SOUL MATE

SOUL MATE
Bertahan


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu setelah perpisahan mereka, Neta masih tetap duduk di depan pintu lift, entah berapa lama lagi dia harus menunggu Rendra untuk datang ke sana agar dia bisa pergi keluar.


Baterai di handphone Neta pun sudah menunjukkan kelelahan. Peringatan tiga puluh persen sebagai peringatan awl agar dia segera mencarikan pasangannya, sebuah chargeran.


Tak beberapa lama, pintu lift terbuka. Ada yang baru saja datang, entah siapa Neta pun tak tahu. Sudah lelah duduk di bawah, akhirnya ada yang tahu keberadaannya tanpa dia memberi tahu.


"Neta? Kamu ngapain di sini? Terus Rendra mana?" tanya seorang pria yang keluar dari lift dan ternyata adalah Billy.


"Ada di dalam, aku mau keluar tapi gak tau caranya."


"Loh memang Rendra gak kasih tahu kamu? Lagian ngapain duduk di sana? Duh, ayuk berdiri." Billy memerintahkan gadis itu untuk segera berdiri.


Bukannya tidak mau berdiri, entah karena terlalu lama duduk dengan posisi bersila, kaki Neta jadi terasa sedikit keram. Semua jadi begitu kaku dan bergetar. Mau minta tolong, dia malu.


"Kok diam? Bangun, di bawah lantainya kotor loh!" Billy kembali memerintah.


"Anu, apa tuh namanya. Gimana ya ngomongnya," ucap Neta malu sendiri.


Billy paham ketika melihat Neta menggebuk-gebukan kakinya sendiri. Tanpa banyak bicara, Billy lantas menggendong Neta untuk bangun.


Neta merasa shock di angkat Billy begitu saja


Wajah tampan pria itu kini terasa begitu dekat. Dia begitu merasa senang, saking senangnya dia sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kamu kenapa?" Billy merasa bingung dengan tingkah Neta.


"Malu," jawab Neta singkat.


Billy hanya tersenyum mendengar ucapan Neta. Tak jauh dari sana, diletakkannya gadis tersebut di sebuah sofa panjang. Tak ada seorang pun selain mereka.

__ADS_1


Setelah meletakkan Neta, Billy pergi mencari keberadaan Rendra. Namun tidak ada seorang pun di sana kecuali mereka.


Setengah jam setelah pertemuan Neta dan Rendra, rupanya pria itu sudah keluar melalui sebuah pintu depan di lantai yang sama dan berhubungan dengan beberapa ruang pekerja lainnya.


Rendra melupakan keberadaan tunangan yang telah dia bawa bersamanya. Dia benar-benar tidak ingat sama sekali, ditambah panggilan dari manager proyek di sebuah lokasi mengalami kendala. Maka ia segera pergi saat itu juga.


"Mungkin Rendra sudah keluar lewat pintu depan sana," ucap Billy sambil menunjuk sebuah dinding yang di belakangnya adalah pintu masuk depan.


"Rendra bodoh itu melupakan aku," keluh Neta kesal.


"Mungkin dia fikir kamu sudah keluar."


"Bagaimana bisa, masuk ke ruangan ini saja harus pakai sandi. Masa aku bisa keluar dari sini?!!" Neta semakin kesal.


"Ya sudah, yang penting aku sudah ada di sini. Jangan marah-marah lagi, ya."


" Gimana kakinya? Sudah enakan?" Billy mengalihkan pembicaraan.


Dia takut terbuai dengan senyuman Neta, yang bisa menjadi candu siapapun yang melihatnya.


Neta mencoba menggerakkan kaki yang sempat kaku, semua sudah normal seperti biasa. Sepertinya dia akan baik-baik saja.


"Sudah gak apa-apa. Aku mau keluar dari sini, bisakah kamu bantu?"


"Kamu mau keluar lewat mana? Pintu normal atau lift yang tadi?" Billy memberi tawaran.


"Pintu normal aja, tapi pakai sandi juga kan?"


"Pastilah 2506," ucap Billy segera memberi tahu Neta password pintu masuk tersebut.

__ADS_1


Angka-angka tersebut seperti tidak asing di dengar Neta, tapi apa ya? Sudahlah yang pasti dia sudah tau password masuk ke ruangan ini. Kalau seandainya nanti dia jenuh, Rendra pasti mengizinkan dia untuk istirahat atau sekedar bermain di sini.


Di rumah Rendra saja tak ada tempat yang terlarang untuk Neta, termasuk kamarnya sendiri. Walau begitu dia tidak pernah songong untuk masuk ke sana, kecuali dalam keadaan tidak sadar.


Neta izin pamit kepada Billy yang memilih tinggal untuk menunggu Rendra.


Di depan pintu, Neta menekan angka yang diberikan Billy. Tanpa susah payah, pintu langsung terbuka. Di sana lantai para manager dengan pegawai terdekatnya. Lebih sepi ketimbang lantai lobby utama, maklum saja Neta baru sekali ini jalan-jalan ke sana.


Ketika dia sedang berjalan mencari Lift umum, seorang wanita mengenalinya. Dia adalah asisten manager yang kala itu di siram Neta dengan cara menyenggol air minumnya.


Wanita tersebut langsung berfikir untuk membalas dendam kepada Neta saat itu juga. Neta yang mudah lupa dengan wajah orang lain jika hanya sekilas tak tahu, ada seseorang yang ingin menyakitinya.


Mariana, nama wanita itu. Dia tengah bersiap menghadang kaki Neta dengan kakinya.


Tanpa curiga, dan tidak fokus dengan jalan. Rencana Mariana berhasil. Neta terjatuh dengan lutut menyentuh lantai dengan begitu keras.


"ADUH!" teriak Neta refleks ketika kakinya hendak coba diangkat untuk berdiri.


"Ooh... Sakit ya?? Kasihan, gak ada boss besar ya yang bisa bantu? Huh, sokoorr!!!" ketus wanita itu sambil tertawa dan meninggalkan Neta sendiri, dengan posisi masih berlutut.


Kini Neta sadar, jatuhnya karena disengaja dan perbuatan perempuan tadi. Namun itu siapa, dia belum paham benar permasalahannya dimana.


Neta menggulung celana seragamnya, untuk melihat apa yang membuat lutut kanannya begitu sakit. Ketika dibuka, sebuah tanda biru keunguan terpampang jelas di sana, lebam dan sedikit bengkak.


Dengan susah payah Neta berusaha berdiri, dia bingung mau minta tolong kepada siapa? Agak tertatih Neta berjalan, dia berpikir untuk menyembunyikan permasalahan ini dari Rendra, Billy, maupun Sandro. Karena sadar sebelumnya ia selalu merepotkan ketiganya.


Neta harus kuat, jika selalu meminta tolong untuk orang lain. Maka tak ada lagi bagian darinya untuk meminta tolong. Begitulah prinsip Neta, yang sebenarnya tidak mau menyusahkan orang lain hanya untuk kepentingan pribadinya.


Tak ada air mata, Neta terus berjalan dengan tersiksa. Tak ada orang yang memperhatikannya, karena sebagian besar karyawan sedang beristirahat makan.

__ADS_1


__ADS_2