
Kepergian Rendra membuat mata Neta terasa berat kembali.Rasa kantuk mengalahkan rasa perut yang lapar. Dia sempat meminum air yang dibawa tuan rumah untuk menyiramnya tadi, dan kini dia seperti tersihir oleh sesuatu. Membuat matanya sulit terbuka.
Entahlah sudah beberapa lama Neta tertidur, kini badannya terasa begitu segar. Ketika dia membuka mata, sebuah pemandangan indah tersaji di depannya. Seorang pria yang sampai saat ini dia belum kenal namanya, pria itu tertidur pulas di sebelah. Mungkin Neta merasa dia masih bermimpi, masa dia tidur bersama pria yang tidak dikenal begitu saja.
Dunia ini terasa tidak adil, masa iya ada pria begitu sempurna meski dalam keadaan tertidur sekalipun.
'ini pasti mimpi!' bisik hati Neta
Mencubit pipi sendiri pasti akan terasa sakit, Neta tak akan melakukan itu. Jadi dia memilih untuk mencubit pipi pria yang ada di hadapannya. Kalau ini mimpi toh dia tidak akan merasa kesakitan.
"Ouch!!!"
Teriakan si Pria menandakan dia merasa kesakitan, dan berarti ini adalah kenyataan bukan dunia mimpi seperti harapannya.
"Aaarggghhh!!!" pelik Neta kaget sampai melompat.
'Brugggg...'
Tubuh kecil itu terjatuh ke lantai, dia merasa ketakutan dan bingung. Bagaimana bisa??
"Kamu??? Apa yang kamu lakukan padaku??" Hardik Neta sambil memeriksa semua anggota tubuhnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Kamu yang tidur sendiri di kamarku."
"Gak mungkin, bagaimana bisa aku tidur tanpa sadar ke tempat mu?" Neta tidak merasa puas dengan jawaban sang pria.
"Kalau tidur, semua orang akan hilang kesadaran," jawab si Pria cuek.
"Aarrghh... Apa yang aku lakukan, tidur satu ranjang bersama dengan orang yang tidak ku kenal." Neta merasa stress sendiri, dia menjambak pelan rambutnya dengan kedua tangan.
"Aku Rendra Bachtiar, kita pernah bertemu 10 jam yang lalu. Ini rumahku, dan kamu menumpang. Sekarang kamu marah-marah atas kelakuanmu sendiri," jawab Rendra sambil mengibas rambutnya ke belakang.
'Gantengnya...' pikir Neta melihat kejadian itu di depan matanya.
__ADS_1
Perasaan kalut itu pergi, sekarang dia memiliki ide baru. Setidaknya kalau Neta menikah dengan pria seperti Rendra, mungkin bisa merubah perjodohan antara dia dan calon suami pilihan keluarganya. Rendra kaya, tampan, tidak ada cela dalam dirinya. Dia adalah suami yang sempurna.
Senyum licik tersirat di wajah Neta, baiklah kalau begitu dia akan memanfaatkan moment ini untuk mencari jalan di kehidupannya yang baru.
"Kamu harus tanggung jawab," singkat Neta.
"Tanggung jawab untuk apa? Aku aja gak tau kamu siapa, dari mana? Lagian kan salah kamu juga tidur di ranjangku."
"Aku Arneta, calon istri kamu." Neta bangkit dari lantai tempatnya jatuh.
"Kamu itu hanya anak kecil, dan jauh dari tipeku. Lagi pula kita memang gak sampai berbuat itu kok, kenapa aku harus tanggung jawab?" Rendra membuang wajahnya.
"Tapi kan, aku sudah seranjang sama kamu. Tak akan ada lagi yang mau menikah denganku selamanya. Pokoknya, kamu harus tanggung jawab!!" Neta menangis dengan akting yang sangat buruk.
Melihat aksi Neta, tidak membuat Rendra merasa iba. Bahkan dia malah berusaha menahan tawa.
