
"Kamu ni seperti pertama kali saja," ucap Yoga.
"Mas aku sudah sangat lama sekali, aku jadi gugup," kata Ismi.
"Tidak papa, kita Perlahan lahan ya."
Keduanya sudah pernah menikah jadi ini bukan pengalaman pertama mereka berdua. Mungkin Ismi sedikit gugup karena ia baru pertama kali melakukan hal itu selain dengan Alam mantan suaminya dulu. Ia juga sudah sangat lama tidak melakukan itu karena ia sudah sangat lama bercerai dengan Alam.
Ismi selalu memperhatikan kebersihan milik nya, itu tidak membuat nya khawatir, ia hanya takut diri nya tidak bisa memenuhi apa yang Yoga inginkan.
"Seperti yang terlihat kamu masih sangat kencang dan seksi," ucap Yoga.
Malam ini seperti nya malam yang sangat indah bagi pasangan di rumah ini. Karena bukan hanya mereka berdua yang sedang menggapai surga dunia, Arga dan juga Citra juga tidak mau kalah juga. Arga tidak ingin papah nya mendahuluinya, ia ingin istri nya yang lebih dulu hamil dari mamah nya.
"Sakit sakit," ucap Ismi.
"Aku seperti melakukan nya dengan perawan," kata Yoga.
"Sakit mas, kamu tidak bisa pelan," ucap Ismi sambil memejamkan mata nya, mulut nya berbuka merasakan hal yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Milik kamu besar sekali, hmmm kamu tidak pernah menunjukkan nya pada ku," ucap Ismi.
"Untuk apa aku menunjukan nya pada mu sayang, sekarang kamu rasakan saja ya," kata Yoga.
Setelah bertahun-tahun lama nya akhirnya berdua kembali merasakan indahnya hubungan suami istri. Kenikmatan yang sangat mereka berdua rindukan.
Kembali pada pemeran utama Arga dan juga Citra. Setelah ke dua nya memadu kasih mereka berdua tidak langsung tidur. Ke dua nya duduk di atas kasur dengan masih tidak memakai apa apa, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Aku lapar," ucap Citra.
"Aku ambil makanan ya, di depan tadi ada," kata Arga.
"Tidak tidak, aku saja, kamu tunggu sini," tolak Citra.
"Tidak sayang, aku saja, kamu ribet harus ini itu, kalau aku hanya tinggal memakai celana saja sudah."
Arga tidak ingin istri nya terus yang kemana-mana. Ia masih bisa memberikan istri nya pelayanan walaupun harus lebih ekstra.
Citra tidak bisa melarang Arga, ia tidak ingin membuat Arga tersinggung, lebih baik ia memberikan Arga kesempatan untuk menunjukan kasih sayang nya sebagai seorang suami.
"Hmmm mas.."
"Apaan tu.." Arga melihat keseliling nya, ada suara yang sangat mencurigakan di telinga nya.
__ADS_1
"Dari kamar itu, bukan nya itu kamar kosong," ucap Arga.
Arga membawa kursi roda nya ke kamar itu, perlahan Arga membuka nya dan melihat apa yang ada di dalam.
"Sial.." Dengan cepat Arga kembali menutup nya.
Ternyata kamar itu kamar mamah dan papah nya, ia melihat betapa ganas nya papah nya di malam ini.
"Mas ada orang, kamu lupa kunci," tanya Ismi.
"Ahku aku tidak tau, nanti saja lah itu," jawab Yoga.
Arga harap orang tuanya tidak tau jika diri nya melihat mereka tadi. Arga sangat menyesal terlalu kepo dengan keadaan sekitar nya.
Ia mengambil beberapa makanan di atas meja dan kembali ke kamarnya.
"Kamu kenapa sedikit lama," tanya Citra.
Citra takut suaminya mengalami kesulitan.
"Tidak papa, tadi aku berhenti sejenak," jawab Arga berbohong.
"Aku pikir kenapa, makasih sayang," ucap Citra.
