
Waktu istirahat, jika cleaning servis yang lain memilih makan di sebuah warteg dekat kantor, atau membawanya dari rumah. Neta memilih sebuah Cafe tempat para pegawai elit berkumpul, dia tidak perduli dengan seragam yang dipakainya. Toh dia merasa membayar, jadi dia juga punya hak yang sama dengan mereka.
Kembali menjadi pusat perhatian, seorang cleaning servis manis duduk sendiri sambil menikmati makan siangnya. Tatapan pelanggan seolah merendahkan Neta dengan seragamnya. Ada beberapa justru kagum dengan keberaniannya untuk berkumpul di sana.
"Kamu makan di sini juga?" tanya seorang pria yang begitu Neta hapal Suaranya, Billy.
Pria itu memakai jas hitam dengan kemeja berwarna hijau tosca yang lembut. Aura tampan yang dia miliki seolah begitu bersinar dihadapan Neta.
"Pak Billy? Bapak sendiri?" Neta mencari dua sahabat Billy yang lain, Rendra dan Sandro.
"Iya, tadi Rendra masih ketemu investor asing. Sandro sedang keluar kota. Apa aku boleh duduk di sini?"
Bagai pucuk di cinta ulam pun tiba, tentu saja Neta menyetujuinya. Membuat semua mata kembali memandang rendah, dan mencap Neta wanita perayu bos.
"Kamu suka makananmu? Tempat ini terbaik di seputar kantor, kamu beruntung menemukannya," ucap Billy.
"Enak, tapi kayaknya ini gak cocok buat orang sepertiku ya?"
"Loh kenapa? Tempat ini cocok untuk siapa saja, asal bayar. Hehehe.." Billy tersenyum menggoda.
"Kamu gak liat, tatapan orang di sini? Apalagi ditambah kamu datang, mereka semua seperti mau memakanku," jelas Neta membuat Billy melihat berkeliling.
"Kamu terganggu?"
"Enggak juga sih, cuma bingung aja. Apa yang mereka lihat dan pikirkan, ketika orang seperti aku makan di tempat ini? Padahal keberadaan orang seperti kami tidak akan membuat mereka menjadi rendah," jelas Neta kembali.
'Gadis yang baik dan cerdas,' bisik hati Billy.
" Kalau menurut kamu sendiri bagaimana?" Billy penasaran.
" Aku sih bodo amat, gak perduli dengan semua pandangan orang lain. Selama aku tidak merugikan mereka kenapa enggak??"
"Tetapi kamu merugikan aku," kata suara lain yang ternyata Rendra, dia mendengar jelas ucapan Neta.
Menelan ludah, Neta tidak mau semua orang tau dia menumpang di rumah Rendra. Bukan yang lain dia pikirkan tetapi di hadapannya ada Billy sebagai target yang sudah dia kunci untuk menjadi calon suami pengganti tunangannya.
"Aku sudah selesai! Permisi bapak-bapak semua," pamit Neta yang bangun dari kursinya, dan ingin beranjak pergi kalau bisa menghilang dari sana.
Baru melangkah sedikit, tangan Rendra menariknya dan membuat Neta terjatuh di kursinya kembali. Tatapan mata yang lain bukan hanya kaget, tetapi amarah kebencian mulai terpancar.
"Mau kemana? Kenapa terburu-buru?" Rendra bertanya dengan suara mengintimidasi.
"Aku... Aku... Mau kerja," ucap Neta terbata.
"Aku mau kamu nraktir kita berdua," jelas Rendra.
"Hah?! Yang bener aja, kalian kan orang kaya. Masa aku yang bayarin??!" protes Neta.
"Aku tau kamu pasti punya banyak uang, apalagi kamu juga harus membayar aku untuk tempat..." Rendra belum selesai berucap, Neta lekas menutup mulutnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Ish, perempuan jalang. Berani-beraninya dia nutup tangan pak Rendra dengan tangannya yang kotor," ketus seorang pelanggan yang tidak suka dengan perbuatan Neta.
