
Persiapan pernikahan ku sudah mencapai tahap 80% itu menurut Sania calon istriku.
Akupun begitu senang mendengar penuturan Sania tetapi aku seminggu ini tidak diperbolehkan bertemu dengan Sania.
hanya lewat HP kami saling bertukar informasi dan melepas rasa kangen.
hal yang aku lakukan seperti biasa
membuka warung bakso.
Hari ini panas begitu menyengat kulit
kuberjalan menuju ke salah satu warung untuk membeli batu es.
sedangkan warung kutitipkan pada ayahku.akupun kembali ke warung ku, Zel tadi HP mu berdering berulang kali.
coba kamu lihat dulu ujar ayahku.
HP ku berdering lagi.
hallo? benar ini nomor Zeldar? pertanyaan itu sontak membuat ku terkejut.
iya' sahut ku saya, Om
Sania saya,ingin menyampaikan kalo orangtua Sania kecelakaan dijalan Danau lipan.
Aku bergegas menuju rumah sakit dimana orangtua Sania telah berada.
tiba di rumah sakit.
Aku melangkah cepat kearah UGD suara tangis pilu begitu mengundang perhatian semua orang.
__ADS_1
aku mendekati suara tangis itu ternyata Sania" Zel..mamiku meninggal dunia ujarnya sambil menatapku.
Kuat ya' Sania ada aku disini ujarku. Sania ayahmu ingin berbicara padamu tukas seorang wanita pada Sania.
Sania menarik tanganku menuju keruang sebelah yang pembatas nya hanya tirai.
Papi ini Sania.
Sania..Papi akan menyusul mamimu tukas Papi terbata bata.
Papi tolong jangan tinggalkan Sania sendirian.
Zeldar menikahlah dengan Sania, saya sudah mewariskan harta saya pada Sania semuanya.
Sania Papi ingin bicara dengan Zeldar bisa tinggalkan Papi sama Zeldar ucap Papi pada Sania.
Zeldar...cari pemilik Kalung ini. karena ini Papi temukan tepat dibawah pintu mobil Papi.
Baik' akan saya cari sesuai permintaan Papi ucapku tegas.
Sania masuk dan berkata" Papi udah diam jangan banyak bicara.
Tiba-tiba Papi Sania kesulitan untuk bernapas dan Papi pun menghembuskan nafas terakhirnya.
tangis Sania pecah, Sania ujar wanita tadi kita harus segera menguburkan Papi dan mamimu tukas nya sambil mengelus rambut panjang Sania.
Bentar lagi tante" timpal Sania. beberapa jam kemudian Sania ayo' kita ketempat orang tua mu akan dikuburkan tukas tante Sania.
Sania pun mengikuti langkah tante keluar rumah sakit langsung menuju kearah mobil ambulan.
Tiba disana semuanya sudah siap tangis Sania sangat memilukan hati ku perlahan ku mendekati Sania.
__ADS_1
iapun meletakkan kepalanya di dadaku sesaat detak jantungku berdegup kencang.
Dikediaman Sania.
Zel... aku ingin besok kita segera menikah.
aku sudah menghubungi Pendeta yang akan memberkati pernikahan kita tukasnya.
Baik kalo itu mau mu? sahutku.
meskipun aku ragu dengan perkataan ku sendiri.
Aku mengantarkan Sania kerumah nya"
dirumah nya ada dua orang pembantu.
dan 2 orang satpam.
Non.. Sania ? tukas
dua orang pembantu Sania memeluk Sania yang kuat dan sabat ya non" tukas pembantu Sania.
akupun berniat untuk pulang tetapi tiba-tiba Sania berkata" jangan pulang dulu ya"
ikut ibadah penghiburan.
O baik lah ucapku dengan lesu melihat kearah wajah Sania rasa iba muncul dibenak ku membuat ku enggan menolak permintaannya.
Beberapa orang sudah masuk kedalam rumah ini , setengah jam kemudian ruang tamu nampak penuh orang.
Ibadah pun dilakukan mulai menyanyikan pujian setelah itu mendengarkan Firman Tuhan.
__ADS_1