SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 42 : DI LUAR EKSPEKTASI


__ADS_3

“Sini!” pinta Richard saat melihat istrinya bergeming di ambang pintu.


Perawat sudah keluar usai melakukan tugasnya. Hanya ada mereka berdua di ruang rawat luas dan mewah itu.


Richard menautkan kedua alisnya, saat melihat istrinya hanya mengerucutkan bibirnya, bahkan membuang pandangan ke arah lain. “Kenapa?” tanya Richard heran. Padahal tadi begitu antusias saat melihatnya sadar.


“Tadi kata kamu menjijikkan! Jangan dekat-dekat!” gerutu Velyn masih kesal jika mengingatnya.


“Kapan aku bicara seperti itu?” Richard justru bingung sendiri.


“Tadi di ruang observasi!” ketus Velyn tidak ingin melihat sang suami. Tapi kakinya pegal, ia tetap berjalan mendekati bangsal pasien tersebut.


Richard meraih jemari istrinya, “Sumpah, aku tidak mengatakan itu padamu, Velyn.”


“Enggak tahu! Masih sakit hati!” seloroh wanita itu mendengkus kesal.


Tidak lagi membahasnya, Richard menepuk ranjang di sampingnya. Masih menyisakan banyak ruang, cukup jika dipakai tidur berdua. “Naiklah,” ucap Richard pelan. “Sini!” ucapnya lagi sembari menepuk sisinya.


Meski menggerutu dan masih kesal, Velyn tetap naik. Merebahkan tubuh di samping suaminya. Menggunakan lengan kekar itu sebagai bantalan.


“Nanti kena lukamu, Cad,” ucap Velyn khawatir saat Richard memeluknya, bahkan berusaha bergerak meski kesulitan. Wanita itu beralih memiringkan tubuhnya, memeluk sang suami hingga kini kecupan bertubi-tubi jatuh di keningnya.


“Orang enggak sadar kok, kamu baper. Biasanya efek obat bius memang sering ngelantur. Sepertinya tadi dikejar-kejar ....”


“Siapa? Dikejar siapa?” cecar Velyn sekaligus penasaran.


“Catty.”


Tidak ada kekesalan lagi yang berpendar di wajah cantiknya. Karena hanya ada senyuman yang begitu lebar di bibir Velyn. Ia semakin menyelusup di dada bidang sang suami. Tanpa mengabaikan luka lelaki itu. Bagaimana tidak? Setelah tahu jika wanita yang diusir suaminya ternyata Catty. Wanita yang pernah ia temui di perusahaan suaminya dulu.


...\=\=\=000\=\=\=...


Denting bel yang menggema, membuat Debora berlari dari kamarnya. Namun, berdecak kasar kala yang datang bukan orang yang ditunggu, melainkan orang tuanya yang terus mengomel. Suara mereka yang bersahut-sahutan memenuhi seisi rumah itu.


“Aihh, kirain orangnya Richard. Tahunya sepasang manusia paling pelit sejagat raya!” gerutu Debora melenggang ke kamar.

__ADS_1


Luluran, mandi sambil berendam menjadi pilihan terbaik untuk Debora, menenangkan pikirannya. Satu jam kemudian, gadis itu baru keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan hotpants dan tanktop lalu menonton drama favoritnya dari laptopnya di atas ranjang.


Beberapa waktu berlalu, kembali denting bel rumah menggema. Debora segera melompat keluar dari kamar, mengabaikan penampilannya yang acak-acakan.


“Biar aku aja, Bi. Itu pasti orangnya Richard!” teriak Debora dari ujung tangga. Ia mempercepat langkah dan bersemangat untuk membuka pintu.


Namun, kedua matanya membelalak lebar kala yang berdiri di hadapannya sesosok pria tampan ber-jas rapi dengan tas kerja di tangannya. Debora kembali menghempaskan pintu dengan kasar. Napasnya terengah-engah, punggungnya bersandar pada pintu.


“Siapa?” tanya Debora berteriak. Seketika Bibi kebingungan melihatnya.


“Saya datang untuk Tuan Muda Richard!” sahut Delon.


Di luar ekspektasi, “Kakak bilang perempuan?” gumamnya menggaruk kepala. Dalam bayangannya, orang yang datang seorang wanita paruh baya.


