
Pagi ini aku pergi kesungai berbatu, tetapi karena posisi batu menurun terbentuklah sebuah kolam yang bila dimasuki layaknya bak mandi.
Tetapi semenjak ada perusahaan yang menambang batu bara di belakang tepatnya 2 km dari permukiman penduduk.
Kami mendapatkan konvensasi berupa tandon dan pipa air, jadi dari puncak gunung air dialirkan ke rumah rumah warga lewat pipa.
Tetapi ibu Dina mencoba protes karena dirinya hanya mendapat satu tandon air, karena menurutnya ia adalah orang yang berjasa soal bantuan tandon air bukan hanya soal ini saja keluhannya.
Tetapi juga soal air yang sedikit mengalir ke rumahnya, sebenarnya baru baru ini pemerintah desa telah membangun tempat penampungan air.
Tetapi sayangnya tidak bisa diambil manfaat TPA nya karena pipa-pipa tidak diletakkan di bawah melainkan diatas.
selain itu penyebab nya ada pada aliran air yang tidak ditutupi rapat otomatis air mengalir lewat aliran yang berlubang itu.
Ayahku sebenarnya ketua RT, tetapi warga desa ini selalu tidak puas dengan kinerja ayah ku maka ayahku memutuskan berhenti.
Selama 3 tahun menjabat sebagai ketua RT ayahku benar benar memperjuangkan kepentingan warga desa ini, tidak ada dulunya gaji seperti sekarang.
Kembali pada kisah ku.
__ADS_1
Siang ini ibu berujar pada ayahku, ayah kita kehabisan beras, ibu punya sedikit uang coba beli di gilingan padi dibawah sana.
Perintah ibu tetapi ayah berkata" kaki Ayah masih sakit jawab ayahku ,Bu...biar aku saja yang beli timpal ku pada ibuku.
Tetapi itu jauh balas ibu, aku bisa Bu tegasku " baik' pergi lah sambil ibu memberikan uang Rp.100 ribu padaku.
Dengan segera aku berjalan menuju kedesa bawah karena memang tempat tinggal ku diatas.
Peluh membasahi wajahku, ternyata beras yang aku bawa cukup berat,
setengah jam baru lah aku tiba di rumah ku.
terima kasih Bu ucapku" sambil duduk dibawah pohon mangga.
Ibu langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang, sambil menunggu aku pergi kesungai berbatu.
Malam pun tiba..
Awan hitam menjadi pertanda akan turun hujan,suara Guntur begitu membuat detak jantungku berdegup kencang.
__ADS_1
Hujan deras mengguyur desaku, sungguh miris atap Nipah dibagian dapur sudah tidak bisa menahan debit air hujan.
Alhasil aku dan ayah meringup didekat tempat tidur " karena derasnya hujan, ibu mulai berkeluh kesah pada ayah ku.
Bu... sabarlah" ayah ingin segera mengganti atap Nipah dengan seng tapi seperti ibu tahu harga sayur-mayur kita tidak seberapa.
Ibu menghembuskan nafasnya kasar, ya Tuhan berilah kami jalan keluar ucapku setiap kali aku berdoa bersama ayah dan ibuku.
Hei..Zeldar..'? mana ibumu ujar ibu Dina siang ini bertandang ke rumah ku,ada didapur ucapku ibupun keluar saat mendengar suara ibu Dina.
Ada apa" Bu .tanya ibuku? Bu tolong yakh" pipa ibu jangan berada di atas pipa saya,kalo tidak tak potong potong pipa ibu bentaknya pada ibuku.
Saya tak Sudi dekat dekat pipa ibu ntar keluarga saya ketiban sial seperti keluarga ibu ucapnya lagi kearah ibu dan aku.
Ibu pun membalas kata kata ibu Dina"? lho ibu yang menaruh pipa dekat pipa saya,apa ibu buta atau pikun atau sengaja mencari gara gara sama keluarga saya ucap ibu dengan nada tinggi.
Sudah Bu.. ucapku melihat wajah Bu Dina merah padam menahan rasa marah Karena ucapan Ibu barusan.
Ibu menatap nyalang pada ku, situ baru disini ?" jangan sok dan buat masalah dengan kita warga desa ini bentak ibu lagi.
__ADS_1