
Seminggu kemudian Alissa mengajak aku ke pinggir sungai" ia diam begitu lama.
Satu jam berlalu tanpa ada sepatah kata pun tercetus dari mulutnya, antara berkata dan berdiam diri aku menatap wajah nya.
Wajah putihnya basah oleh air mata" apa yang terjadi Alissa?"jangan diam begini ucapku Pelan.
Iapun menunjukkan sebuah benda pipih padaku"?aku heran dan tidak mengerti dan bertanya ;
Benda apa ini? desakku, ia menatapku dan berkata' ini alat penguji kehamilan jawab nya dan ia pun menangis didadaku.
Jelas kan padaku?"jangan bertele-tele kali ini disertai bentakan sedikit ketus.
Zel..kamu bego atau betul betul tidak tahu timpalnya dengan sewot kearahku.
Iya' gak tahu? jawab ku sambil cengengesan padanya,ia pun tertawa saat mendengar ucapanku.
Baik' ini Garis Dua artinya aku Hamil ujarnya membuat jantung ku mau keluar dari tempatnya.
Apa" Hamil ? balasku tidak percaya, masak sekali saja bisa hamil pungkasku masih tidak percaya melihat kearah benda pipih yang ditanganku.
Kalo orang tua ku tahu kamu mau kan nikahin aku?" cetusnya enteng padaku sambil melirik kearah ku.
Kalo aku gak mau " lantas apa yang kamu akan lakukan,kataku sambil mengodanya.
ah... kok kamu jahat? ujarnya.
__ADS_1
Kamu tega banget sama aku"ujarnya lagi seraya memoyongkan mulutnya.
Duh duh kok ngambek kan sich" aku becanda saja' walaupun aku belum sepenuhnya siap menikah, aku membatin.
Zel...aku punya tabungan?" soal biaya hidup serta lahiran ntar kamu gak usah kuatir sebab uang ku puluhan juta dibank ujar ku.
Dikediaman Alissa.
Alissa makan dulu baru tidur siang ujar mama saat melihat ku hendak berbaring ditempat tidur ku.
apa kamu sakit? pertanyaan mama membuat ku sedikit takut, sayang ujar mama tersenyum manis padaku.
Tas nya di taro dilemari biar rapi ujar mama menegur ku, maaf ma.....ujarku setengah tidur.
Begitu mama buka kemasannya benda pipih itu terjatuh di lantai ,bergaris merah dua, Alissa bangun nak " ujar mama ; mama ada apa lagi sich gerutu ku.
Alissa ini bukan punya kamu kan? mama itu itu...punyaku ma'? sahutku sedikit terbata bata.
ma...maafin Alissa ? Alissa salah ma ujar ku sambil menatap wajah mama.
Sejak kecil ibu mendidik mu dengan ajaran agama kita' tetapi kenapa ajaran mama kamu lupakan begitu saja pungkas mama pelan.
Mama... ucapku sambil memeluk Mama. Alissa siapa pria itu ? minta ia bertanggung jawab atas perbuatannya padamu.
Mama ia dari orang kalangan menengah kebawah ; tetapi aku mencintai nya ma ujar ku berterus terang.
__ADS_1
Yang penting ia punya rasa tanggung jawab dan mencintai mu ,mama tidak masalah seloroh mama padaku.
Kata kata lembut mama
begitu menenangkan hati dan jiwa ku.
tetapi ingat ! lanjut mama lagi.
Alissa pernikahan hanya satu kali seumur hidup " jangan ada kata menyesal karena ini sudah takdir untukmu.
Seminggu kemudian.
Pernikahan pun digelar dikediaman Alissa,hanya keluarga dan orang terdekat saja yang diundang.
sungguh ini bagai mimpi buruk bagiku ; diusia muda aku sudah ditutut menjadi seorang kepala keluarga diusia dini.
Usai menikah aku pamitan ke pada orang tua Alissa untuk tinggal dikontrakkan ku ;
Alissa menyetujui permintaan ku.
Alissa baru saja tertidur pulas, sedangkan aku masih bergelut dengan pikiran ku ? hidupku persis seperti sinetron pernikahan dini.
Diusia ku 16 tahun dan Alissa 15 tahun sungguh menyedihkan nasibku ; aku membatin,
Terbayang wajah orang tua ku yang ku sayangi yang sudah kucoreng wajahnya dengan kebodohan ku.
__ADS_1