
"Ah kenapa aku sedih begini," ucap Darka.
Apa yang Citra katakan pada nya tadi terngiang-ngiang di otak Darka. Hal itu membuat Darka sangat pusing, mungkin beberapa hari ini Darka memilih menghindari konflik dengan Arga.
"Darka kamu mamah cari ternyata di sini," ucap Lina.
"Ada apa mah?"
"Apa yang ayah mu katakan tadi? terus bagaimana dengan Citra," tanya Lina.
"Pertama aku dan Arga akan bekerja sama untuk sebuah proyek, aku tidak bisa menolak nya karena ayah yang membuat proyek ini, kedua aku dan Citra sudah tidak memiliki harapan apa apa, baru saja Citra mengatakan pada ku jika dia tidak memiliki perasaan apa apa pada ku dan dia sudah mencintai Arga, dia tida ingin mengkhianati suami nya."
"Kau bagaimana si, mamah berikan pekerjaan seperti itu saja tidak bisa."
"Mah kenapa si harus terus seperti ini, aku sudah capek, ini bukan diri ku. Kenapa kita tidak seperti dulu saja mah, dulu kita tidak seperti ini, hidup kita sangat damai dan aku tidak tertekan dalam segala hal. Aku harus tampil sempurna di depan keluarga ku, aku harus berbuat seakan akan semua yang mereka katakan itu aku suka, padahal ada hal yang tidak aku suka. Kenapa hidup ku hanya untuk memenuhi keinginan orang lain. Umur ku 22 tahun mah, banyak hal yang harus aku lakukan untuk masa depan ku."
"Darka!!!"
"Maaf mah," ucap Darka.
"Siapa yang membuat mu seperti ini Darka, kenapa kau menyerah saat kita sudah hampir mendapatkan semua nya."
"Hampir mamah bilang, Arga sudah bangkit dia sangat pintar, kita tidak tau apa yang dia rencanakan, mamah apa tidak sadar jika kita semakin jauh dengan tujuan kita. Untuk beberapa minggu ini aku tidak mau berbuat apa apa mah, aku sudah sangat lelah dan aku ingin fokus dengan pekerjaan ku.''
"Satu lagi mah, fokus dengan ayah, apa mamah mau apa yang tante Ismi rasakan mamah rasakan juga. Ayah terlalu jauh dari mamah, aku tidak ingin hal itu terjadi." Darka pergi meninggalkan Lina sendiri, ia tidak mau berdebat terlalu panjang dengan mamah nya.
Lina benar benar kesal dengan Darka, anak itu sudah sulit untuk ia atur, ia membesarkan Darka tidak untuk seperti ini.
"Lina... Sedang apa kamu," tanya Alam.
"Eh sayang tidak ada. Kamu tidak jadi pergi," tanya Lina sambil mendekati Alam.
"Tidak, aku tidak jadi pergi, tadi sudah keluar tapi mendadak gagal."
"Ayo mas ke kamar, kamu tidak ingin memberikan Darka adik," tanya Lina sambil menggandeng Alam menuju kamar.
"Hahaha kau ini aneh, sudah berapa kali aku berkata dari Darka 3 tahun aku ingin mempunyai anak lagi, tapi kamu menolak nya. Sekarang kamu sudah tidak memberikan ku anak. Bukan nya kita mencoba nya sudah 5 tahun belakangan ini," ucap Alam.
__ADS_1
"Maaf mas, kamu tidak macam macam kan di luar sana, awas saja kamu mendapatkan anak dari wanita lain," ucap Lina.
"Kalau terjadi tak masalah, aku masih bisa menghidupi kalian," kata Alam.
Seminggu telah berlalu, hari ini Arga dan Darka akan kembali bekerja sama setelah sekian lama nya. Seperti nya rencana Alam untuk menyatukan mereka berdua bisa terwujud, asalkan tidak ada orang ketiga yang merusak rencana nya.
"Sayang ahhhhh..."
"Terimakasih," ucap Arga.
