Suami Ku Yang Cacat

Suami Ku Yang Cacat
Episode kedelapan


__ADS_3

"Tuan." Citra berteriak dengan keras sambil menutup mata nya.


"Hahaha kau kenapa si," tanya Arga.


"Jangan di buka," jawab Citra.


"Hahaha siapa yang buka, kau lihat ini aku tidak membuka nya."


"Tuan tidak bohong," tanya Citra.


"Tidak lah.."


Citra membuka mata nya secara perlahan, beruntung Arga memang tidak membuka semuanya. Ternyata Arga hanya mengerjai nya.


"Sudah sana."


"Saya pergi ya.." Citra langsung berlari pergi meninggalkan Arga.


Arga hanya tersenyum melihat tingkah lucu Citra. Jarang sekali Arga tersenyum seperti ini sebelum nya, mungkin ini pertama kali nya setelah kecelakaan besar itu.


"Terus kalau aku keluar nanti siapa yang memakai kan baju," ucap Citra.


Citra menyiapkan pakaian Arga terlebih dahulu, setelah siap ia kembali masuk ke kamar mandi.


"Tuan.."


"Jangan mendekat, aku sedang naked," ucap Arga.


"Eh iya." Citra membalik tubuh nya.


"Ada apa lagi," tanya Arga.


"Tuan bisa memakai pakaian? apa perlu saya bantu," tanya Citra.


"Nanti saja lah itu, aku pakai handuk dulu baru pakai baju," jawab Arga.


Sebenarnya Arga si tidak masalah Citra melihat anu nya tetapi lebih baik Citra tidak melihat nya Takut nya Citra malah cerita kemana-mana.

__ADS_1


Tak lama Arga selesai mandi, ia memakai handuk kimono baru lah Arga memanggil Citra.


"Tuan hari ini kita keluar yuk," ucap Citra.


"Kau harus menjalankan tugas yang aku berikan, jangan lupa kau harus mendekati Darka."


"Sekarang?"


"Ya di mulai dari sekarang," ucap Arga.


"Tuan saya takut ketahuan, pasti kita akan ke rumah orang tua tuan, kalau dia mengenali saya bagaimana?"


"Rubah gaya mu, saat bertemu dengan nya dah saat dengan ku. Kau juga tidak langsung bertemu dengan nya, lebih baik dekati dulu melalui telepon, kau bodoh sekali si," ucap Arga.


"Begitu ya, nanti kalau dia ngajak bertemu bagaimana? terus kalau dia tidak tertarik dengan ku?"


"Kau tak tau rahasia keluarga kami, ikuti saja apa yang aku katakan."


"Iya tuan." Citra yakin dengan mengikuti apa yang Arga katakan, dan menurut saja dengan Arga. Arga pasti menerima nya sebagai istri. Sekarang saja Arga sudah tidak terlalu kaku lagi pada nya.


Di tempat lain, Darka dan para petinggi perusahaan sedang berkumpul. Mereka membahas perubahan rencana karena Arga sudah menikah. Kemungkinan besar Darka tak akan menggantikan ayahnya.


"Memang kurang ngajar," batin Darka.


Setelah rapat selesai Darka dan mamah nya langsung pergi meninggalkan perusahaan. Mereka berdua tidak bisa apa-apa selain menyusun rencana lain. Sebenarnya Darka juga tidak mendapatkan tangan kosong. Ia mendapatkan beberapa harta kekayaan Alam yang Alam dapat dari kerja keras nya karena Darka juga anak Alam, tetapi tidak untuk harta warisan turun temurun yang akan jatuh ke tangan Arga.


"Mamah aku tak Terima," ucap Darka.


"Kau pikir mamah Terima, tapi kita bisa apa. Kita harus menyusun rencana lain."


"Mamah benar, kita harus menyusun rencana lain," ucap Darka.


Dua manusia tak tau diri ini tidak pernah kehabisan akal. Mereka berdua akan terus bergerak selagi belum ada yang menghentikan me dua nya.


Kembali pada Arga dan Citra, mereka berdua duduk berdua di atas ranjang. Citra memijat kaki Arga yang tidak kerasa apa apa, sedangkan Arga sedang membuat rencana untuk mulai mendekati Darka. Citra cukup cantik untuk membuat Darka tertarik dengan nya. Ia sangat tau Darka seperti apa, jadi Arga muda harus berbuat apa sekarang ini.


"Kau percuma melakukan nya," ucap Arga.

__ADS_1


"Tuan ayo kita ke tempat terapi," kata Citra.


"Kau jangan aneh aneh, dokter saja tidak bisa menyembuhkan nya apalagi hanya tempat terapi pinggir jalan. Aku sudah tidak berharap apa apa pada kaki itu, aku sudah tidak seperti orang gila saja sudah cukup untuk ku," ucap Arga.


Citra merasa kesal Arga berkata seperti itu, tak ada niat Arga untuk menyembuhkan kakinya. Padahal kalau Arga memiliki niat dan keyakinan pasti akan ada jalan.


"Sama sekali tidak terasa," tanya Citra.


"Tidak ada terasa, jangan buat diri mu lelah. Ini aku sudah menghubungi nya.."


"Bagaimana?"


"Tidak aktif.." Arga meletakan handphone Citra yang ia gunakan untuk menghubungi Darka.


"Kata mamah kita boleh keluar jalan jalan," ucap Citra.


"Ayo lah, kau yang mengajak ku, kau yang bertanggungjawab," kata Arga.


Arga akan keluar rumah setelah sekian lama nya. Sifat Arga yang memenang sebelum nya baik membuat Citra lebih mudah mendekati Arga. Terbukti baru sehari Citra menjadi istri Arga sudah membawa pengaruh besar pada Arga.


"Sayang mau kemana," tanya Ismi.


"Ntah dia ni," jawab Arga.


"Jangan begitu dong dengan istri sendiri," kata Ismi.


"Citra jaga Arga dengan baik ya, dia sudah bertahun-tahun lama nya tidak keluar rumah, pasti dia kebingungan dengan suasana luar."


"Siap mah.."


"Ayo jadi keluar tidak nya," ucap Arga.


"Kami pergi mah.." Citra mendorong kursi roda itu pergi meninggalkan rumah.


Mengingat kondisi Arga yang seperti ini, mereka berdua tidak mungkin pergi berdua saja. Ada supir yang membantu Arga agar bisa masuk ke dalam mobil, Citra sendiri tak akan mampu melakukan nya.


"Kain bawa uang," tanya Arga.

__ADS_1


"Tidak bawa, tapi saya diberikan kartu oleh ayah tuan," jawab Citra.


"Bagus lah aku tak bawa apa apa," ucap Arga.


__ADS_2