Mata Neta tepat menuju suara itu berasal, dia berniat akan membalas perbuatan orang itu dengan caranya sendiri.
"Iya aku bayarin, toh kamu tau kalau aku masih punya kartu sakti," jawab Neta pergi dengan angkuhnya.
Setelah dia membayar pesanan Rendra dan Billy. Gadis mungil itu kembali berjalan menuju mejanya yang tadi, sambil berjalan dia sengaja menyenggol sebuah gelas yang berisi lemon Tea ice milik wanita si penghina tadi. Air di dalam gelas tersebut jatuh, dan mengenai pakaian wanita tersebut.
"Oopps maaf, aku gak sengaja," kilah Neta dengan senyum menghina.
Wanita itu segera berdiri untuk menyibakkan pakaiannya yang basah dan menembus pakaian dalamnya. Semua mata tertuju kepada mereka. Rendra dan Billy tersenyum sendiri dari kejauhan mereka tak menyangka Neta mempunyai keberanian yang begitu mengagumkan.
"Kurang ajar kau, dasar Cleaning servis gak tau diri!!!" hardik perempuan tersebut sambil berteriak ke arah Neta.
Tak menjawab bentakannya, Neta malah memberi dia sebuah kecupan melalui tangannya lalu bergegas pergi meninggalkan Cafe tersebut.
Terpesona, keduanya terus memandang Neta. Di dalam hati mereka, ada sesuatu yang membuat Billy dan Rendra tergelitik. Mereka sepakat bahwa Neta memang berbeda dari gadis manapun.
Mungkin Neta tidak tahu, orang yang sedang membuat masalah dengannya adalah seorang asisten manager kesayangan. Sebelumnya tidak ada yang pernah berani melawannya, karena perlindungan dari atasan yang membuatnya selalu bertingkah sombong dan suka menindas.
❤️❤️❤️❤️❤️
Jam kerja berakhir, tak ada yang terjadi setelah itu. Hanya saja Neta menambah daftar panjang dari orang yang membencinya di sana.
Selesai mengganti seragamnya, Neta melihat Ibu yang kemarin dia bantu kini sedang berkeliling untuk mencari bantuan dari yang lainnya. Si ibu tidak mungkin meminta tolong kepada Neta kembali, dia sadar diri pasti akan merepotkan nantinya.
"Boleh?" Ibu bertanya ragu namun penuh harap.
"Boleh kok, tiap hari Ibu cari Neta aja. Kapanpun Ibu butuh, Neta siap bantu," jelas Neta.
Ibu yang memiliki nama Sumini itu merasa terharu, karena selama in dia bekerja tidak ada yang perduli dengannya. Bahkan mereka mulai menjauhi karena selalu merepotkan.
" Makasih ya Neng, semoga balasan yang baik untuk orang baik," doa Sumini sambil menggengam tangan Neta.
Sambil menunggu jemputan, mereka duduk bersama. Sumini bercerita jika dia menikah dengan seorang pria yang bekerja sebagai kuli bangunan, sang suami jatuh saat bekerja dan mengalami kelumpuhan pada tubuhnya sampai sekarang dia hanya bisa terbaring diatas tempat tidurnya.
Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki Sumini berprofesi sebagai tukang ojek pengkolan, dia telah menikah dan memiliki tiga orang anak. Sedang anak perempuannya, hanya seorang gadis tamatan SMP, kini dia membantu untuk mengurus ayahnya di rumah saat Sumini bekerja.
Seandainya punya modal, Sumini berniat pensiun dari pekerjaannya. Dia berniat untuk berdagang di rumah, agar dapat mengurus suaminya sendiri. Karena si anak perempuan akan segera menikah.
Neta terdiam, dia seperti sangat mengerti apa yang Sumini ceritakan. Jauh dikehidupannya, ternyata banyak orang memiliki konflik berbeda dan lebih berat darinya.
