Suami Ku Yang Cacat

Suami Ku Yang Cacat
Episode Kesembilan


__ADS_3

Citra mengajak Arga jalan jalan ke taman kota, Arga sangat memerlukan udara yang sangat segar untuk kesehatan nya. Di rumah saja pasti membuat Arga sangat bosan, terbukti sedari tadi Arga beberapa kali tersenyum melihat hal hal yang ada di sekitar nya. Dari cara nya menatap sekitar nya terlihat dengan jelas Arga merindukan hal seperti ini.


"Tuan kita makan bubur yuk," ucap Intan.


"Boleh, dimana ada bubur," tanya Arga.


"Nanti ada, beberapa kali saya berlangganan," jawab Citra.


Beberapa kali handphone Citra berdering, Citra berusaha untuk mengabaikan nya tetapi sudah sangat menganggu bagi Citra dan Arga.


"Mas Darka menghubungi ku lewat nomor asli ku," ucap Citra yang sangat terkejut.


"Apa.." Dengan cepat Arga mengambil handphone Citra.


Tadi Arga menghubungi Darka dengan nomor cadangan Citra, sekarang Darka menghubungi Citra dengan nomor yang biasa Citra gunakan, apa yang sedang terjadi, Arga benar-benar sangat penasaran.


"Ada apa? ini siapa ya?" Arga mengirimkan pesan wa ke Darka. Tak lupa Arga memblokir Darka dari nomor cadangan milik Citra agar Darka tidak curiga apa apa.


"Abaikan saja sejenak, nanti di rumah baru di balas." Arga mengembalikan handphone Citra.


Di rumah Darka sangat senang mendapatkan respon dari istri nya Arga. Ia sudah merencanakan hal yang sangat bagus untuk membuat Arga dan Citra berpisah. Darka akan mendekati Citra dan mengambil Citra dari Arga, pasti dengan demikian Arga tidak akan bisa mempunyai anak.


"Ya pasti dia akan suka dengan ku, Arga cacat begitu. Siapa yang ingin hidup dengan manusia cacat dan merepotkan," ucap Darka.


Seperti nya rencana Darka beriringan dengan rencana yang Arga buat. Kali ini Darka sendiri yang menyerahkan diri nya pada Arga.


Arga dan Citra melanjutkan kegiatan mereka berdua, dari makan bubur sampai jalan jalan ke pinggir Danau. Mereka berdua terlihat semakin dekat saja, walaupun Arga seperti masih memberikan batasan bagi Citra agar tidak terlalu dekat dengan nya. Hal itu wajar karena mereka baru sehari menikah.


Setelah di rasa cukup ke dua nya memutuskan untuk pulang ke rumah, di perjalanan mata Arga tertuju pada tempat ngegym yang biasa nya ia kunjungi, ada rasa ingin Arga untuk kembali ke sana lagi, tetapi dengan fisik nya yang seperti ini apakah bisa dia berkunjung ke sana lagi.


"Ada apa tuan," tanya Citra yang melihat Arga sedikit melamun.


"Tidak papa," jawab Arga.


Sesampainya di rumah Arga ingin bertemu dengan mamah nya, ada hal yang ingin Arga minta. Kalau di rumah ayahnya ada tempat yang ia inginkan, tetapi kalau di sini tidak ada yang membuat Arga menginginkan nya.


"Ada apa," tanya Ismi.


"Aku ingin ruang gym," jawab Arga.


"Mahal sayang," kata Arga.

__ADS_1


"Pakai uang ku," ucap Arga.


"Hahaha mamah bercanda sayang, iya nanti mamah dan paman yoga akan menyiapkan nya."


"Terimakasih mah," ucap Arga.


Arga sangat lega mamah nya mau memberikan apa yang ia inginkan. Ia meminta Citra untuk kembali mengantarkan nya ke kamar.


"Mau makan apa tuan," tanya Citra.


"Apa saja, berikan handphone mu padaku," jawab Arga.


"Ah tuan saya jadi tidak memiliki privasi."


