SOUL MATE

SOUL MATE
Rahasia Tersembunyi


__ADS_3

Ada perasan yang lebih besar dan mengalahkan kekecewaannya setelah tau bahwa Rendra lah pemilik dari perusahaan tersebut. Ya itu rasa kagum pada tempat dimana kini mereka berada.


Seperti surga dunia dengan semua jenis mainan digital tersedia di sana. Sebuah kulkas tinggi besar dua pintu tembus pandang dengan berbagai macam snack dan minuman ringan berbagai merek.


"Kamu kecewa bahwa Billy bukan pemilik perusahaan ini?" Rendra bertanya kepada Neta yang masih tidak percaya dia sedang berada di mana.


"Rendra aku boleh gak tinggal di sini?"


"Kamu ini bodoh ya? Aku tanya apa jawabnya apa!" seru Rendra kesal sendiri.


Pertanyaan seperti apa itu? Menurut Neta dia tidak mau terlalu pusing ini perusahaan milik siapa, karena dari awal tujuan dia kabur bukan untuk menjadi kaya, tetapi mencari cinta sejati dari belahan jiwanya yang hilang.


Jadi seandainya perusahaan. Ini milik siapa pun tidak akan berpengaruh padanya.


"Aku gak kecewa sama sekali, mau Billy atau kamu yang bodoh pun tidak akan berpengaruh padaku," jawab Neta santai


"Bagus kalau begitu tidak usah ikut campur urusan orang lain lagi," pinta Rendra sambil mengangguk.


"Iya tidak akan berpengaruh padaku, tapi akan berpengaruh sekali pada para pekerjamu."


"Maksud kamu???" Rendra merasa tersindir dengan ucapan Neta.


"Coba kamu bayangkan, perusahaan besar milikmu tidak akan pernah bisa menjadi besar tanpa para pekerjamu. Meski dia hanya seorang tukang sapu sekalipun, tidak kah salah jika kamu berterima kasih pada mereka dengan memberikan apresiasi dan sebuah penghargaan-penghargaan kecil?"


Rendra mendengar ucapan Neta dengan seksama, seperti seorang guru yang sedang berceramah kepada murid bodohnya.


Neta terus bicara sambil berkeliling mencoba beberapa permainan di sana, dari game di Pc sampai biliard yang dari tadi hanya dengan mendorongnya asal.


"Aku mau bertanya mengapa kamu melakukan pembiaran perlakuan diskriminatif terhadap salah satu karyawanmu?" Neta terus menginterogasi Rendra dengan tatapan sinis.


Mata gadis itu begitu menyeramkan, membuat Rendra menjadi salah tingkah. Mengapa dia begitu lemah di depan Neta?

__ADS_1


"Aku tidak tau untuk soal itu, karena itu bukan Urusan ku!"


"Semua karyawan ini adalah bawahan mu, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?" Neta kembali memojokan Rendra.


"Memangnya siapa dia dan apa yang bisa dia lakukan denganku?" Rendra membela diri.


"Aku akan menolongnya, aku akan melaporkan perusahaan mu ke departemen tenaga kerja. Bahwa kamu menyiksa karyawanmu yang sedang sakit."


"Kamu tidak akan menang melawan perusahaan," jelas Rendra.


"Mungkin benar, tapi perusahaan sempurnamu akan tercoreng."


"Hem...gadis manis, pantas saja kamu tidak boleh dibiarkan berada di luar terlalu lama. Karena jiwa sosialmu ini sudah terlalu tinggi melebihi batas normal."


Neta berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Rendra. Tidak boleh berada di luar terlalu lama? Apa dia memang tahu Neta tidak pernah jauh dari pandangan kedua orang tuanya?


Rendra merasa keceplosan, dia memberi ekspresi yang menyebalkan. Untung Neta agak susah nangkap ekspresi, jadi kecurigaannya tidak berlangsung lama.


"Baiklah apa kamu punya saran untuk ku?" Rendra duduk santai di sebuah sofa panjang.


