
Gerald melemparkan tatapan permusuhan pada Richard yang tersenyum miring padanya. Gerald justru berdecih, sama sekali tidak percaya jika Richard adalah CEO Dirgantara Corp. Perusahaan furniture terbesar di negara tersebut.
“Mana mungkin seorang pelayan bar menjadi CEO di perusahaan besar! Aku tidak akan mudah dibodohi. Di mana Tuan Richard Dirgantara?” ketus Gerald dengan tatapan meremehkan. Walaupun sempat tertegun dengan penampilan pria di hadapannya. Ia tahu betul, pakaian dan aksesoris yang dikenakan Richard bukan pakaian sembarangan. Semua serba mewah, bahkan limited edition.
Akan tetapi, Gerald masih kekeh dengan pendirian. Ia justru tertawa dan mencemoohnya. Benar-benar di luar nalar.
Melihat keributan yang sama sekali tak dimengerti, Delon segera beranjak. Ia berdiri di samping Richard dengan tatapan penuh keterkejutan. “Tuan Gerald, apa maksud Anda? Beliau adalah Richard Dirgantara, CEO dari Dirgantara Corp saat ini. Kenapa Anda justru menghinanya? Bukankah sebelumnya Anda memohon-mohon agar memberi kesempatan untuk menawarkan kerja sama?” papar Delon sekaligus bertanya pada pria di hadapannya.
Wajah Gerald seketika berubah pucat pasi. Darah yang mengalir di tubuhnya seolah terserap habis. Kedua matanya membelalak dengan sangat lebar, bahkan terlihat seperti hendak mau lepas dari kelopaknya.
Richard terkekeh, menepuk-nepuk bahu Delon yang mulai emosi. Senyum di bibirnya kembali lenyap ketika netranya bertumbukan dengan manik Gerald. Tatapannya berubah serius dan mengintimidasi, “Jangan pernah campur adukkan masalah pribadi dengan perusahaan. Anda sungguh tidak profesional!” tegas Richard dengan tatapan nyalang.
Richard mengibaskan jas mahalnya, lalu beralih pada sang asisten. “Delon, jangan membuang-buang waktu. Karena waktu adalah uang. Orang seperti ini tidak pantas menjalin kerja sama dengan perusahaan kita. Blacklist saja! Sudah tidak profesional, tidak bisa menghargai orang lain, juga tidak konsisten, benalu sepertinya, nanti hanya akan merepotkan saja,” putus Richard dengan tegas dan tidak bisa dibantah.
“Baik, Tuan!” balas Delon menatap sinis pada Gerald.
__ADS_1
“Bayar tagihan dan segera keluar dari sini, Delon. Oh ya, Tuan Gerald. Saya sudah memesan makanan dan minuman tadi. Silakan dinikmati. Kasihan ‘kan kalau sudah jauh-jauh ternyata tidak mendapat apa-apa. Minimal makan gratis lah ya.” Richard tersenyum miring. Ia lalu melenggang keluar dari ruangan tersebut.
Delon bergerak cepat membereskan dokumen dan laptop yang tadi sempat ia susun di meja. Tidak tahu jika meeting kali ini berlangsung sangat singkat. Setelahnya, berhenti sejenak saat melalui Gerald.
“Permisi, Tuan. Mungkin ada baiknya Anda belajar attitude lebih dulu,” ujarnya mengangguk lalu keluar dari ruangan menyusul sang bos.
Tubuh Gerald seketika luruh ke lantai. Kakinya seolah tak bertulang, tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Ia bak ditampar ribuan tangan tak terlihat. Masih tercengang tak percaya. Padahal, Dirgantara Corp adalah satu-satunya harapan bagi Gerald untuk membangkitkan kembali perusahaannya yang mulai meredup.
Apalagi pengaruh Dirgantara Corp sangat besar di negaranya. Ia yakin, kalau kerja samanya berhasil, pasti akan ada banyak perusahaan yang berbondong-bondong menjilat ludahnya.
“Astaga! Apa yang sudah aku lakukan?!” gumam Gerald menekan kepala dengan kedua tangannya yang terasa ingin meledak.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Usai meeting yang gagal itu, ternyata Richard harus menghadiri meeting lain sampai malam hari. Ia merebahkan diri di sofa ruang kerjanya sembari menutup mata dengan lengannya.
__ADS_1
“Tuan, Anda tidak pulang?” tanya Delon berjongkok, dan menyentuh lengan Richard dengan perlahan. “Tuan!” panggilnya lagi, kali ini menggerakkan lengan Richard lebih keras lagi.
Richard terperanjat kaget. Hampir saja memukul Delon yang sudah terjengkang duluan. Asistennya itu menyilangkan kedua lengan di depan mukanya. Melindungi, jika sewaktu-waktu diserang oleh Richard.
“Ayys! Delon!” gerutu Richard menutup muka, lalu mengusapnya wajahnya dengan kasar. Richard menghela napas kasar, melihat jam yang melingkar di lengannya. “Sudah jam 9? Buruan pulang, Lon! Kau ini kenapa baru bangunin?” seru Richard beranjak dan segera mengenakan jas yang tadi ia letakkan di stand hanger.
“Perasaan tadi udah dibangunin berkali-kali. Situ aja yang kebo,” gumamnya dengan sangat pelan.
Sesampainya di rumah, Richard segera membersihkan diri. Seperti biasa sebelum tidur, ia akan memeriksa kondisi kakeknya dan memberikan pijat terapi.
“Richard? Kamu baru pulang? Mana cucu menantu kakek?” cecar Kakek Alex berharap Richard membawa cucu menantunya segera. Selalu itu yang pria tua itu tanyakan, ketika Richard sampai di rumah.
Bersambung~
__ADS_1