
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Rendra untuk menghilangkan rasa penasarannya pada Neta yang dari tadi terdiam, kadang termangut sendiri.
Dengan tersenyum yang begitu manis, Neta menggelengkan kepalanya. Itu membuat Rendra lebih merasa takut lagi.
"Kamu tidak ingin bertanya siapa gadis itu? Dan apa tujuannya datang ke rumah?" Rendra kembali memberi pertanyaan.
"Enggak, lagipula aku tidak mau terlalu ikut campur sama urusan orang lain."
"Apa? Kamu selama ini dengan mudahnya selalu ikut campur urusan orang lain, kenapa giliran urusanku kamu gak mau tahu??!!" Rendra merasa tersinggung.
"Begini yang mulia, hamba hanya berani ikut campur ke dalam masalah orang lain jika menurut hamba tidak ada keadilan di sana. Untuk urusan yang mulia hamba belum mengerti jalan ceritanya. Lagipula untuk saat ini, rahasia yang mulia akan aman ditangan hamba. Permisi," ucap Neta pamit mengundurkan diri dan turun dari mobil bossnya.
"Rahasia? Rahasia yang mana, hei tunggu?!!!" teriak Rendra berusaha memanggil Neta yang sudah lumayan jauh dari mobilnya.
Bahkan sampai dia sudah bekerja pun, Rendra tidak mampu menangkap rahasia apa yang dimasuk Neta. Selama ini tidak ada rahasia yang dia sembunyikan dari Neta selain pertunangannya. Apa gadis itu sudah mengetahui tentang itu?? Perjodohan yang mereka jalani.
"Gadis itu benar-benar bikin kesal!" gumam Rendra.
❤️❤️❤️❤️
Kaki Neta yang masih terasa sakit, dia tidak bisa bekerja secara optimal. Maka kini, Rendra memerintahkan kepada Derry untuk membiarkannya untuk membersihkan ruang rahasia direksi, biasanya hanya senior yang dipercaya untuk membersihkan tempat itu. Entah apa yang sedang merasuki CEO mereka kali ini, sehingga membiarkan anak baru seperti Neta berada di sana.
Berjalan di lorong tempat dia terjatuh beberapa hari lalu, membuat dia sedikit takut. Pasalnya Neta belum terlalu pulih untuk menghadapi manusia seperti Mariana itu. Tapi harus bagaimana? Ini adalah jalan satu-satunya menuju ke ruangan tersebut, mau tidak mau dia harus melewatinya.
'Semua akan baik-baik saja,' Neta berusaha meyakinkan hatinya.
Ditambah ruangan itu tidak sesepi kemarin, karena ini masih dalam jam kerja dan orang-orang pasti ada di meja kerjanya masing-masing. Mariana tidak akan berani berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya di tengah keramaian.
__ADS_1
"Oh, kamu masih punya nyali untuk kembali ke sini?" suara yang ditakuti Neta terdengar tepat di belakangnya.
Sudah terlanjur basah, bertemu seorang musuh pantang untuk Neta mundur. Menghela nafas panjang, mencoba berusaha memberikan wajah terangkuh yang ia miliki, seolah tidak ada rasa takut di sana. Dengan tatapan sinis, Neta membalikan wajahnya.
"Oh, kamu? Rasa sakit yang kamu kasih kemarin bukan apa-apa. Buktinya aku masih kuat untuk bekerja." Neta begitu ketus menjawab, dia tidak akan membiarkan siapapun menjatuhkan dirinya.
Mendengar jawaban Neta yang begitu angkuh, Mariana mulai naik darah. Ingin rasanya dia merobek mulut sombong gadis dihadapannya.
"Jadi kemarin kamu baik-baik saja ya?"
"Heemm... Nama kamu siapa? Aku baru tau ada orang terpelajar yang jorok seperti kamu," ucap Neta merendahkan.
"Maksud kamu?" Mariana kaget mendengar ucapan Neta.
"Ada cabai terselip di sela gigimu. Hohoho
"Apa kamu bilang???" hardik Mariana mulai naik darah.
