
Dua jam sudah berlalu sejak kejadian tadi. Neta terlunta tanpa tujuan di sebuah gedung tempat kerjanya sendiri. Seperti tidak punya muka, dia enggan bertemu Rendra. Jangankan bertemu, membayangkan wajahnya saja membuat Neta menggila. Malu dan seperti kehilangan harga diri.
Entah apa yang harus dia lakukan di sana. Untuk menghadap Derry pun dia malas. Rendra meracuni pikirannya, masih tampak jelas sentuhan bibir yang begitu lembut memikat hatinya. Tapi...
'Dasar Hellboy, psikopat, gila!!' runtuk Neta menjambak rambutnya sendiri.
Dia berusaha meyakinkan itu hanya sebuah ciuman biasa tanpa arti, namun akal sehatnya tetap tak mau menerima alasan apapun dengan mencium orang sembarangan tanpa perasaan apa-apa adalah kesalahan yang fatal.
' Aku harus gimana? Apa keperawananku juga ikut hilang karenanya??' keluhnya terasa sedih.
Masalahnya tidak mudah berlalu begitu saja, karena Neta masih punya tunangan yang uangnya terus dipakai. Sebelum kejadian ini janji pernah terucap, suatu saat dia akan mengembalikan uang milik sang tunangan ketika sudah mapan nanti. Tetapi di sini, boro-boro mapan yang ada ia terus memakai uang milik tunangannya.
Total sudah 27 juta uang yang terpakai, bagaimana caranya harus mengembalikan uang sebanyak itu? Apa Neta harus menyerah dan menyetujui pertunangan yang sudah terjadi sejak 20 tahun lalu?
Neta tetap menyalakan Rendra, yang sudah berani mencuri ciuman pertama hingga membuat hatinya galau setengah mati.
"Kruukkk!!" suara perut Neta memanggil, dia memang belum makan siang hari ini.
Lupakan Rendra sejenak, Neta berusaha lebih memikirkan hewan peliharaan dalam perutnya yang terus memanggil agar diisi makanan.
Berjalan seperti pencuri, Neta berusaha keras agar tidak bertemu Rendra sama sekali.
Dengan susah payah, akhirnya Neta bisa menuju kantin tanpa bertemu atau melihat Rendra seujung rambut pun. Sepertinya ia bisa tenang sebentar menikmati makan siangn, sampai sebuah tangan besar memegang bahunya.
Kaki Neta berasa begitu lemas, matanya berkunang dan takut jika akan benar jatuh pingsan di sana.
"Loh, Neta kamu sakit?" Terdengar sebuah suara yang Neta bisa pastikan itu bukan Rendra.
Wajah Neta terlihat pucat, dan terlihat keringat mengucur di sana. Begitu menegangkan bagi Neta. Seperti bunga hampir layu yang tersiram hujan, langsung menjadi segar kembali.
"Sandro, kamu hampir membuatku mati berdiri!" ucap Neta kesal.
"Hahahaa.... Kenapa? Kamu kira aku Rendra ya?" tebak Sandro sambil tertawa melihat ekspresi Neta yang terlihat pucat.
__ADS_1
"Aah, enggak juga kok. Eengg....Ya enggak gitu juga kali." Neta tergagap, salah tingkah.
"Kok kalian tadi bisa..." Rendra bicara sambil menggerakkan kedua tangannya bertautan seperti pasangan.
"Ahahahhaa.... Itu kan hal biasa bukan??"
"Kalau memang itu biasa, coba kamu lakukan kepadaku," ledek Sandro menyodorkan pipinya.
"Kamu sama gilanya kayak dia," Neta mendorong Sandro menjauh.
Melihat tingkah Neta, membuat Sandro semakin tertawa keras. Gadis ini benar-benar menyenangkan, pantas saja Rendra yang dingin bisa menjadi gila karenanya.
"Aku lapar, mau makan. Kamu pergi sana, nafsu makanku akan hilang jika ditemani salah satu dari kalian!!" usir Neta jujur.
Faktanya untuk saat ini, nelihat salah satu dari tiga sahabat tampan itu memang akan menyiksa dirinya. Karena Neta akan terus membayangkan bibir Rendra eh bukan, kejadian tadi maksudnya.
"Oke, aku pergi. Oh iya, Seharian ini Rendra terus mencarimu. Apa kamu mematikan ponselmu?" tanya Sandro penasaran.
