Suami Ku Yang Cacat

Suami Ku Yang Cacat
Episode keenam


__ADS_3

Hari yang sudah di rencanakan pun datang, hari pernikahan Arga dan Citra yang menjadi harapan banyak orang. Mereka berdua tidak ingin menggelar acara besar, hanya pernikahan sederhana saja, apalagi Arga belum bisa bertemu dengan banyak orang. Sedikit dikit emosi nya masih tidak teratur.


"Ayah bangga pada mu," ucap Alam.


"Dia datang," tanya Arga.


"Akan datang," jawab Alam.


"Aku tidak mau bertemu dengan nya."


"Arga dia adik mu, kenapa kamu seperti ini si," tanya Alam.


"Itu dulu ayah, sekarang dia bukan adik ku, dia penyebab aku seperti ini Ayah!!!"


"Arga!! jaga mulut mu, bagaimana orang lain dengar, ingat siapa kita dan keluarga kita."


"Ayah!! kalau ayah hanya ingin memarahi ku, pergi dari sini pergi!!!!." Arga berteriak dengan sangat keras.


Nafas nya naik turun dengan sangat berat, itu pertanda emosi nya mulai tidak terkontrol. Alam yang melihat itu langsung berusaha menenangkan Arga, jangan sampai pernikahan Arga gagal karena nya.


"Sayang maaf, maafkan ayah. Ayah salah, jangan seperti ini." Alam memeluk Arga dengan erat.


Arga memejamkan mata nya untuk mengatur nafas nya, diri nya berusaha mengontrol emosi nya kembali, jangan sampai semua nya kacau. Semuanya sudah di siapkan sejak kemarin.


"Ayah keluar," ucap Arga.


"Iya, maafkan ayah.." Alam pergi meninggalkan kamar itu.


"Ada apa," tanya Ismi.


"Tidak papa, jangan masuk dulu ya. Sedang emosi dia," jawab Alam.

__ADS_1


"Jangan membuat nya kacau, semuanya sudah siap, jangan sampai pernikahan ini bermasalah," ucap Ismi.


"Iya tadi sedikit ada masalah," kata Alam.


Setelah semua siap pernikahan pun di laksanakan, Arga sudah siap untuk memulai pernikahan nya dengan Citra, jujur Arga sangat deg deg kan, ia tidak pernah seperti ini sebelum nya. Demi untuk menggapai apa yang ia inginkan Arga rela menikah dengan Citra wanita yang tidak terlalu ia kenal dan tidak terlalu ia suka.


"Citra sudah waktunya, mungkin kehidupan mu setelah ini akan lebih berat," batin nya sambil memejamkan mata nya saat Arga memulai pernikahan mereka berdua.


Dan akhirnya ke dua nya menjadi sepasang suami-istri. Semua orang yang berada di sana bahagia, kecuali Darka dan mamah nya yang tidak boleh datang, awalnya mereka ingin datang tetapi tidak boleh oleh Arga, Alam langsung meminta nya untuk tidak jadi datang. Mereka berdua benar-benar kesal kenapa Arga bisa menikah, kalau begini rencana yang mereka berdua lakukan sebelum nya akan gagal total.


"Selamat Arga," ucap Ismi.


Arga hanya tersenyum kecil, tak ada yang berarti di pernikahan nya, ini bukan pernikahan yang ia inginkan dulu. Usia nya sudah menginjak 24 tahun, sebelum kecelakaan itu pada saat usia nya 22 tahun Arga sudah memimpikan pernikahan yang luar biasa, tetapi kenyataan nya sekarang tidak sesuai dengan apa yang ia impikan.


Arga meminta masuk ke kamar, ia tak nyaman berada di sana, terlalu banyak orang yang membuat Arga merasa terancam, ia lebih suka menyendiri dengan berbagai macam pikiran yang menghantui nya.


Citra ikut masuk ke kamar bersama dengan Arga, mereka berdua sudah sekamar bersama. Kamar yang mereka berdua gunakan sekarang kamar Arga sebelum nya. Arga tak mau di pindahkan kemana mana, ia sudah terlanjur nyaman berada di sana.


"Jangan sok baik pada ku, ingat kita menikah bukan karena cinta tetapi karena sebuah tujuan," kata Arga.


Citra hanya tersendiri mendengar hal itu, ia sudah mempersiapkan mental nya sebelum ini, jadi apa yang Arga katakan tak akan masuk ke dalam hati Citra.


"Aku bantu ya.." Citra berusaha untuk mengambil hati Arga, ia tau pasti sulit tetapi pasti bisa Batu yang terkena air secara konsisten saja pasti akan berlubang, hati Arga pasti akan luluh jika ia berikan perhatian pada Arga secara konsisten.


Arga membiarkan Citra melepaskan pakaian nya, Ia memang cukup kesulitan dan memerlukan bantuan dari Citra. Tubuh Arga sudah tak sebagus sebelum nya, lemak sudah mulai menutupi otot yang Arga bentuk dulu, meskipun begitu Arga tetap kelihatan gagah.


"Kenapa aku jadi malu," batin Arga.


"Ambil kan pakaian ku," ucap Arga.


"Biasa atau untuk tidur," tanya Citra.

__ADS_1


"Kau pikir sendiri," jawab Arga.


Citra mengambil pakaian tidur untuk Arga, walaupun Arga belum ingin tidur seperti nya memang sudah jam tidur. Nanti juga Arga tertidur tanpa harus mengganti pakaian nya lagi. Dari celana sampai baju Citra membantu memakai nya pada Arga, rasa sangat malu tetapi sudah menjadi tugasnya.


Mata Citra tidak fokus dengan tonjolan di antara dua paha Arga, walaupun tertutup dengan dalaman yang tebal tetap masih kelihatan. Citra berusaha untuk mengalihkan pandangan nya tetapi tidak dengan pikiran nya yang sudah kemana-mana.


"Citra kaki nya memang tidak bisa berjalan tetapi anu nya masih hidup, jangan sampai kau habis malam ini dengan nya di atas ranjang," batin Citra.


"Jangan berpikir yang macam macam," ucap Arga, ia seperti paham dengan apa yang Citra pikirkan.


"Tidak ada ah," kata Citra.


Setelah selesai Citra membantu Arga untuk naik ke atas kasur. Memiliki suami seperti Arga memang lebih melelahkan tetapi Citra tidak pernah keberatan, ia melakukan semua nya dengan ikhlas, apalagi sudah menjadi kewajiban nya sebagai seorang istri.


"Tuan Arga," ucap Citra.


"Iya ada apa, kau sibuk sekali," tanya Arga.


"Hmmm tuan ada rencana untuk ke depan nya, agar saya bisa membantu tuan Arga," jawab Citra.


"Kau kenal dengan Darko," tanya Arga.


"Ya saya tau dia tetapi dia tidak tau saya."


"Kau dekati dia, cari informasi yang berharga," ucap Arga.


"Tuan Arga seriuss," tanya Citra, ia cukup terkejut mendengar semuanya.


"Iya aku serius, aku ingin tau apakah benar dia yang membuat ku seperti ini, apa tujuannya sebenarnya, apa hanya ingin mengambil semua harta ayah ku atau ada tujuan lain," jawab Arga.


Citra belum memberikan jawaban, ia masih harus berpikir lebih dalam lagi sebelum mengambil keputusan yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2