
Yuri pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman, meninggalkan Yura yang masih terus tersenyum bodoh mengagumi kecantikan Maya. Sedang Neta sendiri terus berdiri memperhatikan gerak gerik dari sang artis, yang belum dilihatnya sama sekali di televisi.
Sebuah hidangan yang hangat pasti cocok untuk minuman pagi hari, dengan sedikit bubuk lada dan cabai akan membuat rasanya semakin panas apalagi di cuaca dingin kek gini ye kan?? Sepuluh menit kemudian, jadilah minuman jahe ala Yuri, minuman yang sering dia hidangkan jika masih ada cowok yang nekat datang ke rumah meski sudah ditolak.
Dengan wajah tanpa dosa, Yuri gadis yang memiliki tubuh bak model profesional itu pun membawakan minuman ala-ala untuk dihidangkan kepada tamunya.
"Ini kak," ucap Yuri dengan wajah manis nampun hatinya tertawa bengis.
"Terimakasih Yuri, aku minum ya." Maya mengangkat gelas dan mulai menyeruput minumannya.
Meski agak terasa pedas dan pahit, Maya berusaha menelan minuman tersebut. Setidaknya dia menghargai apa yang disediakan Yuri. Calon adik ipar versinya.
"Agak pedas, ini minuman apa ya?"
"Oh itu minuman jahe merah yang diimpor dari Suriname. Emang rasanya, agak pedas gimana gitu. Tapi segerkan???" tanya Yuri mencoba menahan tawanya.
'Habiskanlah, maka dia akan langsung bereaksi!" bisik jahat Yuri di dalam hati.
Mendengar apa yang Yuri katakan membuat Yura sadar, bahwa minuman itu menimbulkan efek samping pada lambung. Bisa mencret tiga hari tiga malam kalau sampai diminum Maya.
Berusaha menyelamatkan, Yura berlari kecil untuk mengambil minuman di tangan Maya. Namun apa daya, Yuri paham maksud kakaknya. Sebuah kaki telah terpasang untuk menjegal langkah Yura, karena kehilangan keseimbangan dia terhuyung ke depan dan menabrak minuman yang dipegang Maya.
'PRANG!!'
Gelas dan tatakannya hancur terjatuh ke lantai, airnya mengenai pakaian Maya spontan membuat gadis itu berdiri dan merasa kepanasan.
"YURA?!!! APA-APAAN KAMU??!!!" teriak Maya berusaha mengibas bajunya.
"Maaf kak, tadi aku gak sengaja. Minuman tadi....," Sebelum Yura melanjutkan ucapannya, Yuri keburu menutup mulut Kakaknya.
Neta melihat kejadian itu tertawa tidak berhenti, tanpa harus turun tangan ternyata Maya sudah mendapat ganjaran atas kesombongannya.
"Kalian?!!! Apa yang kalian tertawakan??? Bajuku basah, aku mau baju kamu sebagai gantinya!!!" ucap Maya sambil menunjuk Neta dengan kesal.
"Loh kenapa harus aku? Minuman itu bukan aku yang tumpahkan, kenapa aku yang harus berkorban!" ketus Neta seketika berhenti tertawa.
__ADS_1
"Kurang ajar berani kamu sama aku??!!!"
Tangan Maya mulai melayang, dengan sangat cepat sebuah sendal terbang mengarah wajah Maya.
"Boeeng!!" Jatuhnya sendal mengenai wajah Maya.
Pelakunya tak lain adalah Yuri, dia tidak akan membiarkan Maya menyentuh kakak iparnya.
"Kalian!!! Kalian sekongkol ya melakukan ini??!! Aku akan bicara ke Media kalau kalian bekerjasama untuk membullyku!!" ancam Maya mulai membuka handphone nya.
"Lapor sana, artis gak terkenal aja belagu!!!" Yuri menantang dengan lantang.
Neta berpikir, jika Maya melakukan hal itu bisa membuat keadaan kacau. Keberadaannya bisa diketahui khalayak banyak termasuk tunangnnya. Tidak, itu sangat berbahaya. Apalagi saat ini, dia merasa nyaman bersama Rendra sebagai cinta pertama yang baru ia rasakan.
Dengan lembut Neta menepuk punggung Yuri, dia menggeleng pelan menandakan ketidak setujuannya untuk membuat Maya makin menggila.
"Baiklah kamu mau apa?" tanya Neta dengan nada malas.
"Aku mau pakai bajumu, dan membuktikan bahwa aku jauh lebih cantik daripada kamu!"
"Berisik!! Cepat dimana kamarmu?" Maya bicara sambil berjalan ke atas.
"Kamu..!!" Yuri hendak menyusul Maya namun dilarang oleh Neta.
"Biarkan dia dapat apa yang dia mau, kita tak usah menggubrisnya."
"Tapi Kak. Ini semua salah Yura!!!" Yuri menatap Yura dengan tatapan seperti beruang yang sedang lapar dan ingin menelannya bulat-bulat.
