
Tiba di kediaman Sania hatiku berdebar tak karuan rumah mewah dengan interior design rumah yang memukau.
Dengan tiang rumah sangat besar juga halaman rumah yang luas didepan rumah, sungguh pemandangan yang luar biasa bagiku.
Dimata ku tampak disebelah kiri ku beberapa mobil mewah yang terparkir di garasi mobil.
Ayo" Bergegas teguran Sania sempat membuat ku terkejut, ayah bisa bertanduk padaku karena lama menunggu.
Papi... panggil Sania pada ayahnya.
mbok Tati ayah dimana?
tuan lagi duduk dengan ibu ditaman belakang.
jawab pembantu rumah tangga
ya" sudah mbok biar aku kesana timpal Sania pada pembantunya.
Papi dan mami tukas Sania saat tiba di kursi taman.
Sania kok kamu lamaan banget "nih papimu nyampe gerah nungguin kamu.
Maafin Sania mami' itu pacar yang kamu ceritain, Beberapa hari yang lalu ujar papi pada Sania.
Iya" Pi..kok muda sekali ujar papi sambil melihat kearah ku.
umur mu berapa?
kerjaan kamu apa?
ini persis polisi yang mengintrogasi terduga pembunuhan saja batinku berdialog.
umur saya 25 tahun dan pekerjaan saya adalah penjual bakso tukasku berusia setenang mungkin.
satu bulan berapa omset penjualan bakso
tukas Papi Sania Bosku " kisaran Rp.200 sampe 500 ribuan timpal ku.
Coba diminum teh ini' jika jawaban mu memuaskan, saya akan memberitahu kamu layak tidak kamu menjadi menantu saya.
Gak nyangka begitu sulit bagiku untuk menjadi menantu dari orang kaya benakku.
akupun meminum minuman yang diatas meja dan sesaat dimulut rasa pahit begitu membuat aku mau muntah.
Gimana rasanya ?tukas Papi Sania.
aku pun menimbang nimbang didalam hatiku.
jika bilang manis tetapi rasa nya pahit.
__ADS_1
tetapi aku berbohong jadi kebiasaan nantinya.
Kalau begitu jujur saja daripada dipenggal leherku dengan pisau.
terima saja nasibku.
Gimana? tatapan penuh penekanan.
rasanya pahit pak
jawabku sembari menunduk.
Benar rasanya pahit ?
tak berbohong sambungnya lagi.
Tidak pak" sahutku cepat.
Wah' kamu orang yang jujur dan apa adanya inilah menantu yang Papi inginkan.
Ucap Papi dengan lantangnya.
sontak aku terdiam.
jadi aku tadi diuji oleh Papi Sania
Ayo" kita ngobrol di jembatan itu"
tukas Papi Sania padaku.
akupun membuntuti langkah nya.
bak kambing yang mengikuti keinginan pengembala kambing.
Nama kamu siapa timpalnya padaku?
Nama saya?
Zeldar jawabku singkat.
apa kamu yang mau menjadi supir pribadi Sania anakku.
Kok papi malah nanyain soal itu sich gerutu ku, iya'balasku sambil merendah diri.
terus ada apa tidak latihan lagi?
saya tidak sengaja menyerempet motor yang terparkir di pinggir jalan sahutku Jujur.
obrolan ringan berlalu begitu saja antara aku dan papinya Sania, ternyata Papi Sania tidak seperti yang ada di dalam pikiran ku.
__ADS_1
Karena sudah siang, Gimana kalo kamu makan siang bersama kami " tukas mami Sania yang tiba-tiba muncul dibelakang kami.
Ayo' tidak apa-apa tukas Papi Sania padaku.
akupun berkata" terima kasih sebelumnya.
Gak usah berterima kasih segala timpal orangtua Sania bersamaan.
kamu sudah kami anggap menantu kami.
ucap Papi Sania disambut juga oleh ibunya Sania.
Hatiku berlonjak girang begitu saja mendengar penuturan orang tua
Sania.
Akupun menarik nafas lega dan bergumam terima kasih Tuhan.
makanan diatas meja begitu membuat air liur ku hendak menetes keluar.
ayo' kita berdoa dulu ujar Papi Sania.
Zel kamu yang berdoa untuk berkat Tuhan didepan mata kita ini.
akupun berdoa menunduk kan kepalaku.
Ayo'kita makan" ujar Papi Sania.
Sania ambilin sayang buat calon suami mu ucap ibu Sania.
Sejenak aku dan Sania bertatapan mata ' Gak usah biar aku saja' sanggah ku pada ibunya Sania.
Sania lalu mengambil alih piring didepanku dan mengisi nasi, ikan,
sayur,serta ayam goreng kremes.
Kutahu Sania grogi padaku " wajahnya nampak menggemaskan ketika malu padaku.
Sania satu Minggu mami dan papi rasa cukup untuk mempersiapkan pernikahan kamu dan Zeldar.
ucapan Ibu membuat aku dan Sania tersedak makanan "Papi segera memberikan aku air putih.
begitu pula mami memberikan Sania air putih " makan nya pelan Pelan saja Sania, gak ada yang merebut makanan mu tukas Ibu Sania.
Dengan mengulum senyum manis nya
Gimana" Pi?
lebih cepat lebih baik kan? tatapan Ibu Sania beralih menatap kearah suaminya.
__ADS_1