"Besok kita ke rumah bapak itu lagi ya," ucap Arga.
"Iya, sudah waktunya kamu ke sana, apakah kamu merasakan perubahan," tanya Citra.
"Iya aku merasakan nya, walaupun tidak banyak aku sudah merasakan nya," jawab Arga yang membuat Citra senang.
Saat sedang asik asik nya bermesraan handphone Citra berdering dengan kuat. Terlihat panggilan dari Darka. Arga kesal kenapa malam malam begini Darka masih menghubungi istri nya.
"Angkat saja," ucap Citra.
Citra mengangkat nya dan membesarkan volume suara agar Arga bisa mendengar semuanya.
"Ada apa," tanya Citra.
"Aku tidak bisa tidur, aku terus memikirkan mu, kapan kamu ke sini lagi?"
"Aku tidak tau, semuanya terserah suami ku. Dia sedang tidur sekarang, jadi aku tidak bisa berisik dan mengobrol dengan mu," kata Citra.
"Citra kau tidak bisa bertemu dengan ku besok malam," tanya Darka.
__ADS_1
"Untuk apa? aku akan pergi jika kamu mengatakan tujuan mu dengan jelas?"
"Aku ingin berduaan dengan mu, aku benar-benar menyukai mu," ucap Darka.
"Darka kau sadar tidak kalau aku itu istri abang mu, kau tidak takut abang mu marah pada mu," tanya Citra.
"Tidak lah, dia bukan abang mu, aku ingin dia mati saja. Padahal aku sudah susah payah merencanakan kematian nya tetapi tetap saja dia tidak mati di kecelakaan itu," ucap Darka.
"Apa! aku tidak paham dengan apa yang kamu katakan, jadi yang membuat Arga kecelakaan itu kamu," tanya Citra.
"Aku dan mamah ku, kami tidak mungkin membiarkan dia naik takhta, kami ingin dia mati tetapi dia tidak mati mati," jawab Darka.
"Darka sudah dulu ya, dia bangun." Citra dengan cepat mematikan sambungan telepon itu.
"Sayang," ucap Citra, ia sangat terkejut sekali.
"Aku sudah menduganya," kata Arga.
"Jadi bagaimana," tanya Citra.
"Aku harus lebih banyak mengumpulkan bukti, satu bukti sudah ada, tinggal beberapa bukti lagi untuk mendepak mereka dari rumah," jawab Arga.
"Hmmm mas kamu ada kepikiran tidak kalau Darka juga di manfaatkan oleh mamah nya untuk sebuah kekuasaan," tanya Citra.
"Mungkin saja bisa jadi, jujur awal aku bertemu dengan nya aku tidak begitu membenci nya tidak seperti pada mamah nya, dulu juga dia sopan pada ku. Aku tidak tau itu hanya untuk menutupi sifat asli nya atau memang itu sifat nya. Semuanya bisa berubah karena kekuasaan," jawab Arga.
"Kamu harus lebih banyak mengumpulkan bukti mas. Aku mendukung semua keputusan mu," ucap Citra.
Di rumah sana Darka sangat gelisah karena Citra. Ia sangat mencintai wanita itu sampai tidak bisa tidur. Darka sampai bingung kenapa dia bisa mencintai sosok Citra yang sudah jelas sudah di pakai Darka.
"Darka kamu belum tidur," tanya Lina.
"Eh mamah aku belum bisa tidur, mamah belum tidur," tanya balik Darka.
"Mamah menunggu ayah mu, dia belum pulang sejak tadi," jawab Lina.
"Darka bagaimana dengan Citra," tanya Lina.
"Aku tidak yakin mah, dia seperti nya mulai mencintai Arga, mungkin aku tidak bisa mendapatkan nya," jawab Darka.
"Loh kamu bagaimana si, kamu harus bisa mendapatkan nya, awas saja tidak bisa, kau harus bisa mamah andalkan," ucap Lina.
"Mamah kok begitu?"
__ADS_1
Tanpa menjawab Lina pergi meninggalkan Darka.