SOUL MATE

SOUL MATE
Tertarik


__ADS_3

"Jadi bagaimana menurutmu? Apa kalau sudah membantu orang lain ada rasa senang di hatimu?" tanya Neta penasaran saat melihat Rendra yang selalu tersenyum ketika mereka keluar dari rumah Sumini.


"Biasa saja, tidak ada yang spesial," singkat Rendra sambil terus berjalan.


"Tapi kenapa dari tadi senyum di bibirmu itu tidak mau tertutup??" Neta masih penasaran.


Rendra baru sadar, jika dari tadi dia memang terus tersenyum senang tulus dari hati. Sebelum ini dia tidak pernah melakukan hal gila seperti itu, tersenyum tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Ada apa dengannya?


Berubah menjadi masam, senyum di bibir Rendra menghilang.


"Kok balik ngeselin lagi?" Neta terus mencecar Rendra, dia terus memperhatikan mimik wajah dari sang pria meski berjalan membelakanginya.


Pria itu berhenti mendadak membuat Neta yang berada dibelakangnya tidak dapat mengontrol kecepatan kakinya. Hingga menabrak punggung pria bertubuh kekar itu.


"Aduh, kalau berhenti ngomong-ngomong dong!" Neta mengusap wajahnya yang menabrak Rendra, khawatir hidung imut yang dia miliki akan menciut lagi karena tabrakan itu.


"Cup!" sebuah kecupan berhenti di pipi Neta membuat gadis itu bungkam bahkan terlihat seperti mati suri, tak bernafas.


'Cowok gila! Ini kan di jalan!' bisik hati kecil Neta.


Rendra tersenyum kembali, justru Neta seperti dikutuk menjadi batu, tubuhnya kaku tak dapat bergerak.


"Kenapa berhenti bicara? Bukankah kamu senang berbicara?" goda Rendra menyenggol tubuh gadis itu.


Neta segera sadar, dia malu dengan apa yang dilakukan Rendra sekarang. Dengan kaki kecilnya, tanpa bicara dia berlari menuju mobil Rendra berhenti.


Melihat wajah kecut Neta, membuat Rendra semakin ingin menggodanya. Beruntung sekali jika dia bisa memiliki gadis imut ini. Tetapi bagaimana dengan tunangan yang selalu menjadi andalannya?? Apa bisa Rendra merebut perhatian dari Neta sehingga bisa menjadi miliknya dengan tulus?


Neta tak banyak bicara, dia masih terasa kesal dengan apa yang dilakukan Rendra barusan.

__ADS_1


'Yang aku suka tuh Billy, bukan Rendra. Ayo Neta, gak usah geer. Kecupan itu gak berarti apa-apa.' Hati Neta terus berkecamuk, semakin dia berusaha melupakan kejadian tadi, semakin berasa kecupan itu.


"Kamu mau makan?" Pertanyaan Rendra membuyarkan pergolakan batin Neta.


"Ah, aku gak lapar," ketus Neta, dia berusaha meyakinkan diri bahwa Billy lah tambatan hatinya nanti.


"Hem, oke. Aku lapar, kalau begitu kamu temani aku makan saja," ucap Rendra tak perduli dengan jawaban Neta.


Terus menyetir Rendra tak henti menatap Neta yang semakin terlihat stress sendiri. Namun baginya pemandangan itu begitu lucu dan membuatnya senang.


❤️❤️❤️❤️❤️


"Yakin kamu tidak mau makan? Ini enak bangat loh," sindir Rendra sambil menyodorkan potongan daging ke arah Neta yang mulutnya manyun karena kesal.


"Gak usah merayuku," ketus Neta membuang muka.


"Kamu kenapa sih dari tadi uring-uringan terus? Bikin aku gemas aja." Rendra melanjutkan makannya.


Ada sesuatu yang menahan Neta untuk bicara, apalagi selain rasa malunya sendiri. Masa dia harus bilang kalau Rendra lah pria asing pertama yang mencium pipinya. Meski itu hanya sebuah pipi.


"Apa? Kenapa diam? Aku hanya berusaha menandai milikku," ucap Rendra santai.


'dan) llApa? Miliknya? Siapa? Aku???!!' Begitu banyak pertanyaan mendera Neta di dalam kepalanya.


"Kamu itu benar-benar psycho ya? Kamu menandai aku sebagai barang milikmu? Memang kamu siapa??" Neta mulai Emosi.


Kalau sudah begini, diam adalah jalan terbaik. Tidak usah menimpali ucapan Neta lagi. Biar gadis itu berpikir dan berhalusinasi dengan bayangan ya sendiri.


Semakin Neta membencinya, merupakan sebuah tantangan baru untuk Rendra menaklukkan hatinya. Meski dia tau jika gadis itu masih di bayang bayangin oleh tunangannya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


Setelah pulang dari rumah Sumini kemarin, Neta menghindari Rendra. Rasanya aneh, setiap melihat Rendra pipinya jadi merasa panas. Dia berfikir, apa mungkin itu efek dari kecupan kemarin? Atau itu penyakit baru yang penularannya ditimbulkan melalui sentuhan kulit?


Seperti pagi ini, Neta berangkat pagi bahkan terlalu pagi. Tidak nampak keberadaan Rendra sama sekali, mungkin pria itu masih tidur atau sedang siap-siap dikamarnya.


'Kesempatan bagus,' pikirnya.


Segera menuruni tangga, dan berlari kecil menuju keluar. Dengan sangat hati-hati, bahkan seperti seorang pencuri. Neta menarik nafas ketika dia sudah sampai di pintu depan. Menandakan bahwa dia berhasil menghindari Rendra.


"Kamu mau kemana?" Suara Rendra muncul tiba-tiba di teras rumah.


Pria itu sudah paham bahwa, Neta akan terus menghindarinya. Terlebih dia sudah meyakinkan hatinya untuk mengejar sang gadis, maka tak akan ada kesempatan yang dia lewatkan.


"Rendra kamu hampir saja membunuhku!" histeris Neta karena kaget sungguhan.


Dia berusaha tenang dan tidak merasa canggung. Atau Rendra akan mengambil kesempatan lagi darinya.


"Kok pagi sekali berangkatnya?" sindir Rendra yang sebenarnya tahu kalau Neta sengaja menghindarinya.


Sempat kaget, jantungnya berdegup kencang tanpa henti seperti orang yang baru saja ketahuan mencuri.


"Aku giliran piket," jawab Neta asal.


'His, kenapa piket sih jawabnya? Udah kayak sekolah aja!' sesal Neta dalam hati.


"Hahaha... Kalau begitu ayo aku antar!"


"Gak usah, aku udah mesen ojek online," tolak Neta halus.

__ADS_1


Tak mau dengar jawaban, Rendra segera menggengam tangan Neta menuju mobilnya dengan paksa.


Percuma melawan Rendra saat ini, karena genggaman tangannya saja begitu terasa kuat. Apalagi dari kemarin dia menolak terus ajakan Rendra. Hanya pergi ke kantor tidak berarti apa-apa.


__ADS_2