
Beberapa hari kemudian, kaki Neta terasa membaik. Iban sudah kembali ke rumah mereka di kampung. Syarat untuk tidak mengatakan apapun pada kedua orangtua mereka tetap dipegang teguh olehnya.
Dengan jalan agak tertatih karena masih terasa sedikit nyeri, Neta menghampiri Rendra yang sudah rapi di meja makan. Selama ini memang selalu pria itu yang menyiapkan makanan. Tak ada yang bisa diharapkan dari gadis tomboy yang lebih memilih lelah bekerja daripada memasak.
Sepiring nasi goreng berbentuk hati, tersedia dihadapan Neta. Sejak kedatangan Iban ke rumah, perubahan sikap Rendra membuatnya khawatir. Dia menjadi begitu lembut dan perhatian. Bahkan senyum selalu terpancar di wajah tampan pria itu. Kadang Neta bukannya senang, malah merasa geli sendiri.
"Hati?" tanya Neta bingung.
"Bagus kan, ini pasti bisa untuk menambah nafsu makan kamu," jawab Rendra dengan senyuman yang begitu tulus.
"Ooh, biasa saja." Neta mulai menghancurkan nasi goreng berbentuk hati dengan sendoknya.
"Kamu ini, gak ada lembut-lembutnya jadi cewek! Setidaknya jangan dihancurkan bentuk hatinya!!!" Rendra protes dengan nada yang cukup tinggi.
"Ya, kalau gak boleh dihancurkan, berarti gak boleh dimakan juga dong??" Neta tak kalah kesal malah semakin jadi mengacak-acak isi piringnya.
"Makanlah," ucap Rendra berusaha menahan emosi.
Mereka makan dalam diam, ada rasa canggung di antara keduanya. Seperti saran Iban, sepertinya Rendra harus bisa menahan diri. Gadis ini benar-benar selalu menguji kesabarannya.
Mungkin saat ini, memang dia yang hanya mencintai sendiri. Suatu saat dia yakin, Neta akan tunduk di hadapannya. Membayangkan saja sudah membuat Rendea bahagia, hingga dia tersenyum sendiri.
Melihat kelakuan Rendra, Neta merasa ada yang salah. Dia curiga jangan-jangan Iban membuat Rendra berubah. Atau jangan-jangan terjadi sesuatu di antara mereka?
'Homo??' Kata itu terbesit dalam benak Neta.
Berusaha melawan hatinya, Neta pun bertingkah aneh di depan Rendra. Beberapa kali dia berusaha membuang kata-kata itu dengan sepenuh hati.
"Kakakku normal, Iban kakakku normal. Dia tidak, berarti harus menjauhkan Iban dari dia," bisik Neta pada dirinya sendiri, sambil menatap tajam ke arah Rendra.
"Kamu kenapa?" tanya Rendra agak sedikit takut melihat tatapan Neta.
__ADS_1
Benak Neta terus bergejolak, batin dan logikanya terus bergulat. Merasa salah satu dari pendapat mereka adalah hal yang paling benar.
Pantas saja, Rendra menerima dia untuk tinggal di rumahnya dengan begitu tenang. Meski dia wanita, Rendra tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Apa mungkin memang dia tidak tertarik sama sekali dengan tubuh Neta yang lumayan?
Tapi dia begitu tampan untuk menjadi seseorang yang memiliki penyakit kelainan seksual.
"Aarggh.... Pusing!!" teriak Neta membuat Rendra kaget hampir menelan sendoknya.
"Kamu sakit? Kalau begitu, kamu tidak perlu bekerja hari ini." Rendra langsung mengambil keputusan.
"Hah? Enggak, aku cuma sedikit bingung aja. Apa kaa..." Sebelum Neta meneruskan perkataannya, terdengar sebuah suara wanita.
"Kak Rendra!" Suara itu memanggil dengan begitu lembut.
Seorang wanita muda, masuk ke dalam ruang makan.
Wanita itu terlihat jauh lebih cantik dari Neta, tubuhnya sintal dan tinggi, sehingga cocok sekali berdampingan dengan Rendra ketimbang Neta yang minimalis. Kaki jenjangnya di biarkan terbuka, agar semua orang tahu dia memiliki kaki yang indah. Rok jeans pendek melekat begitu serasi dengan atasan cardigan hitam agak panjang.
