
Masuk ke dalam lift, Neta menekan tombol lantai paling atas. Sebelum pintu lift tertutup sebuah kaki menahannya agar terbuka kembali. Tersembul wajah Billy, dia berhasil mengejar Neta di detik terakhir tanpa sepengetahuan Sandro dan Rendra.
Pria itu memang benar-benar kece dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya. Badannya tidak lebih tinggi dari Rendra, tetapi postur tubuhnya sesuai dengan tinggi badan yang dia miliki. Di tambah pesung Pipit di wajahnya membuat dia terlihat menjadi pria yang manis.
Neta menjadi kaku seketika, seorang pria idamannya berada di depan mata. Dia bingung dengan apa yang harus dilakukan ketika sedang berdua di dalam lift.
Billy berusaha menjadi pria berwibawa, dengan tidak langsung berasa-basi dengan Neta.
Suasana canggung diantara keduanya saat berdua di dalam lift, membuat Neta mengeluarkan keringat dingin.
"Ehm!" Billy berusaha mencairkan suasana.
"Neta, kamu mau ke lantai atap?" tanya Billy berbalik memandang Neta.
Neta memang terlihat seperti anak sekolah dengan postur tubuh dan wajahnya yang begitu sesuai.
Merasa diperhatikan, Neta tidak berani menatap Billy secara langsung. Wajahnya tetap tertunduk. Padahal ini kesempatan besar untuknya bisa menatap Billy dengan lama.
"I... Iya pak," jawab Neta dengan terbata
Padahal sebelumnya dia tidak begitu canggung saat bertemu Billy. Kenapa sekarang malah jadi lain rasanya. Ada rasa bersalah dalam hati Neta, bahkan tiba-tiba kecupan Rendra kemarin membuat pikirannya semakin kacau.
'Rendra sial, kenapa harus muncul bayangan dia saat ini?' bisik hati Neta tak terima.
"Apa yang akan kamu lakukan di sana? Bukankah di sana hanya gudang penyimpanan?"
"Ah, iya bener pak. Ada yang perlu saya kerjakan di sana." Neta menjawab apa adanya, masih dengan perasaan bersalah dia menatap Billy.
__ADS_1
Kecupan dari Rendra meski hanya di pipi, terasa begitu menyiksa, seolah tidak mau pergi bahkan bibir Rendra di pipinya seolah masih menempel setiap waktu. Neta jadi merasa telah berkhianat bahkan selingkuh di belakang Billy.
Mendengar ucapan Neta, Billy merasa curiga dengan jawaban Neta. Setau dia yang di tempatkan di atas adalah seorang pria, bahkan karena sesuatu hal pria itu sengaja diasingkan di sana. Apakah mungkin ada orang yang menyuruhnya ke sana?
"Adakah yang menyuruh kamu ke sana?" Billy bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Merasa dipojokkan, Neta merasa jengah dengan pertanyaan Billy. Dia tidak ingin menjawab dan berusaha menghindar, kebetulan lantai tujuan bosnya sudah sampai. Dengan segera Neta mendorong Billy ke luar agar dia tidak menginterogasinya terus-menerus.
"Bapak sudah sampai, silakan turun. Dan sampai jumpa!" Selesai mendorong Billy keluar Neta buru-buru menutup pintu liftnya.
"Fiuh!" Akhirnya dia baru bisa bernafas lega.
Baru kali ini ada cleaning service yang berani mendorongnya. Tetapi tidak membuat Billy marah dia malah tersenyum, Neta memang gadis yang luar biasa.
Merasa khawatir, gudang itu pekerjaan berat untuk seorang wanita. Apa dia bisa melakukan itu? Sepertinya Rendra harus tau, kalau tidak Billy takut Rendra akan marah karena tidak bisa mencegah Neta ke sana.
❤️❤️❤️❤️❤️
Neta memasang masker mulut dan hidung yang sebelumnya diminta dari gudang. Dia berfikir tidak seharusnya sesama manusia saling mengintimidasi dan merendahkan yang lain.
Kalaupun dia memang memiliki penyakit yang berbahaya, bukankah lebih baik mensuport orang tersebut supaya dia memiliki semangat hidup. Ketimbang kita menjauhinya.
Berjalan menuju suara batuk, Neta melihat-lihat pekerjaan apa yang bisa dia bantu di sana.
"Hai pak Tio!" sapa Neta ramah saat melihat pria itu tengah berdiri melipat kardus.
Neta memang mengerti sopan santun, dia memanggil semua senior yang jauh lebih tua dengan sebutan bapak. Kecuali yang masih seumuran dengannya semua dipanggil Mas.
__ADS_1
Tio merasa bingung, untuk apa gadis kecil itu mencarinya. Apa dia sedang terkena masalah karena kejadian tadi pagi? Rasanya tidak, dari ekspresi wajahnya meski tertutup masker, tidak terlihat rasa kecewa sedikitpun.
"Kamu mau apa di sini?" tanya Tio heran dengan suaranya yang berat.
Ketika bicara pria itu selalu menutup mulutnya, sadar diri jika memang penyakitnya menular.
Sebuah masker lain yang masih bersih, Neta serahkan di atas tumpukan kardus.
"Kalau bapak pakai ini, tidak perlu repot untuk menutup mulut saat bicara," jelas Neta dengan memilih kata yang tepat agar si Bapak tidak tersinggung.
"Tidak usah perdulikam saya seperti yang lain. Kamu akan tertular kalau bersama saya." Tio paham maksud Neta.
Sebenarnya memakai masker sudah pernah dicoba, dan ternyata membuat dirinya semakin sesak. Sejak saat itu dia tak pernah mau memakai kembali.
"Kenapa? Justru aku itu beda dengan yang lain. Aku mau membantu bapak di sini, apa yang aku bisa lakukan?" Neta tidak menghiraukan ucapan Tio.
Neta paham dia telah membuat pria itu tersinggung, jadi untuk saat ini sepertinya dia memang harus diam dan tidak terlalu banyak Bertanya.
"Kamu bisa bawa forklift?"
"Forklift itu benda apa ya?" Neta baru pertama kali dengar kata tersebut, jadi wajar jika jiwa noraknya muncul.
"tuh..." Tio menunjuk sebuah forklift cukup besar untuk memindahkan tumpukan kardus sendiri.
"Hah?? Itu yang namanya forklift? Aku jelas aja gak bisa," jawab Neta shock.
"Kalau begitu kamu tidak bisa membantu!" ketus Tio terpaksa.
__ADS_1
Dia memperlakukan Neta agar tidak mau menolongnya lagi. Tio takut akan menambah beban orang lain lagi jika itu terjadi.
"Kalau gitu gimana kalau aku bantu melipat kardus ini?!" Neta menawar dengan pekerjaan yang lebih ringan.