
Pukul delapan malam, Neta berhasil merapikan kerjaannya. Semua karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing. Tersisa hanya dia seorang di dalam ruangan tersebut. Rasa takut pada sesuatu yang bisa dibilang ghaib tak dirasa lagi. Bayangan bantal dan kasur beserta Rendranya terasa begitu indah.
'Otak gue kenapa sih?! Kenapa harus ada kasur, bantal plus Rendra di sana??!!' Neta memukul pelan kepalanya.
Tio orang yang pernah ditolong Neta menunggu gadis itu dari kejauhan. Diam-diam memperhatikan Neta agar tidak ada yang mengganggunya, sebagai ungkapan trimakasih yang belum sempat diucapkan.
Sebenarnya, jauh dari sebelum Neta datang. Semua petugas kebersihan sudah diberi peringatan untuk tidak menolong Neta dalam keadaan apapun. Jika ada yang melanggar akan dikenakan sanksi SP atau bahkan pemecatan. Ancaman tersebut berhasil, tidak ada satu orang pun yang mau menolongnya.
Neta berjalan gontai, Tio tetap mengikuti dari belakang. Bukan bermaksud menguntit, setidaknya bisa berharap membalas setiap kebaikan yang pernah diberikan.
Sampai gadis itu naik kendaraan umum, akhirnya dia bisa pulang dan melepaskan kepergian Neta.
❤️❤️❤️❤️❤️
Di rumah, Rendra begitu khawatir. Seharian ini dia tidak melihat keberadaan Neta sama sekali. Dari gudang sampai ke toilet wanita sudah dicari dan hasilnya nihil. Ada rasa bersalah karena mencium gadis itu tanpa permisi, apalagi ditambah tidak adanya hubungan yang terjalin di sana.
Ya bagaimana pun juga Rendra tetap menyalahkan Neta juga, suruh siapa menuduh orang sembarangan. Pria cerdas dan tampan seperti Rendra tidak akan bertingkah bodoh dengan memiliki penyakit seperti itu. Membayangkan saja, dia ogah.
Sepertinya dia memerlukan bantuan. Agar bisa memperbaiki hubungan mereka dan tidak ada rasa canggung ketika mereka bertemu. Tetapi siapa yang bisa membantunya? tanpa dicurigai bahwa itu hanya sebuah akal-akalan saja.
Sedang memikirkan sebuah ide cemerlang, tiba-tiba pintu depan terbuka. Neta masuk dengan keadaan super lusuh, seperti tidak ada harapan hidup. Terlihat begitu lelah.
"Kamu dari mana saja?" tanya Rendra dengan nada khawatir.
Neta menatap Rendra sebentar, tak menjawab dia hanya menarik nafas panjang dan menggeleng pergi tanpa kata.
Rasa lelah mendera membuat Neta enggan bicara. Dia hanya butuh bantal dan kasur saat ini, meski tatapan Rendra begitu seksi menggoda dengan wajah khawatirnya. 'Otak sial, kenapa jadi mesum begini sih!!' runtuk Neta berkali-kali memukul jidadnya sendiri.
__ADS_1
Kemudian dia merebahkan tubuh kecilnya, di sebuah kasur yang empuk tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
Rendra tersenyum melihat kepergian Neta menuju kamarnya. Setidaknya kali ini tak perlu ada penjelasan tentang kejadian tadi pagi. Atau pertengkaran suami istri karena kesalahan seorang suami. Hisssh... Ngarep bangat si Rendra.
Malam ini cukup aman, dan bisa bermimpi indah. Selama Neta kalem seperti tadi, maka rasa bersalah yang ada padanya bisa menghilang begitu saja.
❤️❤️❤️❤️❤️
Keesokan paginya....
"Aku mau pindah dari sini," ucap Neta serius, membuat Rendra tersedak makanannya sendiri.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk.. Memang kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Rendra yang shock beneran.
Neta diam, dia hanya menancampakkan garpu makannya ke atas sosis dengan begitu kasar dan terlihat sadis. Membuat Rendra menelan ludah karena berasa linu.
"Ok, kamu gak lihat handphone mu kemarin apa? Aku kan sudah minta maaf, salah kamu juga nuduh orang sembarangan."
"Oh gitu, jadi aku yang salah terus kamu seenaknya... Men... Men.." Neta tidak sanggup mengatakan kejadian kemarin.
"Pokoknya gara-gara kamu, bibirku ternoda. Kalau sudah begini apa kamu mau tanggung jawab!!!" gentak Neta tak mau mengalah.
"Iya, aku tanggung jawab!!"
"Kamu selalu bilang iya aku tanggung jawab... Aku tanggung jawab. Tapi yang seperti apa?? Kamu tuh cuma cowok yang mau ambil keuntungan aja, tau gak??!! Kamu..."
Kesal dengan ocehan Neta, Rendra menariknya dan mencium kembali. Lagi-lagi untuk menutup mulut gadis itu, agar mau diam.
__ADS_1
"Aarrgghh Rendra?!!!!!" teriak Neta setelah berhasil keluar dari jerat Rendra.
Kerah baju Rendra ditariknya dan digoncangkan berkali-kali, seolah ingin membunuh pria yang selalu membuatnya merasa frustasi.
Ketika mereka sedang bertengkar dengan hebat, datanglah Maya dengan wajah penuh harap agar Rendra mau kembali kepadanya.
"Rendra sayang," panggil Maya, dengan suara lembut tak kalah seksi dengan baju yang dia pakai.
"DIAM!!" bentak Rendra dan Neta secara bersama-sama.
Neta melepaskan cengkramannya dari leher Rendra yang terlihat pasrah mau diapain juga. Neta terduduk di atas Rendra, posisi mereka gak bangat buat dilihat orang lain.
"Hei, Kalian!! Apa yang sedang kalian lakukan??!" Maya shock melihat keduanya.
Neta yang sadar langsung bangun dari tubuh Rendra dan merapikan pakaian kerjanya. Bahkan rambut yang terlihat berantakan pun, dia rapikan terlebih dahulu.
"Aku pergi, ketika punya waktu senggang aku akan pergi dari sini. Permisi!" Neta langsung pergi setelahnya.
Dalam pikiran Neta, mungkin jika Maya yang bawel seperti itu pun pasti akan dicium oleh Rendra seperti yang dia lakukan kepadanya. Ya, pasti.
Bodohnya Rendra terus memaki dirinya sendiri, tak tahan mendengar suara Neta yang berisik dan mengganggu seolah membuat semua gerak tubuhnya beraksi. Sekarang dia mengancam pindah. Apa yang harus dia lakukan untuk bisa menahan Neta agar tidak pergi??
Rendra benar-benar merasa kehilangan kontrol diri, bersama Neta membuatnya menggila. Apa harus dipercepat pelaksanaan pernikahan ini?? Tetapi membayangkan sifat sang mempelai wanita yang cukup sadis, membuatnya sedikit takut. Ya, Rendra amat takut jika akan ditolak mentah-mentah sebagai seorang suami.
"Rendra, are you ok?" tanya Maya, yang kehadirannya dilupakan Rendra.
"Berisik! Pulang sana, aku mau istirahat!!" usir Rendra yang lantas masuk dan membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
"Issshh... Kalian ini. Awas aja, aku pasti akan buat kamu bertekuk lutut dihadapanku!" ancam Maya seraya pergi dengan hati yang ikut kesal.