
Neta memandang ke arah pria yang duduk di belakang setir mobil, tepat di sampingnya. Beberapa menit lalu, Dean nama pria itu mengaku sebagai tunangannya dari kecil. Tidak bermaksud untuk langsung percaya, namun sekarang Neta memang membutuhkan seseorang untuk mengeluarkannya dari rumah Rendra.
Sebelumnya, ketika dia hendak keluar dari sana, Yura dan Yuri bersikeras untuk menahan Neta pergi. Berusaha sekuat apapun, kedua adik kembar Rendra begitu gigih melarangnya. Sampai pada akhirnya datanglah Dean mengaku sebagai tunangan Neta. Dengan berat hati keduanya melepas Neta pergi.
"Kamu tau dari mana kalau aku ada di sana?" tanya Neta berusaha menguji Dean.
Wajahnya memang cukup tampan, kepribadiannya hangat tidak seperti Rendra. Senyum dan lesung pipitnya menjadikan wajah biasa terlihat sempurna. Potongan rambut berponi layaknya cowok Korea, mata sedikit sendu. Pokoknya, dia emang oppa bangat deh.
Mendengar pertanyaan Neta membuat dia terasa gugup, namun berusaha ditutupi dengan senyuman maut miliknya. "Ayah kamu," ucapnya singkat.
'Ayah? Maksudnya Abahkah?' bisik hati Neta mulai ragu.
Sepengetahuan dia, hanya Iban yang benar-benar mengetahui keberadaannya. Jika Abah sampai tahu, maka dia adalah orang yang pertama bakalan ngotot untuk menjemput Neta.
"Oh, iya. Kita mau kemana sekarang?" tanya Neta lagi, berusaha mencari informasi.
"Aku akan mengantar kamu pulang ke desa. Tetapi untuk saat ini, aku akan membawa kamu ke rumahku. Eh, rumah kita nantinya." Dean memberi senyuman.
Meski dia terlihat sempurna namun tak sedikit pun membuat Neta tertarik, dia malah asyik sibuk chattingan dengan Iban. Karena penasaran dengan identitas dari tunangannya yang asli. Namun saat ini Iban masih bungkam, karena tak tahu jika Neta beradadalam masalah.
Mungkin Dean memang lebih menyenangkan dari Rendra, tetapi tidak membuat Neta nyaman. Pria ini terlalu narsis, dia selalu Membicarakan kehebatan dirinya sendiri. Bahkan beberapa kali dia melihat pria itu bercermin untuk merapikan rambut. Tidak tertarik sama sekali oleh pria yang ada si sebelah, sepertinya hati Neta sudah terpaut pada Rendra.
"Sayang, kamu kok diam saja dari tadi? Kamu lapar ya?" Dean merasa bingung apa yang harus dia lakukan.
Merasa diacuhkan, Dean mengambil ponsel yang berada di tangan Neta. Cepat-cepat Dinon aktifkan, terlalu bahaya jika nanti ada yang menghubungi gadis tersebut untuk sekarang.
"Hei, kamu mau ngapain? Kembalikan ponselku!" tegas Neta kesal.
"Nanti aku kembalikan jika kita sudah berada di rumah mu. Aku gak suka jika tunangan yang sibuk sendiri," jawab Dean dengan segera.
Sebagai pria bayaran untuk menghancurkan Neta, dia harus bersikap profesional. Apalagi dapat mangsa gadis cantik, yang terlihat masih orisinil. Bukan main senangnya, belum lagi bayaran menggiurkan dan akses keluar negri setelah misi selesai. Membuat dia menggila dan ingin segera menyelesaikan tugasnya.
Neta memandang curiga, dia tetap tidak percaya jika Dean adalah tunangannya. Apalagi ketika ponsel miliknya diambil paksa. Sekarang dia berpikir untuk bisa pergi dan menjauh dari makhluk tersebut.
*****
Tak perduli akan membahayakan diri, Rendra berusaha mencari jalan untuk bisa sampai ke rumah dengan cepat. Dia bingung, bagaimana Neta bisa begitu mudah percaya bahwa orang lain adalah tunangannya. Padahal fakta yang benar, jelas-jelas dialah tunangan yang sebenarnya.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi Neta, namun nomor Rendra telah diblokir sebelum dia bertemu dan pergi bersama Dean. Alasannya agar Rendra tidak mengganggu terus menerus.
__ADS_1
Pikiran Rendra jauh kemana saja, dia takut bahwa ada orang jahat yang sengaja ingin menyelakai Neta. Tetapi dimana gadis ini bisa memiliki musuh? Sedang dari kecil dia tinggal di desa. Siapapun yang ada di belakang semua kejadian, harus membayar dengan mahal. Apalagi jika terjadi sesuatu dengan Neta.
Tak beberapa lama, Rendra sampai di rumah dengan panik. "Yura!!" teriak Rendra tak sabar ingin menghajar adik laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Menjaga seorang kakak ipar yang umurnya lebih muda aja gak becus.
"BUG!" Sebuah tinju melayang ke wajah Yura, membuat bibirnya mengeluarkan sedikit darah karena luka.
"Kakak! Kenapa Yura di pukul???" protes Yuri yang tidak terima.
"Seandainya kamu laki-laki pun akan mendapat perlakuan yang sama dengan dia!" tunjuk Rendra kasar.
