Stories Of The Heart

Stories Of The Heart
Episode 7.Ritual adat didesa.


__ADS_3

Hari ini aku gegas bersiap untuk berangkat ke seberang bersama orang tua ku.


Setelah seminggu ulangan semester ganjil tiba saat nya libur sekolah gumamku.


Dengan berjalan kaki menuju pelabuhan pasar seni, tetapi saat tiba di pelabuhan.


Situasinya sepi hanya kami bertiga saja, sang pembawa kapal rugi katanya kalo hanya sedikit orang yang mau menyebrang.


Satu jam menunggu..


Belum nampak orang yang mau menyebrang sampai beberapa menit kemudian ada beberapa anak sekolah yang mau menyebrang.


barulah sang pemilik kapal mau menyebrang kan kami kesebrang bukan kali ini saja' tetapi setiap liburan semester sekolah aku begini.


15 menit kemudian aku tiba disebrang, dengan menempuh jarak 2km aku dan orang tua ku tiba dirumah.


Tempat tinggal ku terletak di pinggir kota, tetapi meski dipinggir kota ; lantas tidak membuat akses listrik dan jalan layaknya seperti dikota.


15 tahun tanpa adanya aliran listrik, membuat desaku seperti desa mati, itulah sebabnya mengapa aku bersedih.


setiap kali pulang kedesaku"namun disini aliran air dari gunung begitu jernih hanya itu hal terindah di desaku.


Aliran air gratis tanpa dipungut bayaran,

__ADS_1


panggilan ibu sontak membuat aku terkejut.


ibu dan ayah mau kebun, ikut serta kah"?


pinta ibu padaku,aku ikut jawabku singkat sambil memakai pakaian serba panjang.


khas seorang petani,kebun yang kami tanami sayur mayur bukanlah milik kami tetapi meminjam lahan orang yang tidak mengelola nya.


aku mengikuti langkah ibu dan ayah menuju kearah jalan kecil yang sengaja dibuat Ayah untuk memasuki lahan kebun sayur sayuran.


Sudah dua jam berlalu tetapi aku masih mengerakkan parang untuk menebas rumput rumput liar dikebun sayur.


wajah ku tidak seperti ayah dan ibu, rambut lurus, mata sipit, kulitku putih,dan badan ku tinggi.


Dengan masih menjunjung tinggi nilai adat istiadat didesa ku,.


menjelang sore aku bersama orang tua ku pulang kerumah, setelah selesai makan malam.


ibu berkata" Zel kamu dirumah atau ikut kami, Bu joya sakit jadi ada acara Belian


dilamin.


aku ikut jawabku sambil bersiap mengenakan jaket, karena kalo malam hari disini teramat dingin.

__ADS_1


Tiba disana ayahku langsung menuju ke kumpulan orang penabuh gendang,aku dan ibu menuju kepinggir rumah.


sebenarnya aku tidak terlalu yakin pengobatan tradisional seperti ini betul-betul menyembuhkan.


Seorang penari Belian bertelanjang dada mengintari balai balai yang disusun sedemikian rupa dengan ucapan ucapan yang tidak kumengerti.


sambil menuju Bu joya mengusap kepala dengan semacam daun palem dan setangkai pinang.


rasa ngantuk berat buatku tertidur, entah jam berapa"? bangun ayo..kita pulang" ujar ibu padaku.


akupun bangkit dan berdiri terus berjalan menuju kearah rumah bersama ayah dan ibu ku, yang jaraknya sekitar 40 m dari lamin.


tiba dirumah akupun merebahkan tubuh ku diatas tempat tidur, setelah tadi sudah berdoa bersama orang tua ku.


Menjelang dini hari ' aku terbangun saat rasa dingin sampai keubun ubun kepalaku.


Mungkin karena rumah ku dibangun di atas batu batuan,jadi lah dingin seperti tubuh terkena es, batinku.


Ibuku sudah bangun lebih awal, sudah menjadi rutinitas sehari-hari ibuku memasak nasi dan sayur sebelum hari terang.


Usai sarapan pagi kembali aku dan orang tua ku kekebun yang kemarin, kali ini ibu membawa bekal untuk makan siang kami.


Ibu dan ayahku nampak sudah begitu tua itu terlihat diwajah mereka, tetesan keringat membasahi wajah dan tubuh ayahku.

__ADS_1


__ADS_2