Mengikuti Maya ke atas, Neta tidak melerai pertengkaran kedua kakak beradik kembar tersebut. Baginya untuk saat ini Maya lebih membahayakan ketimbang pertengkaran mereka yang biasa terjadi tiap satu jam sekali.
Maya mulai mengacak-acak pakaian Neta, dia berpikir gadis ini adalah gadis kampung. Tetapi kenapa dia memiliki banyak pakaian dengan branded terkenal dan harga yang mahal. Membuatnya semakin penasaran, siapakah gadis ini sebenarnya?
Semua pakaian Neta terlihat modis dan mahal. Bagaimana tidak? Jika Rendra selama ini selalu mementingkan keperluan calon istrinya, meski dulu mereka tidak saling mengenal. Ilhamlah sebagai perantara jika dia butuh mengetahui ukuran pakaian Neta.
Sebuah gaun hitam dengan batu swarovski, terlihat begitu anggun dan mewah. Gaun yang dibelikan Rendra saat dia ulang tahun kemarin, baru dicoba sekali saat hadiah itu datang. Dan tidak pernah dipakai Neta Setelahnya. Karena agak sedikit panjang, juga tidak ada moment yang tepat untuk memakainya. Lagipula dia tidak terlalu suka memakai gaun.
__ADS_1
"Seleramu bagus, aku mau coba yang ini. Atau lebih tepatnya aku mau ambil yang ini!" tegas Maya tanpa rasa malu.
"Ambil saja kalau mau, toh aku juga tidak suka." Neta menjawab dengan jujur.
Setelah memilih, Maya pergi ke kamar mandi lantai dua rumah Rendra. Membayangkan wajah mantan pacarnya yang begitu kaget karena ternyata dia memang lebih cantik dari Neta. Beberapa make up dipertebal, seolah siap untuk pergi ke pesta. Gaunnya memang lebih cocok dipakai Maya.
Neta kembali ke kamarnya, untuk membereskan kekacauan yang dibuat Maya. Bahkan dia sampai tidak tahu jika mobil Rendra sudah sampai ke rumah.
Maya yang sadar dengan kedatangan Rendra, segera keluar dari kamar mandi. Dia rapikan rambutnya ke samping, tampilannya kini benar-benar seperti putri dalam dongeng. Yura saja sampai tidak sadar jika seluruh badannya masih di pukuli Yuri saat melihat Maya turun dari tangga dengan anggunnya.
"Apa-apaan ini??!!!" bentak Rendra yang melihat seluruh kekacauan yang ada.
Pecahan gelas dilantai lengkap dengan airnya, Si kembar yang sedang berkelahi, dan ditambah gaun milik sang tunangan dipakai Maya. Rendra hafal benar gaun tersebut, karena dia pesan langsung dari perancang terkenal langganan keluarganya.
Yura dan Yuri berhenti seketika, bahkan mereka juga semoat berhenti bernafas karena saking kagetnya. Maya malah semakin gila, berlenggak lenggok sambil melambaikan tangan ke arah Rendra.
"Buka!!" teriak Rendra kepada Maya.
"Tapi bukankah baju ini cocok denganku??" Maya kecewa dengan reaksi Rendra.
"Baju itu gak cocok sama sekali, sekarang aku bilang buka ya buka!!" Suara Rendra semakin keras membuat Neta yang sedang rapi-rapi berlari keluar.
"Kenapa kamu kasih baju itu ke dia??" tanya Rendra dengan nada emosi.
'Loh, kenapa dia marah? Kan itu juga bukan baju pemberiannya,' ucap hati Neta yang tidak sanggup ia keluarkan karena takut dengan tatapan Rendra.
"Bajuku basah ulah adik-adikmu. Aku meminta ganti rugi dengan memakai pakaiannya." Maya membela diri.
"Kamu bisa pakai punya Yuri atau Yura. Tetapi tidak pakaian milik Neta. Sekarang buka atau aku suruh Yuri untuk menelanjangi kamu!"
"Cckk... Iya aku ganti." Maya berlari dengan merasa sedih, dia tidak berani jika Rendra sudah mengancam.
Akhirnya dia membuka gaun milik Neta, mengganti lagi pakaian basahnya dan meninggalkan gaun tersebut di lantai luar toilet. Dengan berderai air mata, Maya berlari menuju mobil tanpa berpamitan.
Yura begitu sedih melihat Maya, padahal niatnya dia ingin menenangkan gadis itu. Tetapi tatapan Rendra lebih menakutkan dari busur panah yang sudah terarah ke tubuhnya. Dia tidak berani, karena takut lapar.
__ADS_1
Neta yang merasa kesal karena juga dibentak Rendra memilih diam dan kembali ke kamarnya. Yuri begitu senang semua kembali tenang, meski beberapa wajah terlihat suram dan menegangkan dia tidak perduli. Yang penting hatinya senang.