"Kenapa?" tanya Yura juga tidak terima tiba-tiba mendapat pukulan, menyeka darah di bibirnya.
"KENAPA? KALIAN PIKIR SENDIRI, BAGAIMANA BISA KALIAN CEROBOH MENJAGA KAKAK IPAR KALIAN!!!" Rendra begitu emosi dan berapi-api.
"Kamu yang bodoh! Kenapa dari awal tidak bilang bahwa Kamu lah calon suaminya??!!" gertak Yura kesal.
"Kamu!!" geram Rendra ingin melayangkan tinju ke arah Yura kembali, namun langsung dihalangi Yuri dengan sekuat tenaga.
"Kakak, maafkan adikmu yang bodoh ini. Tadi aku salah ngomong!!" Yura segera berlutut dihadapan Rendra.
Entah apa yang merasuki Yura hingga berani melawan perkataan Rendra tadi. Padahal jelas-jelas sebenarnya dia takut dengan kakaknya itu. Sifat keras Rendra dalam keluarga memang terkenal menakutkan.
Seketika handphone Yura berdering. Seseorang yang mengikuti Neta dan Dean memberi kabar, bahwa mereka ke arah selatan masih dalam kota.
Namun informan kali ini pintar, biasanya dia hanya dibayar sejuta oleh Yura. Kini meminta lima kali lipat dari biasanya. Merasa kere dan tak mampu membayar, dia menelan ludah karena bingung.
"Ada apa?" tanya Rendra melihat ekspresi Yura.
"Informanku minta lima juta sebagai bayarannya," ucap Yura jujur.
"Bilang sama dia, kakak bayar lima kali lipat jika dia bisa menemukan Neta." Rendra berkata dengan lantang, seolah uang mudah baginya.
"Kakakku mau bayar sepuluh juta," bisik Yura pada Informan yang menelepon.
"Kamu bohong, saya dengar nilainya jadi dua puluh lima juta," protes sang Informan.
"Iya, kamu dapat segitu tapi pastikan kakak iparku baik-baik di sana!" keluh Yura kesal yang gagal mendapat uang dadakan.
Rendra segera berangkat ke arah selatan, dan meminta Yuri untuk mengabarkan lokasi tepatnya jika sudah mendapatkan informasi lebih lanjut.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam, akhirnya Rendra mendapat kabar jika mereka telah sampai ke sebuah rumah di daerah selatan. Perumahan baru dan masih sedikit penghuninya.
Tanpa banyak mikir, Rendra segera tancap gas. Tak menunggu waktu lama, akhirnya dia sampai di rumah yang dimaksud.
Rumah itu begitu besar, dan tidak sulit untuk menemukan lokasi tersebut karena termasuk salah satu bisnis properti milik keluarganya, WESIGN GROUP.
Tak perlu permisi, Rendra langsung masuk ke dalam dan mendapat Neta tengah dibelai rambutnya oleh Dean. Terlihat di sana jika Neta tidak merasa nyaman sama sekali, dan berusaha menyingkirkan tangan pria itu.
"Tangan Mana??!" bentak Rendra dari belakang tempat mereka duduk, membuat keduanya kaget.
"Rendra!" Neta reflek menyebut nama orang yang dia cintai.
"Tangan mana yang kamu pakai untuk menyentuhnya?" sinis Rendra melihat tajam ke arah Dean.
"Woo... Tunggu dulu, kamu siapa?" tanya Dean tak mengenali Rendra.
"Gue tunangan aslinya. Kalau Lu gak bilang tangan mana yang lu pakai buat menyentuhnya, berarti siap gue patahin dua-duanya."
"Aarrggh...!!" teriak Dean saat kedua tangannya diputar Rendra dengan mudah.
"Lepas Rendra!! Lepaskan tunangan ku!!" bentak Neta tak terima.
Untuk sesaat Rendra melonggarkan putaran tangannya pada Dean. Tetapi tetap saja terasa kuat dan menyakitkan.
"Bukan Neta, bukan dia."
"Kamu kenapa sih?? Jelas-jelas dia tunangan ku!! Kamu tau apa??!!"
"Aku tahu segalanya. Karena aku, Rendra pratama adalah tunangan mu satu-satunya."
"PLAK!!!" Bukan percaya malah sebuah tamparan mendarat di pipi Rendra.
Karena kesal, akhirnya Rendra membuat pingsan pria yang dari tadi mengerang ke sakitan dengan satu pukulan.
"Tampar terus. Jika bisa membuatmu tenang dan merasa puas." Rendra menyerahkan diri dihadapan Neta.
Ini memang semua salahnya, dari awal tidak jujur. Selalu membuat Neta merasa kesulitan, tanpa berpikir apa resiko yang akan dia hadapi jika berada di sisinya.
Neta menangis, dia merasa dibohongi selama ini. Seandainya Rendra jujur, tidak akan pernah terjadi hal-hal menakutkan yang dia alami akhir-akhir ini.
__ADS_1
Melihat air mata jatuh dipipi Neta, Rendra semakin dekat dan memeluknya dengan erat. Beberapa pukulan Neta mendarat tubuhnya dia terima tanpa perlawanan. Dia merasa pantas mendapatkan itu semua. Untung saja dia tidak terlambat, atau akan menjadi orang paling menyesal di dunia.