Stories Of The Heart

Stories Of The Heart
Episode 19.Sebuah Amanat.


__ADS_3

Tidak terasa 6 bulan sudah usia pernikahanku dengan Alissa.


ternyata semuanya tak semudah yang aku bayangkan.


tetapi mau tidak mau aku harus menjadi laki laki yang bertanggung jawab atas rumah tangga ku.


Kutatap sendu pada Alissa ia masih dengan posisi nya makan sambil tiduran di depan televisi.


aku harus membagi waktu antara bekerja dan mengurus rumah tangga ku, tetapi Alissa sibuk sendiri dengan kerjaan nya.


Akupun membereskan rumah dan memasak sarapan pagi " Sa.. sarapan sudah masak, buruan bangun tintah ku.


Zel...bantu aku? rengek nya sembari tersenyum manja padaku" baik lah' ujar ku sambil menuju ke arah nya.


Zel...aku bosen kalo menunya ini "keluhnya menatap wajah ku" Sa...kita musti berhemat berapa bulan lagi kamu akan lahiran, ucapku datar.


Soal biaya lahiran aku udah ada simpanan; jadi jangan terlalu berhemat " kalo menunya ini terus-menerus anak mu bisa bisa kurang gizi cecarnya kearahku.


Apanya kurang gizi batinku bukan kah telur bagus untuk kesehatan,tapi sudahlah"! gumamku dalam hati.


kalo aku meladeni kata kata nya bisa telat aku berangkat kerja benakku ; bersyukur masih ada makanan ujar ku sembari keluar dari rumah.


Tiba di warung bakso.

__ADS_1


Zel..sapa Bu Rina padaku.apa ada omongan yang penting? ucapku.


begini Zel..ibu mau pulang ke Jawa dan warung ini kamu yang mengelola nya.


Maaf" Bu...aku tidak bisa tolak ku ? kenapa tidak bisa"? tanya Bu Rina padaku saatku terdiam hanyut terbawa pikiran ku sendiri.


Aku tidak yakin aku bisa" keluhku. pasti bisa? Zel.. timpal Bu Rina padaku " ibu Rina mengajariku semuanya seminggu lamanya.


hari ini ia menyerahkan kunci warung padaku" nak" ujar Bu Rina kearah ku ; kalo ada sesuatu telpon aja jangan sungkan, baik' ibu sahutku cepat.


Orang tua ku menginap dirumah ku sudah dua hari ini; Zel... maaf ibu menegur istrimu tadi karena ibu ingin ia menjadi istri yang bisa mengurus rumah tangganya.


Ujar ibu padaku, tidak apa? Bu sahut ku ia sudah ku nasihati tetapi rupanya ia tidak ngeh kata kataku.


tetapi ia tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga,itu penyebab utama nya.


Malam sesudah makan,aku bercerita tentang Bu Rina yang meminta ku mengelola warungnya.


ibu dan ayah nampak tidak percaya dengan perkataan ku, apa itu benar Zel ?


ayah ku memastikan apakah ia salah dengar.


Benar ayah" tadinya aku pikir juga gak mungkin tetapi saat aku dikasih kunci warung baru aku percaya selorohku sembari tersenyum tipis pada kedua orang tua ku.

__ADS_1


Yah" berarti aku butuh orang dong buat melayani pembeli ujar ku pada ayah ?"


coba tanya ke Alissa.


sapa tahu ia mau membantu mu"? nasihat ayahku ; aku rasa ia tidak mau Yah"apa lagi ia hamil ia pasti kesulitan berdiri dan duduk.


Jelas ku pada ayah" ayah bisa membantu mu balas ayahku., baik lah mulai besok kita buka warung.


Menjelang akan pagi aku mengendarai motorku menuju kepasar " membeli daging serta kebutuhan untuk berjualan.


Jam 08 : 00 warung bakso aku buka, jujur saja ini begitu buatku degan degan masalah nya aku sendiri yang meraciknya.


tetapi mengingat kembali cara yang dikatakan Bu Rina akupun mencoba nya meracik sendiri buat ayahku.


ni ayah dimakan ucapku pada ayahku: ayah menatapku sejenak dan berkata" baik'lah ayah akan memakannya.


Ayahpun memakan bakso buatan ku gimana enak' tanyaku penasaran?


enak sekali rasanya jawab ayahku.


Akh'aku tidak percaya sahut ku pada ayah.akupun mencoba sendiri terutama kuahnya.


Dan ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan buatan Bu Rina.,aku pun tersenyum tipis.

__ADS_1


syukurlah, ujar ku dalam hati sembari menatap kearah ayahku yang membantu mengelap meja bekas makan penikmat bakso.


__ADS_2