
Pagi hari nya, Arga akan membicarakan permintaan ayahnya pada Ismi. Ismi harus memberikan nya izin untuk menginap di rumah Alam, mau bagaimana pun Ismi orang yang paling berjasa dalam kesembuhan nya sekarang.
"Kamu yakin sayang, mamah tidak ingin mereka memberikan pengaruh buruk pada mu," ucap Ismi.
"Tidak mah, aku bisa membatasi diri ku berhubungan dengan mereka, jika aku ke sana pasti mereka akan ketar ketir dengan ku. Mereka pikir aku tidak bisa bangkit," kata Arga.
"Tenang sayang aku masih sering di sana, aku akan menjaga Arga. Dia anak ku juga," ucap Yoga.
"Paman cepat halalin mamah, jangan sampai mamah ku bosan pergi meninggalkan mu."
"Hahaha iya Arga, paman sudah mengatakan pada mamah mu, tapi dia tidak mau.."
"Mah..."
"Iya sayang... Mamah akan menikah minggu depan," kata Ismi.
"Lah langsung tu," ucap Arga.
"Hahaha paman juga terkejut tadi. Terkejut plus senang, Iya Arga sebelum kamu turun dari lantai atas mamah mu dan paman sudah membahas nya, dan kami memutuskan menikah minggu depan" kata Yoga.
"Arga senang mamah bagaimana dengan paman," ucap nya.
"Iya sayang, nanti kalau terlalu lama paman mu jadi cepat tua."
"Paman mamah memang sudah tua, tapi aku yakin, hmmm paman tau lah."
"Hahaha kau benar Arga, paman jadi tidak sabar."
"Enak saja tau, belum sampai 45 tahun mamah," ucap Ismi.
"Iya sayang, kamu awet muda."
Jika seperti ini keluarga ini terlihat sangat bahagia, apalagi Arga yang sudah bisa bercanda, tertawa bersama sama. Itu juga yang menjadi alasan kenapa Ismi siap menikah Arga sudah menemukan dirinya kembali.
Citra hanya tersenyum melihat keluarga ini, ia sangat senang semua nya kembali seperti sebelumnya. Itu artinya dirinya cukup membantu keluarga ini.
Setelah mendapatkan izin dari Ismi. Arga dan Citra pun berangkat ke rumah Alam. Mereka berdua di jemput langsung oleh supir dari sana, sebelum sampai sana Arga berulang kali mengingat Citra bagaimana orang di sana. Citra harus kuat menghadapi mereka semua.
Panggilan mereka berdua juga sudah berubah, sudah tidak ada kata tuan lagi, tidak mungkin Citra mengatakan tuan di sana. Citra menangis Arga dengan panggilan mas Arga.
"Ayo mas.."
__ADS_1
"Tunggu dulu," ucap Arga.
"Ada apa," tanya Citra.
"Hnmm kamu harus ingat ya, jauhi Darka, jangan sampai Darka pegang pegang kamu. Kamu tau cara nya kan, selalu dekat dengan ku. Kamu boleh bertemu dengan berbicara dengan Darka kalau aku yang meminta nya. Harus ada izin dari ku."
"Iya mas, aku tidak mungkin berani melakukan nya, apa yang kamu katakan adalah perintah wajib untuk ku," ucap Citra.
"Bagus aku suka istri yang penurut," kata Arga.
Mereka berdua pun masuk ke dalam. Di dalam sudah ada keluarga besar yang menunggu mereka berdua, sebagian besar tidak suka dengan Arga karena pengaruh buruk mamah tiri nya. Hanya beberapa orang saja yang masih menganggap Arga. Itu sebabnya Arga meminta agar Citra kuat berada di rumah ini.
"Anak ayah. Kamu sudah sembuh.." Alam memeluk Arga, ia sangat menyayangi anak ini.
"Najis," batin Darka.
"Kau masih ingat rumah ini ternyata."
"Untuk apa aku lupa, ini rumah ku," ucap Arga
Nenek nya sendiri saja tidak suka dengan Arga, ya karena pengaruh buruk mamah tiri nya. Itu sebabnya Ismi menarik Arga ke rumah nya dari pada tinggal di sini.