Sandro mengerti mungkin Neta butuh privasi, maka dari itu dia pergi meninggalkan gadis tersebut. Mereka sudah dewasa, selanjutnya tidak akan mau ikut campur lagi untuk urusan Rendra dan Neta.
Neta memeriksa handphone nya, memang tadi sengaja dimatikan. Agar bayang-bayang Rendra tidak menganggu dan menghantuinya terus menerus.
"Criing!!" Bunyi berkali-kali terdengar dari handphonenya, notif panggilan dan sms mulai masuk. Kebanyakan dari Rendra yang mengucap permintaan maaf.
'Emang kalau udah minta maaf, bibir gue bisa balik suci lagi gitu??!' keluh Neta sambil membaca pesan maaf Rendra yang sangat banyak.
Diantara pesan tersebut, terselip sebuah panggilan dan pesan lainnya dari Derry yang menanyakan keberadaan Neta.
Dilihat dari pesan yang masuk, Derry sepertinya sedang punya urusan penting dengan Neta. Sehingga dia harus melakukan panggilan juga.
Bergegas, Neta menghabiskan seluruh makanannya. Sudah cukup banyak energi yang dia habiskan untuk tragedi sepanjang hari ini. Paling tidak, jangan sampai ada konflik lain dengan orang baru.
Selesai makan, Neta langsung berlari kecil. Mencari Derry di setiap lorong ruangan loker mereka. Namun tak nampak pula batang hidungnya yang pesek itu. Akhirnya dia menyerah, dan terduduk di sebuah kursi panjang dekat toilet.
__ADS_1
Terdengar suara seorang pria, rupanya sedang berbicara dengan seseorang di ponsel miliknya.
"Ok, nanti akan aku berikan dia tempat terberat di gedung ini," ucap pria tersebut yang ternyata adalah Derry yang baru saja keluar dari toilet, pantas saja Neta tidak bisa menemukan orang itu dimana pun juga.
Kaget setengah mati melihat Neta terduduk dengam wajah begitu lelah, Derry berharap ucapannya tadi tidak terdengar.
"Kamu, dari tadi saya cari juga." Derry dengan nada sedikit kesal.
"Siap pak, saya makan dulu tadi," ucap Neta menjelaskan.
"Kamu sekarang bersihkan ruangan loker ini, dan jangan pergi kemana-mana kalau pekerjaan mu belum beres. Kalau tidak...."
"Kalau tidak kenapa?? Bapak ngancem saya?" sinis Neta.
"Pokoknya saya mau semua keliatan rapi dan bersih!" Derry memerintahkan dengan nada yang tegas.
"Ya.. Yaa... Yaa...!!" jawab Neta dengan nada terlihat malas.
Ruangan loker yang cukup luas namun sumpek ini sebenarnya tanggungjawab bersama untuk soal kebersihan. Artinya tidak ada petugas khusus yang harus membersihkan semua kekacauan. Kenapa sekarang malah jadi tanggungjawab Neta sendiri?
Aneh, biar sumpek biasanya tidak banyak sampah berserakan. Tapi hari ini sungguh luar biasa. Seperti sudah disengaja untuk membuat Neta kerepotan.
Awalnya Neta kesal dan marah atas perlakuan intimidasi yang dilakukan oleh Derry. Tapi kalau dipikir lagi ketimbang terus berlari dari Rendra, tanpa tujuan pasti. Lebih baik dia memiliki kegiatan yang bisa menguras fikiran dan tenaganya.
'Yap, ini kesempatan emas. Supaya aku bisa lepas dari jerat Rendra yang mulai menguasai pikiranku. Semangat Neta!!!' teriaknya dalam hati dengan wajah sumringah.
Derry yang begitu puas karena telah berhasil mengerjai Neta, terlihat begitu shock saat melihat gadis yang sedang disiksanya malah tersenyum senang saat mengerjakan semua tugas darinya.
'Gadis macam apa dia? Kenapa tidak tersiksa sama sekali??!!' runtuk Derry kesal.
Handphonenya berbunyi, Derry mengangkat panggilan tersebut dengan sedikit takut.
"Halo, gadis ini gila. Dia tidak merasa tersiksa sedikitpun. Bahkan kulihat moodnya semakin membaik," ucap Derry langsung menutup telpon tersebut, dia takut lawan bicaranya akan memaki karena ketidak senangan akan kabar darinya.
__ADS_1