
Richard menarik kedua sudut bibirnya, napasnya tersengal-sengal di pangkuan sang istri. Tangannya yang penuh darah membelai pipi Velyn, menyeka air matanya.
Sayangnya, pipi wanita itu justru berlumur noda merah. Richard membalik tangannya, kepalanya semakin berdenyut nyeri melihat darah, apalagi saat melirik bagian perutnya. Wajah lelaki itu semakin pucat, sejujurnya, Richard memang sangat takut akan darah yang mengalir deras seperti itu. Tubuhnya langsung melemas dengan pandangan yang semakin memburam.
“Cad, bertahanlah. Jangan tidur! Pa, mana ambulans-nya?” teriak Velyn menangis histeris, memeluk kepala suaminya dengan sangat erat. Dadanya berdegup hebat, khawatir terjadi sesuatu dengan pria itu. Ia ingin Richard dijemput mobil ambulans, agar lekas sampai di rumah sakit.
“Aduh, mobil sendiri aja deh. Ambulan biayanya mahal,” sanggah Rendra, masih maju mundur menekan tombol darurat untuk menelepon ambulan.
“Astaga, Papa benar-benar keterlaluan! Ini nyawa! Masih aja mikirin biaya. Tenang aja, duit Richard banyak, Pa. Bahkan lebih banyak dari punya Papa! Harta kekayaannya tidak akan habis hanya karena membayar ambulans!” jerit Velyn yang teramat geram akan papanya yang terlalu perhitungan.
Debora yang mendengar jeritan sang kakak segera bergegas turun, matanya membeliak kala melihat Richard tampak tersengal-sengal bersimbah darah.
“Yaampun, Kak ada apa ini?” teriak Debora berlari keluar mencari pertolongan, suaranya yang melengking cukup berguna memanggil sopir dan satpam di rumahnya.
“Pak! Cepat siapkan mobil! Darurat! Richard terluka!” teriaknya mengudara, yang langsung terdengar para lelaki yang tengah ngopi bersama di pos.
Tanpa bertanya apa pun, mereka segera berlari menghampiri. Sopir pun menyiapkan mobil di pelataran. Mereka berbondong-bondong mengangkat tubuh Richard ke mobil.
__ADS_1
Sedangkan Rendra bersama istrinya masih syok sekaligus bingung apa yang harus mereka lakukan. Hingga mobil melenggang pergi dari rumahnya, Rendra masih menggenggam erat ponsel tanpa melakukan apa-apa.
“Pa, Gerald tadi kabur, Pa! Apa kita langsung lapor polisi aja?” saran Sabrina.
“Aduh, Ma. Gimana ya. Nanti ajalah, kita ke rumah sakit aja dulu!” balas Rendra segera menyusul ke rumah sakit bersama istrinya.
\=\=\=000\=\=\=
Di depan ruang operasi, Velyn dan Debora saling berpelukan demi mengurai rasa takut mereka. Terutama Velyn yang tidak bisa mengendalikan laju air matanya.
“Kak, siapa pelakunya?” Setelah sekian lama Debora baru bertanya. Sedari tadi mereka tegang, mondar mandir mengurus administrasi agar Richard lekas ditangani.
Keduanya meregangkan pelukan, Debora membantu menyeka air mata kakaknya yang mulai bengkak, karena menangis sedari tadi.
“Ya ampun, jadi dia pelakunya. Udah lapor polisi belum, Kak? Takutnya kabur!” seru Debora ikut geram. Apalagi ketika mengingat apa yang telah dilakukan pada Velyn dan keluarganya dulu.
“Dia udah miskin, enggak mungkin kabur jauh. Nanti aja, aku mau fokus sama kesembuhan Richard dulu,” balas Velyn sudah lebih tenang.
__ADS_1
Rendra bersama sang istri juga turut bergabung di depan ruang operasi, etelah mendapat informasi dari petugas administrasi. Kedatangannya sama sekali tidak disambut oleh Velyn. Wanita itu sama sekali tak menganggap kehadiran orang tuanya. Hatinya masih terasa nyeri mengingat ucapan papanya, yang lebih mengkhawatirkan uang dari pada nyawa Rihard.
"Vel, gimana keadaan Richard?” tanya Sabrina duduk di samping putrinya.
Velyn bergeming, bibirnya juga merapat dengan pandangan lurus ke arah pintu operasi.
“Kan masih ditangani di dalam, Ma. Mana kita tahu!” cetus Debora membalasnya, usai melihat sang kakak diam saja.
Satu jam, dua jam hingga empat jam dilalui oleh Velyn dengan hati gusar. Pintu terbuka, dokter memperkenankan satu orang saja untuk menunggu Richard di ruang observasi anestesi. Velyn buru-buru masuk, mengenakan pakaian steril yang diserahkan oleh perawat. Lalu masuk ke sebuah ruangan yang teramat dingin itu.
Tubuhnya terjatuh di kursi samping ranjang Richard. Mata lelaki itu masih terpejam rapat, monitor detak jantung menyelusup telinga Velyn. Air matanya kembali bergulir begitu deras. Baru saja ia merasakan sedikit kebahagiaan, harus ditempa kenyataan pahit. Suaminya tergolek lemah tak berdaya di tas ranjang.
Velyn menggenggam jemari suaminya, mencium punggung tangan itu bertubi-tubi, “Cepat bangun. Aku tidak ingin sendirian lagi, Cad.”
Beberapa menit berlalu, ponsel di saku Velyn bergetar. Ia tersentak, karena di saku itu hanya ada ponsel milik suaminya, yang diserahkan oleh perawat sebelum operasi tadi.
Ragu-ragu, Velyn meraihnya. Layar benda pipih itu berkedip, menunjukkan nama Delon. "Aku harus bilang apa? Cad, aku harus gimana?” Velyn hanya menatapnya, sampai vibra panggilan itu berhenti. Ia menghela napas lega, namun tak lama kemudian, benda itu kembali bergetar dengan nama pemanggil yang sama.
__ADS_1
Bersambung~