
"Ada apa mas," tanya Ismi.
"Hahaha maaf aku terlalu banyak basa basi. Begini sudah bertahun-tahun kita cerai dan aku belum memberikan mu hak yang seharusnya kamu Terima sebagai istri ku, aku sudah terlalu lama menahan nya dan aku sudah siap memberikan hak mu pada mu," jawab Alam.
Ismi tau hak apa yang Alam maksud, persekian persen diri nya memiliki saham di perusahaan yang Alam pimpin. Alam memberikan saham sebagai mahar pernikahan mereka. Walaupun tidak banyak, hanya beberapa persen saja tetap saja hasil yang di dapat kan cukup besar. Selama ini Ismi tidak pernah mendapatkan hasil nya. Alam menahannya sekian lama nya.
"Hmmm kamu yakin mas," tanya Ismi.
"Yakin lah, itu hak mu, salah satu mahar yang aku berikan pada mu, jadi aku akan mulai mengirim nya pada mu," jawab Alam.
"Terima kasih mas, aku sangat membutuhkan banyak uang, aku si ingin membangun vila baru, tetapi tabungan belum cukup karena sudah banyak terpakai untuk Arga."
"Ya sudah dari uang yang aku berikan saja, lalu suami mu?"
"Ah ini vila ku, dia sudah menawarkan uang tetapi aku tidak mau, dia juga sedang membangun rumah baru untuk kami tinggal," ucap Ismi.
"Ismi Arga sudah jauh lebih baik karena Citra, kau sangat beruntung menemukan wanita itu. Dia sudah sangat nurut dengan ku, dan sekarang sedang bekerja sama dengan Darka."
"Aku ikut senang dengan perubahan Arga. Aku mohon pada mu, jangan sampai dia kecewa lagi pada mu. Dia tidak pernah ikut campur urusan rumah tangan kita, kamu tau sendiri dia hanya menangis di gudang saat perceraian kita. Dia mendiamkan kita berdua, aku sudah tidak ingin membuat nya kecewa dan aku harap kamu jangan membuat nya kecewa," kata Ismi.
"Iya.."
__ADS_1
"Sayang sudah siap," tanya Yoga yang baru datang
"Sudah mas," tanya Ismi.
"Sudah, terimakasih ya," jawab Alam.
"Apa kabar," tanya Yoga.
"Baik, bagaimana kabar mu, ah pasti jauh lebih baik karena kau sudah menikah," ucap Alam.
"Hahaha pasti lah, aku bawa istri ku ya."
Yoga dan Ismi pun pergi meninggalkan Alam. Alam sendiri masih di sana karena dia masih menunggu seseorang.
Perjalanan Arga dan yang lainnya sudah tidak lama lagi, mereka bertiga sudah hampir sampai ke Vila tempat mereka akan menginap, dari Vila itu pekerjaan Arga dan Darka tidak terlalu jauh. Arga memilih Vila karena lebih dekat dengan pekerjaan dari pada hotel, lagi pula Vila itu milik keluarga nya.
"Wah Vila nya bagus banget, besar lagi ya," ucap Citra.
"Apa yang besar," tanya Arga.
"Vila nya lah mas, apalagi selain, emang selain Vila ada yang besar lagi mas?"
__ADS_1
"Ada dong, keberanian ku," ucap Arga.
"Jangan sok kau saja penakut," ujar Darka.
"Kata siapa aku penakut," tanya Arga.
"Kau pernah menangis di gudang karena terkunci bukan," jawab Darka.
"Tidak, tidak kau tida tau apa apa," jawab Arga.
"Sial bagaimana dia tau aku pernah menangis di gudang karena terkunci," batin Arga.
"Benar mas," tanya Citra.
"Tidak sayang, ketakutan terbesar ku takut kehilangan mu," jawab Arga.
"Ah gombal deh," ucap Citra.
"Hahaha tapi kamu suka kan."
"Kalian memang tidak menghargai aku." Darka turun dari mobil karena memang sudah sampai, dia sangat kesal melihat Citra dan Arga bermesraan
__ADS_1