“Enggak! Enggak mungkin. Yang mau datang ke sini perempuan kok!” elak Debora masih menahan pintu tersebut.


“Tolong buka atau saya dobrak pintu ini!” tegas Delon dengan suara lantang.


Buru-buru Debora membuka pintu sedikit, kepalanya melongok keluar, meski sebagian tubuhnya tidak kelihatan, “Eh kurang ajar, beraninya punya rencana dobrak pintu rumah orang! Ngaku! Siapa kamu? Kata kakakku orangnya Richard perempuan!” Debora menilik ujung rambut sampai kepala, “Kamu laki tulen!” tambahnya kembali menatap lelaki itu.


“Halo, Nona! Saya di kediaman Anda. Tidak diperbolehkan masuk oleh adik Anda,” lapor Delon memicingkan mata pada Debora.


“Ajak aja sekalian, Delon. Biar diantar Debora ke sini,” perintah Velyn di ujung telepon.


Debora tercengang, ia hafal sekali suara sang kakak. Tiba-tiba Delon menarik tangannya hingga tubuh yang sedari tadi bersembunyi kini keluar sepenuhnya dari rumah.


“Cepat antar!” perintah lelaki itu, wajahnya mendadak memanas kala melihat penampilan Debora yang begitu terbuka.


“Jangan kurang ajar ya!” sentak Debora menyilangkan kedua lengan di dada.


Delon mengepalkan tangan sembari membuang mukanya kesal. Dengan cepat meletakkan tasnya, melepas jas lalu menyampirkan di bahu Debora.


“Saya tidak punya banyak waktu!” serunya kembali menarik tangan Debora dan membawanya pergi.


Di luar, masih ada taksi yang menunggunya. Ia menggelandang Debora yang masih acak-acakan itu. Gadis itu sampai kesulitan menyamakan langkah panjang Delon. Hingga tiba di depan pintu gerbang, Delon memaksanya masuk.

__ADS_1


“Geser ke sana!” perintah lelaki itu.


Debora menurut saja, merapatkan jas kebesaran di tubuhnya. Tubuhnya berkeringat dingin, bayang-bayang saat pelecehan itu kembali terlintas di kepalanya. Ketakutan kembali menyergap tubuhnya hingga gemetar ketakutan.


“Ke mana?” tanya Delon bingung dengan kondisi Debora saat ini.


“Ru ... Rumah Sakit Atlantis,” jawab Debora menundukkan kepala dalam. Kedua lengannya memeluk erat tubuhnya sendiri. Napasnya mulai sesak, bulir keringat juga bermunculan di wajahnya.


“Kenapa? Kamu sakit?” tanya Delon hendak membantu menyeka keringat gadis itu


Tapi Debora segera menepisnya, “Jangan mendekat!” serunya membuat seisi mobil itu terkejut. Ia bahkan merapatkan tubuhnya ke ujung kursi. Membuat jarak yang begitu lebar dengan lelaki itu.


Sontak saja, Delon semakin mengerutkan keningnya dalam. Bingung dengan perubahan mendadak gadis di sampingnya itu. "Ada apa dengan gadis ini?" gumamnya menghela napas pelan.


“Jalan, Pak.”


Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang setelah ada perintah dari Delon.


\=\=\=000\=\=\=


"Bi, tadi ada suara Debora teriak-teriak ada apa ya? Siapa?" tanya Sabrina yang baru keluar dari kamarnya.


"Tidak tahu, Nyonya. Pria itu mencari Tuan Richard," sahut sang Bibi sopan.


"Laki-laki? Bagaimana ciri-cirinya? Terus ke mana sekarang mereka?"


Sabrina mengedarkan pandangan. Tidak melihat siapa pun di sana. Mobil keluarganya pun masih utuh terparkir di depan rumah. Tidak berkurang satu pun.


"Laki-laki, Nyonya. Pakaiannya rapi dan memanggil Tuan Muda," sahut Bibi tersebut berkata jujur.


"Heh? Tuan Muda?" Sabrina mencebikkan bibirnya.


Bersambung~


mampir juga ke karya seru temen aku, Best 😍 Temukan Aku 1000 Tahun Lagi. Karya Ingflora.

__ADS_1



__ADS_2