Ketika dia ingin melangkah maju untuk menjambak Neta, Billy datang memanggilnya. Entah kebetulan atau disengaja, yang pasti Neta merasa sangat bersyukur. Karena dia sadar tidak akan bisa melawan Mariana dengan keadaannya sekarang.
Neta segera pergi menghadap Billy, dengan rasa sakit dia berusaha berjalan seperti biasa. Agar Mariana dapat melihat bahwa dia tidak terluka sedikitpun. Padahal saat itu, ingin sekali dia menangis karena harus menahan rasa sakitnya.
"Neta, tolong bantu aku mencari sebuah dokumen penting untuk rapat nanti." Billy meminta tolong dengan melebarkan senyum yang membuat Neta lupa akan lukanya.
"Baik pak, saya coba." Neta mengikuti Billy menuju ruangannya.
Sebuah papan bertuliskan Chief Operating officer atau yang lebih dikenal dengan wakil direktur divisi operasional internal perusahaan, dengan mengikuti nama Billy Affandy. Terpasang di depan pintu yang terbuat dari kayu mahoni.
__ADS_1
Ruangan Billy cukup bersih, sebagai seorang pria dia menata ruangan itu dengan cukup baik. Semua buku dan dokumen terpajang rapi di Rak buku yang tak jauh dari tempat duduknya. Sebuah sofa kulit berwarna coklat pekat begitu kontras membuat ruangan jadi terasa hidup.
Neta tak mengerti, di tengah semua kerapihan yang ada. Sepertinya Billy tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari sesuatu yang dia butuhkan. Karena orang seperti dia akan lebih berhati-hati untuk meletakkan setiap barang penting.
"Dokumen seperti apa yang anda cari?" tanya Neta sambil mencuri pandang ke arah seluruh ruangan.
Billy terduduk di sofa kulit, dengan wajah yang begitu menyejukan.
"Duduklah, kamu gak perlu cari apa-apa," pinta Billy mempersilakan Neta untuk duduk.
"Terus maksud kamu panggil aku apa?" Neta merasa kebingungan.
Seperti orang bodoh dia hanya berdiri, dan tidak mau duduk sebelum mendengar penjelasan dari Billy.
"Aku tau kamu sedang ada masalah dengan Mariana, makanya aku panggil kamu ke sini. Aku beritahu kamu, lebih baik kamu menjauh darinya. Karena dia adalah asisten kesayangan milik Pak Dani, pamannya Rendra."
"Terus kalau kesayangan, dia bisa seenaknya gitu berbuat apa saja?"
"Bukan begitu, aku takut karena kamu hanya seorang Cleaning service di sini. Kamu gak akan punya kekuatan apa-apa untuk melawannya. Lebih baik kamu menghindar." Billy begitu serius, sepertinya Mariana yang dimaksud sudah pernah memakan tumbal.
Neta berpikir sejenak, apa yang dikatakan Billy benar. Tetapi kalau terlalu diam itu juga tidak baik, mau sampai kapan dia membully semua orang yang dia tidak suka. Memang perusahaan ini milik bapak moyangnya.
"Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kamu tidak akan bisa melawannya meski kamu dekat dengan Rendra sekalipun. Karena di sini kedudukanmu terlalu lemah," ucap Billy yang semakin khawatir melihat Neta yang tidak ada takutnya.
"Lagian siapa yang mau mengandalkan Rendra. Aku bisa melawan Mariana dengan tanganku sendiri, jika dia berani macam-macam. Ok, kalau gak ada yang perlu dibantu. Saya permisi dulu," pamit Neta pergi keluar dari ruangan Billy.
__ADS_1
Di dalam, Billy terus menghela nafas. Ada rasa simpatik yang dia tujukan kepada Neta. Ada juga perasaan bangga, karena mengenal gadis yang luar biasa sepertinya. Jantung Bilky kini berdetak tidak karuan, mungkinkah perasaan dia kepada gadis itu hanya sebagai atasan dan bawahan? Entahlah dia pun bingung mengartikannya.