Ia langsung jatuh ke atas tempat tidur sambil mengatur nafas nya, sebelum bekerja ia ingin mendapatkan jatah yuang membuat nya bersemangat, apalagi ia akan berkerja dengan Darka.
"Seperti nya aku hamil deh mas," ucap Citra.
"Ha... Kamu serius? apa kamu sudah merasakan tanda tanda kehamilan nya."
"Belum si, aku sehari dua kali kamu goyang bagaimana aku tidak hamil," ucap Citra.
"Hahaha kata bapak yang menterapi aku kan, aku harus banyak berolahraga agar aku cepat sembuh, nah salah satu nya ya olahraga ranjang," kata Arga.
"Itu hanya asalan mu saja, cepat mandi sana, kamu harus bekerja bukan."
"Nah semoga saja dia berubah menjadi lebih baik lagi mas," kata Citra.
"Hmmm jangan terlalu dekat dengan nya kamu ya," ucap Arga.
"Hahaha tidak lah mas, aku tida berani, kalau kata kamu tidak ya aku tidak, tapi kalau kata kamu Iya baru aku berani, untuk berbicara dengan nya saja aku tida akan jika tidak mendapatkan izin dari mu," kata Citra.
Siapa yang tidak jatuh cinta dengan Citra dengan sifat Citra yang begitu penurut dengan suami. Arga saja sampai tergila-gila dengan istri nya, tidak ada laki-laki lain yang boleh memandang istri nya selain diri nya.
Darka sudah berada di depan kamar Arga untuk menjemput nya. Alam sudah memanggil mereka berdua untuk segera ke kantor.
Tok.. tok.. tok..
"Mas ada orang," ucap Citra.
"Sebentar." Arga memakai celana nya dan segera menuju ke pintu.
__ADS_1
"Ada apa," tanya Arga.
"Kau belum mandi? ayah sudah menunggu kita," jawab Darka.
"Tunggu aku 15 menit katakan pada ayah," ucap Arga sambil menutup pintu kamar nya kembali.
"Enak sekali jadi Arga, sudah punya istri. Pasti dia baru saja mendapatkan jatah," batin Darka.
15 menit pun berlalu, Arga keluar dari kamarnya. Ia tidak mengizinkan Citra untuk mengantarkan nya. Biar saja Darka yang membantu nya.
"Sudah," tanya Darka.
"Sudah, ayo.."
Tanpa di minta Darka mendorong kursi roda Arga.
"Langsung ke kantor," tanya Arga.
"Iya nanti kita sarapan di kantor saja," jawab Darka.
"Istri mu tidak mengantarkan mu keluar rumah," tanya Darka.
"Enak saja, kau ingin melihat nya kan. Dia kelelahan habis melayani ku," jawab Arga.
Darka sangat kesal dengan jawaban Arga. Arga tau hal itu membuat nya cemburu. Kalau niatnya masih buruk sudah Darka lempar Arga dari lantai tiga.
Sesampainya di kantor semua orang yang tau Arga dan Darka terkejut melihat mereka berdua akur. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika sakit Arga dan Darka tidak akur. Sekarang kedua nya berangkat bersama.
"Anak anak ayah," ucap Alam yang begitu bangga nya.
"Ayah, maaf aku tadi..
"Terlalu rakus sampai lupa harus berangkat bekerja," ujar Darka.
"Sudah sudah, bukan waktu nya untuk kalian berdua bertengkar, sekarang ayo kita mulai," ucap Arga.
Saat bekerja ke dua nya sangat kompetitif, tetapi karena Arga jauh lebih pintar dari Darka, Arga selalu bisa membuat semua orang terkesima dengan argumen yang Arga katakan. Hal ini sudah sangat mereka rindukan, sudah sangat lama Arga tidak ikut bekerja seperti ini. Orang seperti Arga sangat di butuhkan perusahaan ini..
__ADS_1
"Parfum siapa ini, knapa aroma wanita," ucap Lina.