
Tak mampu lagi untuk bersembunyi, Neta menyerah dihadapan kakaknya. Rasa bersalah terus mendera hati, tak ingin membuat khawatir siapapun juga tetapi dia malah terlihat lemah.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Iban, berpura-pura tidak mengetahui bahwa dia jugalah sebagai tersangka utama yang membuat Neta berada di sana.
"Aku... Aku... Kerja. Hehehe!!" Tawa Neta terdengar dipaksakan.
Percuma dia membuat alasan, Iban tidak akan mudah percaya begitu saja.
"Di rumah ini? Sebagai apa? Jangan-jangan kamu dan dia...?"
"Apaa??" tanya Neta dan Rendra bersama.
"Ciye kompak," ledek Iban melihat wajah keduanya tertunduk malu.
Dada Neta terasa berdesir kala itu, mungkinkah dia berpindah kelain hati dengan mudahnya? Dari Billy ke Rendra?
Tunggu, ada rasa penasaran yang melebihi arti dari rasa di hatinya. Bagaimana Iban bisa ada di rumah ini.
"Kamu, ngapain kakak ada di sini?" sinis Neta penuh dengan rasa curiga.
"Oh, itu... Anu... Apa tuh ya..." Iban langsung lost connection, ngeblang karena kaget.
"Proyek!!" seru Rendra membantu Iban, sahabatnya.
"Oh iya, proyek." Iban mengiyakan.
__ADS_1
Iban menjelaskan kepada Neta, tentang bisnis konveksi yang dia punya di kampung halaman mereka adalah berkat campur tangan seorang investor muda. Rendra lah pria tersebut.
Semakin dijelaskan, Neta semakin mau tahu. Darimana dia bisa kenal Rendra, lalu sejak kapan mereka berpikir untuk memulai bisnis. Apa Mama dan Abah tau tentang kisah mereka berdua. Banyak pertanyaan yang membuat Rendra dan Iban merasa diadili oleh seorang gadis kecil polos di hadapan mereka.
Iban menelan ludah, kalau terus begini skenario mereka akan benar-benar terbongkar.
"Bro, katanya mau ngajak gue liat-liat kantor lu. Ayuklah kita jalan SEKARANG!" Iban mempertegas kata terakhir agar Rendra mengerti kodenya.
Sempat bingung, karena dia tidak pernah menjanjikan itu sama sekali. Akhirnya Rendra paham setelah serangan kaki bertubi-tubi menginjak kakinya.
" Oh, iya. Ayo kita jalan!" ucap Rendra dengan begitu kaku.
Sebelum keduanya melangkah, Neta berhasil menarik kerah baju Iban dan Rendra. Dia sadar keduanya sengaja Menghindar dari pertanyaan yang ada.
"Ini hari Sabtu, kantor libur. Kalian mau pergi kemana!!??"
Melihat keduanya pergi, tak ada lagi yang bisa Neta lakukan untuk mencegah. Meski sedikit jijik, akhirnya dia membiarkan Iban dan Rendra pergi meninggalkan dia di rumah.
"Bro kita sebenarnya mau kemana sih?" tanya Rendra bingung.
"Lah tadi lu yang ngajak gue. Gimana si?"
"Abisnya gue liat, lu pengen bangat menghindar dari ade lu itu. Ada apa sih?"
"Asal lu tau ya, ade gue itu udah kayak detektif. Kalau dia lagi banyak pertanyaan, berarti dia lagi cari info. Rencana lu bisa ancur," jelas Iban dengan wajah mengancam.
__ADS_1
Rendra terdiam, benar juga apa kata Iban. Sepengetahuan dirinya, Neta memang termasuk manusia langka yang suka kepo sama urusan orang. Semakin dilarang, rasa penasarannya semakin tinggi. Kalau tidak begitu, gak mungkin kantor milik Rendra berhasil diacak-acak olehnya.
Mobil Rendra terus melaju dan berhenti ke sebuah caffe bernuansa klasik, tempat itu sangat kental dengan adat daerah. Jadi terlihat unik dan elegan. Kopi yang disajikan begitu kuat aromanya, Rendra cs terbiasa duduk nongkrong lama meski hanya sekedar untuk menikmati secangkir kopi.
"Bagaimana kabar kedua adik kembarmu yang pura-pura bodoh itu?" tanya Iban.
Dulu sekali, Iban pernah bertemu dengan sepasang adik Rendra saat mereka berusia 12 tahun. Keduanya terlihat begitu konyol, meski mereka berbeda jenis kelamin. Karena kembar sifat mereka tidak jauh berbeda. Selain jahil, dan manja, ada saja kelakuan mereka yang terlihat bodoh.
"Mereka itu tidak pura-pura. Tapi keduanya memang benar-benar bodoh." Rendra santai sambil menyadarkan tubuhnya di sebuah bangku yang terbuat dari rotan.
"Mereka berdua sedang kuliah di salah satu kampus di Bandung. Yura si Playboy dan Yuri yang memberi jalan kepada kakaknya untuk mengerjai semua cewek." Rendra melanjutjan ceritanya sambil membakar sebatang rokok.
"Gue rasa lu harus berhenti pegang itu. Neta gak suka cowok perokok. Karena dia pernah kena flek pas SMP lalu yang memaksanya harus meminum obat selama 3 bulan tanpa putus. Jadi dia gak suka asap rokok." saran Iban.
Rendra terdiam, kemudian mengambil sebuah asbak kecil di depannya, dan mematikan rokok tersebut.
Mendengar cerita Iban, membuat Rendra berpikir. Meletakkan posisi Neta di ruang bawah tanah kantornya adalah perbuatan buruk. Dia pasti tersiksa, karena ruang sempit itu di penuhi asap rokok.
Rasa bersalah mendera, tidak seharusnya dia menyiksa Neta untuk berada di sana. Sepertinya, Rendra harus mengulik lebih banyak cerita dari Iban untuk mengenal Neta.
Neta memiliki sifat yang keras, jika orang lain berbuat kasar padanya. Dia tidak akan mudah untuk pasrah dan mengalah begitu saja. Jiwanya bersifat bebas, tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya untuk melakukan hal yang dia tidak suka.
Manja dan sedikit angkuh pada orang tertentu. Neta sangat ekspresif, dia tidak akan menyembunyikan apa yang dia rasakan. Makanya dia sulit untuk berbohong.
Rendra mengangguk, berusaha untuk memahami setiap kata dan petunjuk yang Iban berikan. Mudah saja jika dia ingin melakukan pernikahan, karena perjodohan sejak lama yang telah ditentukan. Hanya saja, dia tidak mau pernikahan ini akan menjadi sebuah penyesalan ketika mereka tidak saling mencintai.
__ADS_1
Wanita yang Rendra harapkan sudah ada pada Neta. Tak ada lagi niat berpaling, saat terakhir dia melihat foto gadis itu setelah lulus sekolah. Baru melihat fotonya saja, ada perasaan di dalam hatinya seolah memaksa untuk "Nikahi saja gadis itu."