuat gadis itu tertahan, ada maksud tersembunyi di dalam sana. Yang entah sampai kapan akan bisa bertahan.

__ADS_1


__ADS_2