"Mamah Arga cucu mamah loh, kenapa begitu," ucap Alam.
"Arga kamu sudah baik baik saja," tanya Lina.
"Seperti yang mamah lihat," jawab Arga dengan tatapan yang berbeda.
Ia tau Lina hanya basah basi pada nya, hubungan nya dengan Lina sejak awal tidak pernah bagus.
"Aku ingin ke kamar, apa kamar ku tetap sana," tanya Arga.
"Masih Arga, ayah sudah mempersiapkan nya untuk mu," jawab Alam.
"Ayo Citra," ucap Arga.
Sebenarnya Arga malas sekali bertemu dengan mereka semua. Tetapi kalau tidak begini Arga tidak bisa menunjukkan jika diri nya akan bangkit kembali.
"Mas keluarga mu sangat gila," ucap Citra.
"Hahaha sudah aku katakan sebelum nya. Begini lah keluarga ku," kata Arga.
__ADS_1
Arga sangat merindukan kamar nya ini, kamar mewah yang tidak ia dapatkan di rumah mamah nya. Kalau di bandingkan rumah mamah nya tidak ada apa apa nya dengan rumah ini. Tetapi rumah ini sama sekali tidak memberikan kenyamanan bagi Arga.
Arga merebahkan diri nya ke atas kasur, di ikuti Citra yang berbaring di samping nya. Arga melirik Citra yang sedang bermain handphone nya, ia takut Citra malah berhubungan dengan Darka tanpa sepengetahuan nya.
"Sedang apa itu," tanya Arga.
"Mamah ku mas," jawab Citra.
Arga menempel pada Citra dan memang benar Citra sedang berbalas pesan dengan mamah nya.
Arga mengambil handphone itu, Citra yang masih fokus terkejut dengan apa yang Arga lakukan.
Saat ingin mengambil handphone nya kembali, Arga menarik Citra sampai Citra jatuh ke atas tubuh Arga, posisi ini mengingatkan Citra dengan posisi kemarin malam.
Citra yang sudah mempunyai perasaan lebih pada Arga langsung merona, jantung nya berdetak lebih kencang dari biasa nya. Ntah kenapa Citra sekarang sangat pasrah dengan apa yang di lakukan Arga pada nya. Mungkin karena Citra sudah memiliki perasaan lebih pada pria ini.
Arga mendekati bibir Citra dan mulai mencium nya. Arga membalik posisi Citra di bawah sedangkan diri nya di atas. Walaupun sempat kesulitan akhirnya Arga bisa melakukan nya.
Ciuman itu tidak berhenti, Arga sudah sangat candu dengan bibir Citra. Maklum saja pria kalau sudah merasakan sekali pasti akan mau lagi, begitu juga dengan Arga yang ingin terus mencium Citra sampai diri nya puas.
Walaupun belum yakin tangan Arga masuk ke dalam pakaian Citra. Citra sadar apa yang akan terjadi berikutnya, ia sangat ikhlas jika Arga ingin mengambil nya, ia pasti akan membantu Arga jika Arga minta.
Yap tangan Arga sampai di benda terlarang itu, walaupun masih di tutup dengan kaca maya nya Arga dapat merasakan sebesar apa benda itu. Arga belum berani apa apa, ia hanya sedikit memegang nya lalu melepaskan nya. Seperti seseorang yang masih pemula.
"Mas.."
"Hmmm." Arga belum menyingkir dari posisi nya.
"Kamu mau ya," tanya Citra.
"Mau apa," tanya balik Arga.
"Mau itu? hihihi kamu lucu kalau sedang malu begini," jawab Citra
"Siapa yang sedang malu," tanya Arga.
"Jangan bohong, wajah kamu memerah tu," jawab Citra.
"Ssttt jangan banyak berbicara," ucap Arga.
Arga membuka satu persatu kancing baju Citra, ya walaupun tidak bisa semua nya karena Arga kesulitan untuk melakukan nya.
__ADS_1
"Buka," ucap Arga.