
Satu minggu telah berlalu, Arga sudah mendapatkan banyak bukti baru lagi. Ada satu bukti yang membuat Arga cukup tercengang, tatapi ia masih bisa menahan semuanya. Ia ingin semuanya sesempurna mungkin saat ia bongkar.
"Sayang kamu sudah siap," tanya Citra.
"Sudah, kita berangkat sekarang," jawab Arga.
"Iya.."
Hari ini mereka berdua kembali ke rumah Alam, ada undangan dari Alam untuk makan malam bersama, Arga juga akan kembali masuk kantor karena diri nya merasa sudah siap untuk bekerja. Seperti nya Alam akan mengumpulkan kembali nya Arga ke perusahaan pada keluarga besar.
"Mas kamu tidak ingin membongkar semuanya sekarang kan," tanya Citra.
"Tidak lah, aku tidak akan membongkar nya sekarang. Aku masih ingin memberikan mereka berdua kebebasan untuk bernafas," jawab Arga.
"Apa yang kamu pikirkan aku tidak tau mas, aku harap semua nya akan baik baik saja," ucap Citra.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah Ismi dan langsung menuju rumah Alam.
Di sana sudah banyak keluarga yang berkumpul, mereka hanya tinggal menunggu Arga dan istri nya. Satu lagi Darka dan Lina juga belum menampakkan diri mereka sejak tadi.
"Mah aku sudah lelah," ucap Darka.
"Maksud mu," tanya Lina.
"Mah kenapa aku harus menjilat semua orang untuk suka dan membela ku. Apakah aku tidak semenarik Arga, ayah juga lebih pro ke Arga, sebenarnya aku ingin hidup dengan bebas tanpa sandiwara seperti ini. Pasti nanti ada saja hal yang membuat ku pusing," jawab Darka.
"Kau jangan macam macam Darka, ikuti apa yang mamah katakan," ucap Lina.
Seperti nya Darka sudah mulai lelah dengan semua ini, Darka mulai sadar jika ini bukan dirinya, ia seperti tertekan dengan kehidupan nya. Ia sadar begini bukan karena diri nya sendiri, tetapi karena Citra yang ia temuin beberapa kali dalam seminggu ini, Citra memberikan nya banyak masukan yang membuat otak Darka terbuka dengan lebar.
"Darka kau ingat jangan buat ayah mu terlalu memihak Arga," kata Lina.
"Hmmmm," gumam nya.
"Dan kau harus bersikap manis pada Arga, tunjukan pada semua orang kau tidak ada niat untuk bermusuhan dengan Arga," kata Lina.
"Iya mamah, aku akan membuat semua orang yakin," ucap Darka.
__ADS_1
Darka memutuskan untuk masuk ke rumah lebih dulu, saat berada di pintu Darka melihat Arga dan Citra turun dari dalam mobil. Mereka berdua baru saja sampai.
"Itu Darka," ucap Citra.
"Bersikap biasa saja," kata Arga.
"Selamat datang Arga Citra," ucap Darka yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Iya, makasih Darka," kata Citra.
"Aku saja." Darka bergerak mendorong kursi roda Arga.
Ntah kenapa kali ini Arga diam saja, tidak marah marah seperti biasa nya.
"Bagaimana kabar mu? sudah lebih baik," tanya Darka.
"Ya begitu lah, aku sudah bisa KEMBALI KE KANTOR." Arga menekankan beberapa kata untuk menusuk Darka secara perlahan.
"Sial, dia ingin kembali ke kantor," batin Darka.
Semua orang terkejut melihat Darka mendorong kursi roda Arga. Termasuk Alam yang sangat suka dengan momen ini.
"Darka kamu memang yang terbaik, cucu nenek sangat bisa di andalkan."
"Iya nek," ucap Darka.
Begitu mudah nya Darka mengambil perhatian orang di rumah ini. Ia tau dengan seperti ini pasti akan mendapatkan pujian. Tetapi apakah dia nyaman? karena ini bukan diri nya, ini karakter yang mamah nya bentuk untuk mengambil perhatian orang lain, ntalah hanya Darka yang tau tentang diri nya.
Tak lama Lina juga datang dan acara pun berlangsung. Seperti biasa nya pertama di awali dengan makan malam bersama, setelah itu baru membahas perkembangan perusahaan dan masalah keluarga lainnya.
"Dengarkan baik baik, Arga akan kembali ke kantor minggu depan. Posisi yang Darka duduki selama ini akan kembali pada Arga dan untuk Darka ayah akan mencari kan posisi baru untuk mu," ucap Alam.
"Ayah.."
"Sayang kamu kok begini sih. Darka sudah nyaman dengan pekerjaan nya," ucap Lina.
"Iya Alam untuk apa sih, ayah tidak setuju dan yang lainnya pasti tidak setuju."
__ADS_1
"Mamah juga tidak setuju Alam. Darka tetap harus di tempat nya, Arga masih belum bisa apa apa, bukan nya membantu takutnya Arga malah merepotkan banyak orang."
"Nenek kakek, apakah aku pernah merepotkan kalian? kenapa sebegitu nya kalian padaku. Aku tidak meminta posisi itu, aku hanya ingin kembali ke perusahaan agar ilmu ku bisa berkembang. Aku mempersiapkan diri ku agar tidak bingung saat menggantikan ayah ku nanti," ucap Arga.
"Ya sudah kalau aku di gantikan oleh Arga, aku tidak masalah. Dia memang lebih berhak dari ku, aku bersedia di letakan di mana saja," ujar Darka.
"Kamu serius sayang, anak mamah memang tidak pernah egois memikirkan dirinya sendiri," ucap Lina.
"Iya mah, aku serius," kata Darka.
"Kalian berdua memang penjilat yang besar, terus lah bersikap seperti itu. Ambil perhatian semua orang di sini, aku tidak membutuhkan mereka," batin Arga.
"Kamu siap Arga, ayah menunggu mu minggu depan," ucap Alam.
"Ahkkk aku tidak nyaman begini," batin Darka
Darka sangat muak seperti ini, ia tidak suka posisi nya di ambil Arga. Tetapi ia berkata seolah-olah diri nya tidak papa Arga mengambil posisi nya.
"Darka dan Arga ayah ingin berbicara dengan kalian ayo ke ruangan ayah," ucap Alam.
"Sayang kamu ke kamar saja ya, tunggu aku di sana," kata Arga.
Arga tidak mungkin membiarkan istri nya berada di tengah tengah mereka semua.
"Iya... Aku menunggu mu di sana." Citra pun pergi dari sana.
Darka, Arga dan Alam juga pergi meninggalkan tempat itu. Alam tidak langsung ke ruangan nya, u ke kamar sejenak untuk mengambil sesuatu. Sedangkan Darka dan Arga langsung ke ruangan nya.
"Kita sudah berdua stop bersandiwara lagi," ucap Arga.
"Hahaha kau tau aku bersandiwara, ya aku memang sudah muak dengan pura pura suka dengan mu, aku membenci mu Arga," kata Darka.
"Hahaha terus menjadi penjilat Darka, ambil perhatian semua orang pada mu, perhatian mereka juga yang akan menghancurkan diri mu," ucap Arga.
"Satu lagi, kau tau boneka wayang. Dia selalu di gerakan oleh orang di belakang nya. Dia bergerak tanpa keinginan nya. Bukannya itu seperti mu, kau bergerak karena mamah mu, bukan karena keinginan mu. Selamat jadi boneka mamah mu," kata Arga.
"Hey kalian tidak papa kan, kenapa kalian saling menatap seperti itu."
__ADS_1
"Tidak papa ayah, ayo mulai saja," ucap Arga.