Ditarik lengan kecil milik Neta ke atas ranjang, tatapan mata Rendra seperti seekor Elang yang melihat kelinci kecil siap untuk dimakan.
'PLAK!!!' Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rendra. Rasanya begitu perih, sampai dia harus melepaskan pegangannya.
Mungkin apa yang Neta lakukan itu adalah hal yang keji. Tetapi menghina dia sebagai cewek murahan, membuat hatinya sakit.
'Bruggg!!!' Neta mendorong tubuh Rendra, hingga pria itu terhuyung ke belakang.
Saat terlepas, gadis kecil berambut panjang itu berlari. Dia menyadari bahwa tindakannya memang salah, sudah tidak ada alasan lagi dia berlama-lama di sana. Terlebih si pemilik rumah yang berlidah tajam.
Melihat kepergian Neta, kesadaran Rendra sempat menghilang. Baru kali ini di sepanjang hidup, dia mendapat tamparan dari seorang wanita, dan baru kali ini juga melihat gadis yang berani membalas tatapan mata saat dia marah.
Rendra sudah menetapkan hati tidak akan melepaskan gadis itu, bermain-main sebentar sepertinya akan menyenangkan.
Hilang sudah keinginan Neta untuk menjadi istri dari pria tadi. Menjijikan memang bisa punya pikiran seperti itu. Bukankah tujuan awal pelariannya adalah mencari kebahagiaan dan cinta sejati? Bukan terjerat pada orang yang tidak dicintai kembali.
Langkah kaki Neta begitu pendek meski berlari, merasa tidak ada yang mengejar. Akhirnya dia memilih berjalan santai.
__ADS_1
Sudah cukup malam ternyata, entah berapa lama waktu yang pasti dia tertidur di rumah itu. Kini cahaya lampu menjadi penerangan utama yang amat membantu penglihatannya.
Masih sedikit tersengal, sesosok bayangan begitu menakutkan membuatnya kaget setengah mati.
"Kamu?? Bagaimana bisa kamu ada di sini?? Bukannya tadi...," ucap Neta dengan wajah penuh ketakutan.
Rendra tidak menjawab, sampai akhirnya dia merengkuh tubuh kecil si gadis dan membopongnya ke dalam rumah.
"Gadis bodoh, kalau mau kabur jangan memutar rumah orang dong." Rendra tersenyum penuh kemenangan.
"Lepas... Turunkan aku gak!!! Kalau tidak, aku akan teriak!!!" ancam Neta.
"Teriak saja, aku pemilik dari komplek perumahan ini. Mereka akan lebih percaya kata-kataku."
Rendra membawa Neta ke sebuah ruang keluarga yang cukup besar, dan mendudukan gadis tersebut di sebuah sofa yang panjang. Setelah lelah meronta, Neta pun menyerah. Tak ada ucapan yang keluar dari mulutnya sedikitpun.
"Kruukk.... Kruukk..." Suara perut Neta memecah keheningan.
"Sepertinya suara perut kamu lebih enak di dengar," ucap Rendra sinis.
Tak ingin menjawab, tetapi perutnya terus berbunyi. Neta bingung mengapa dia tidak diperbolehkan pergi? Apa yang Rendra mau darinya.
"Tunggu sebentar, percuma kabur dariku. Kamu akan tetap kembali ke rumah ini," pinta Rendra sambil berjalan ke arah belakang.
Pikiran buruk datang, Neta mengeluarkan keringat dingin.
'Apa aku sedang diculik?? Apakah dia akan meminta tebusan ke Ayah? Atau aku akan dijual ke luar negri untuk jadi TKW. Ya ampun, inikah pembalasan atas dosaku?' racau Neta dalam hati sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana jika ucapan si Rendra itu benar? Bahwa dia tidak akan bisa lari darinya.
Berusaha mencari handphone di dalam tas, Neta tidak menemukan barang tersebut dimanapun juga. Mungkin kah hilang atau mungkin diambil pria psycho itu?
'Oh My... Ayah, aku ingin pulang saja.' Neta merasa sesak di dalam hati.
__ADS_1