Ada sebuah rahasia yang tidak boleh Neta tahu untuk sekarang ini, dia hanya ingin mencoba menguji gadis tersebut. Di tengah tingginya ego, sebenarnya Rendra bisa mengatakan siapa dia sebenarnya.


Biarkan Neta bermain dahulu, menjadi wanita yang merasa paling berguna untuk siapa pun juga. Sebenarnya tidak susah bagi Rendra untuk mau menuruti semua maunya. Hanya saja belum tiba waktu yang pas, di tambah lagi semua pria mengagumi Neta.


Rendra mau lihat seberapa seriusnya Neta untuk berjuang mengingkari takdirnya. Sebagai calon istri Rendra yang sudah ditentukan kedua orang tua mereka saat kecil.


Dari awal, Rendra sudah kenal siapa Neta. Iban kakaknya mengabari bahwa Neta melarikan diri karena enggan dijodohkan dengannya. Tanpa kesulitan mencari Neta setelah mendapat kabar dari Iban, Rendra menemukannya dengan mudah. Bahkan gadis itu sendiri yang datang padanya.


Seberapa jauh dia ingin melarikan diri dari Rendra dan berusaha mencari penggantinya? Itu yang akan menjadi ujian Neta.


"Bagaimana kalau kamu bantu dia untuk menyembuhkan penyakitnya?" Neta antusias.

__ADS_1


"Aku bukan dokter."


"Setidaknya kamu bisa membuat penyembuhan karyawanmu itu bisa lebih mudah."


"Kamu pandai bicara, aku mau tau idemu." Rendra datar.


"Liburkan dia dua minggu agar dia bisa fokus berobat," pinta Neta tanpa beban, apalagi setelah tau Rendra lah pemiliknya, dia sudah terbiasa bernegosiasi.


"Baiklah, aku akan pecat dia kalau perlu. Biar dia bisa sembuh total."


"Rendra!!! Kamu selalu buat aku emosi. Kasih dia cuti terlebih dahulu, jangan potong gajinya. Tolong bilang ke Derry untuk memperlakukan dia tidak seperti hewan yang menjijikan." Neta begitu geram.


"Baiklah, tetapi mengapa kamu memanggil atasanmu dengan sebutan nama. Tanpa kata Bapak?" Rendra penasaran.


"Karena aku gak suka dia, memang salah dengan panggilan ku?"


"Kamu juga tidak memanggil dengan sebutan bapak? Apa kamu juga tidak suka aku?" Rendra mencoba menjebak Neta.


Neta bingung menjawab pertanyaan Rendra, kalau dia bilang suka nanti tuh orang ke ge eran lagi.


"Aku suka kamu, kan kita teman," jawab Neta berusaha mencari kata yang tepat.


'Sial, ternyata dia tidak sepolos dugaanku,' pikir Rendra merasa gagal.


Rendra sedikit kecewa, karena dia berada di friendzone tunangannya sendiri. Akankah dia mampu untuk keluar dari zona nyaman itu?


"Baiklah kembali ke tempatmu," ucap Rendra sedikit kecewa.


Perubahan wajah Rendra membuat Neta bingung, adakah dia salah ucap? Atau apakah dia telah berbuat salah, mengapa wajah pria yang biasa galak dan berwibawa, kini terlihat begitu sedih?.


Neta tidak mau ambil pusing, yang penting dia sudah menyelesaikan tugasnya hari itu. Tidak ada lagi beban yang mengganjal hatinya. Eh tapi, bagaimana cara keluar dari ruangan ini?

__ADS_1


Semua pintunya menggunakan kata sandi, sedang Neta sendiri tidak tahu apa itu. Mau balik untuk nanya gengsi, tapi diam di sini pun untuk apa? Yang ada Rendra bisa ngamuk kalau belum melihat dia pergi. Ya sudah dia memilih untuk diam dan menunggu, sambil bermain handphone. Kebetulan dia juga bisa melarikan diri dari tugasnya.


__ADS_2