"Untuk apa ada privasi sama suami sendiri." Arga mengambil handphone Citra, ia ingin tau balasan yang Darka berikan dari pesan nya tadi.


"Tidak ada, hanya ingin berkenalan saja dengan istri abang ku sendiri." Arga membaca hal itu malah ingin muntah.


"Oh jadi kau ingin mendekati istri ku, bagus lah kau sendiri yang masuk ke dalam rencana ku," ucap Arga.


Arga bersikap seolah-olah Citra yang membalas semua pesan itu, ia ingin sejauh mana Darka beraksi.


"Untung istri ku tidak wanita gatal, jika sampai begitu pasti dia memilih Darka," batin Arga, ia baru merasa bersyukur menikah dengan Citra.


"Makan tuan.."


"Kenyang," ucap Arga yang masih fokus dengan handphone Citra.


"Buah buahan saja." Citra duduk di samping Arga.


Arga membuka mulut nya, pertanda ia ingin Citra suapin. Dengan senang hati Citra pun menyuapi Arga, jarang jarang ia bisa melakukan hal ini.


"Handphone mu lelet sekali," ucap Arga.


"Handphone keluaran lama tuan jadi maklum saja lah," kata Citra.


"Beli baru, aku sangat memerlukan nya," ucap Arga.


" Bagaimana tuan? apa yang tuan rencana kan," tanya Citra.


"Dia mendekati mu, seperti nya dia berniat mengambil kau dari ku, kalau kau mau ya sana, aku tak membutuhkan mu."

__ADS_1


"Jadi boleh nih," tanya Citra.


"Jadi kau mau!!!" Arga langsung menatap tajam Citra.


"Hehehe tidak tuan, suami saya hanya tuan seorang, saya akan setia pada tuan apapun yang terjadi."


"Bagus lah, awas saja kau macam macam, handphone mu aku yang pegang," ucap Arga,


"Mana buah nya lagi, lambat sekali."


Meskipun Arga suka marah marah pada nya, Citra merasa Arga pria yang sangat menarik. Getaran getaran perasaan aneh sudah Citra rasakan. Mungkin memang ia baru sehari menikah dengan Arga tetapi ia sudah merawat Arga lebih dari seminggu. Setiap hari bertemu dan melihat bagaimana Arga sedikit membuat Citra tertarik dengan Arga. Di mata Citra Arga pria yang sangat berbeda dari pria lain nya.


"Tatapan mu," ucap Arga yang bingung dengan cara Citra menatap nya.


"Saya pijat lagi ya," kata Citra.


"Tidak usah, tidak ada gunanya," ucap Arga.


"Tuan ayo lah kita ke tempat terapi, aku mempunyai teman yang ayahnya bisa menerapi orang. Tuan minum obat kalau tidak di bantu dengan terapi tidak akan sembuh tuan."


"Kau sibuk sekali, aku yang tidak sembuh kenapa kau yang repot," ucap Arga.


Citra hanya menghela nafas nya dengan perlahan, menghadapi Arga memang harus penuh dengan kesabaran.


"Kenapa? menyesal menikah dengan ku?."


"Tidak, saya tidak pernah menyesal menikah dengan tuan Arga, untuk apa menyesal," kata Citra.


"Halah katakan saja menyesal, kalau tidak suka langsung saja kau ke pengadilan agama sana, minta pisah."


Citra beranjak dari atas ranjang hal itu membuat Arga kebingungan.


"Mau kemana," tanya Arga.


Citra mengerutkan dahinya, kenapa Arga seperti takut ia pergi, padahal ia hanya ingin buang air. kecil saja.


"Kamar mandi, saya tidak akan ke pengadilan agama, tuan Arga jangan takut," ucap Citra.


"Siapa yang takut," kata Arga.


Padahal sebenarnya Arga takut Citra benar-benar ke pengadilan Agama.

__ADS_1


Citra hanya tersenyum kecil dan berjalan menunju kamar mandi.


__ADS_2