"Loh ada tamu?" wanita itu kaget melihat Rendra tidak makan sendirian.
Menatap sinis ke arah Neta, seolah merendahkan gadis itu.
Tidak mau memperdulikannya, Neta tetap menikmati sarapannya. Toh tidak ada yang aneh dari gadis itu selain genit dan bertubuh bagus.
"Itu siapa sih? Kok cuek bangat, kayak gak punya sopan santun." Wanita tersebut berkata manja dihadapan Rendra.
"Dia tamuku, untuk apa kamu ke sini pagi sekali? Sejak..."
"Sejak aku memutuskan hubungan kita dan memilih untuk menjadi seorang artis maksudmu?" Wanita itu menegaskan di depan Neta, bahwa dia pernah menempatkan dirinya sebagai orang penting di sisi Rendra.
Oh, pantas dandanannya terlalu terbuka gitu. Ternyata dia artis, dan Neta tidak mengenal sama sekali. Ini artisnya yang kurang tenar atau Netanya yang kurang update.
__ADS_1
Kali ini Neta menganggap dirinya batu, dia tidak akan menjadi pengganggu jika keduanya memulai pertengkaran, bahkan adu fisik sekalipun. Tak perduli.
Rendra sedikit kesal dengan penjelasan dari mantan kekasihnya yang terlalu berterus terang dihadapan Neta. Sudah lama, dia berusaha move on untuk menghilangkan rasa sakit yang diberikan Maya, kini dia kembali seperti orang mati lalu diberi kehidupan kembali.
"Kamu, sudah memilih jalanmu. Maka biarkanlah aku memilih jalanku." sinis Rendra berusaha tenang, dia tidak mau memberi kesan buruk di hadapan Neta.
Akhirnya Neta paham, mengapa Rendra bisa menjadi sakit kelainan. Mungkin karena dia kecewa dengan gadis itu. Akhirnya dia putus asa, dan tidak menyukai wanita lagi. Lalu dia akhirnya memilih Iban untuk menjadi pelariannya. Itu mulai masuk akal bagi Neta.
Tidak-tidak, itu tidak boleh dibiarkan. Iban adalah kakaknya tersayang, sebisa mungkin dia tidak akan biarkan Iban jatuh kedalam perangkap manusia laknat seperti Rendra ini.
'Tapi, biasanya temperamen dia buruk. Kenapa bisa jadi selembut ini pada wanita?' ucap hati Neta.
"Oh, aku ngerti," refleks Neta membuat Rendra dan Maya bingung.
"Maksud kamu ngerti apa?" Rendra penasaran.
"Ah, bukan apa-apa. Silakan kalian selesaikan masalah kalian. Anggap aja aku obat nyamuk, gak akan ganggu," sahut Neta kembali.
"Aku mau balikan, aku rindu kamu Rendra." Maya memberikan belaian di wajah Rendra yang kemudian langsung ditepisnya.
"Aku mau ke kantor. Ayo Neta kita berangkat." Rendra menarik tangan Neta.
"Aargggh....!!!"
Terasa sakit, tarikan tangan Rendra begitu kasar. Dia lupa jika Neta masih terluka.
Sadar, Rendra terdiam karena merasa bersalah. Tanpa banyak bicara dia menggendong kembali Neta, membuat Maya merasa kesal dan sakit hati.
"Rendra turunkan dia! Rendra, cepat turunkan gadis itu!!" hardik Maya yang terbakar cemburu.
Tidak memperdulikan sama sekali, Rendra membawa Neta masuk ke dalam mobilnya. Yang dia bingung, mengapa tidak ada pemberontakan sama sekali dari Neta? Biasanya gadis ini lebih liar, kenapa sekarang seperti kucing manis?
__ADS_1
'Tak usah melawan Neta, dia homo. Dan tidak tertarik padamu. Stabilkan isi hatimu, jangan mempermalukan dirimu untuk menyukai pria tidak normal.' Ternyata itu yang ada di dalam pikiran Neta.