"Terimakasih sudah mau mendengar kisah Ibu, Neta gadis baik pasti jodohnya nanti orang baik," ucap Sumini diakhir ceritanya.
Mendengar ucapan jodoh, pipi Neta menjadi merah semu. Seandainya Sumini tahu kalau dia saat ini sedang berlari dari jodohnya sendiri.
" Aamiin, semoga Ibu juga dapat jalan terbaik, " balas Neta dengan doa juga.
Sumini kemudian pamit, karena anaknya sudah menjemput. Neta berpesan, agar dia tidak segan lagi untuk meminta bantuannya.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Neta termenung. Dia ingin membantu Sumini, tapi bingung harus bagaimana? Saat itu, Rendra melihatnya berjalan sendirian, seketika jiwa jahilnya terpanggil.
"DIIIN...DIINNNN!!!" Suara klakson mobil membuyarkan khayalan Neta.
Dia tahu siapa pemilik mobil itu, tanpa basa-basi dia mengetuk pintu mobil berkali-kali dan berharap segera dibuka oleh pemiliknya.
"Aku mau ikut!" Neta sedikit memaksa.
"Masuklah, aku juga mau mengajak kamu pulang bareng hari ini. Biar gak jadi satpam setiap hari karena kamu selalu telat pulang!" sindir Rendra.
Neta masih tetap terdiam, dia ragu untuk bicara kepada Rendra. Tetapi saat ini mungkin hanya dia yang dapat membantu.
"Aku mau bicara," ucap Neta tiba-tiba.
"Memang kenapa aku harus melarangmu bicara?"
"Kamu bisa bantu aku bilang ke Billy untuk membantu karyawannya?"
"Kamu tidak seharusnya ikut campur dalam kehidupan orang lain," jelas Rendra mengingatkan.
"Tapi aku bukan manusia, jika aku tidak bisa membantu sesamaku."
"Memang apa yang bisa Billy perbuat untukmu?" Rendra merasa penasaran mengapa harus Billy.
Neta bercerita tentang Sumini dan kehidupannya. Dia sudah tidak layak untuk dipekerjakan karena usianya itu. Namun yang dimau Neta, perusahaan tidak lepas tanggung jawab atasnya.
"Kamu tau jika pekerja sepertimu itu di kontrak? Tidak akan ada kompensasi, untuknya jika dia mengeluarkan diri," ucap Rendra meyakinkan Neta.
"Iya aku tau, tapi Billy itu pemilik perusahaan dia pasti memiliki hati yang baik untuk bisa membantu. Bilang padanya, hanya untuk Ibu Sumini saja," pinta Neta memohon.
"Billy tak akan mau melakukan itu," jawab Rendra singkat.
"Kenapa?" Neta penuh tanya.
'Ya soalnya yang punya perusahaan itu aku bukan Billy,' ucap Rendra di dalam hati.
"Kalau kamu tidak mau, biar aku yang bilang. Atau pakai uang tunanganku saja. Memberi Ibu Sumini 30% dari total tabunganku bukanlah masalah." Neta sudah putus asa.
"Kamu selalu mengandalkan uang itu. Katanya akan kamu kembalikan? Kok malah dipakai terus?" Rendra mulai emosi Neta selalu mengandalkan uang tunangannya yang tidak mau ia nikahi.
"Kok kamu yang marah? Toh pemilik uang ini aja, gak pernah marah kok aku mau pakai apa aja!" ketus Neta tak mau mengalah.
"Aku tidak suka aja, kamu selalu mengandalkan orang lain."
"Toh, aku pakai juga untuk membantu orang. Daripada kamu yang tidak mau menolong sedikitpun!!!"
"Kamu...!!" Rendra sudah kehabisan kata-kata.
Neta memang bermulut pedas, tetapi dia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Berdebat dengan Neta tidak akan bisa menang, apalagi berhubungan dengan orang lain. Kita lihat saja apa yang akan Rendra lakukan untuk Neta nanti.
__ADS_1