
Gerald meraba pipinya yang terasa kebas, perlahan menoleh pada mantan kekasihnya. Sorot matanya semakin memerah, sembari mengetatkan rahang, Gerald berucap dengan nada tinggi, “Velyn, apa yang kamu banggakan dari penipu ini, hah? Dia telah merebut semua aset-aset perusahaanku! Dia penipu, Velyn. Jangan buta dan bodoh! Nanti lama kelamaan, dia juga akan menguras harta Keluarga Narendra. Dan di saat itu, barulah mata kamu terbuka, bahwa suamimu ini tak lebih dari seorang bajjingan kelas kakap!”
Richard segera menarik istrinya, tangannya mengepal. Matanya menatap nyalang, “Jangan pernah bentak istriku! Aku saja tidak pernah membentaknya!” geram lelaki itu merapatkan tubuh Velyn, jelas hal itu semakin membuat Gerald memanas.
“Apa maksud kamu, Gerald? Datang tak diundang tiba-tiba membuat keributan seperti ini?” serobot Rendra yang masih bingung mencerna kalimat Gerald.
Ya, mantan calon menantunya itu memang sedang banyak beban pikiran, bisa dikatakan stress berat. Perusahaannya yang mengalami collaps, sedikit banyak akibat pengaruh Richard yang memasukkan perusahaan Gerald ke dalam daftar hitam. Karena memang Dirgantara Corp sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Baik di dalam maupun luar negeri. Mudah sekali membuat para investor menarik kembali modalnya.
“Om, asal tahu. Lelaki yang menjadi menantu Anda ini sebenarnya adalah cucu Alex Dirgantara. Dan saat ini pria inilah yang mengendalikannya!” Gerald menatap Richard dengan bengis, padahal yang ia serang sedari tadi diam saja. “Om pasti tahu, seberapa besar kekuatan Dirgantara Corp. Dalam jentikan jari, dia bisa membuat perusahaan lain gulung tikar. Tidak menutup kemungkinan Perusahaan Narendra, Om!” teriak Gerald menggebu-gebu.
Velyn ingin kembali menghajar Gerald, tapi rengkuhan Richard semakin kuat, hingga ia kesulitan bergerak. Wanita itu mendongak ke arah sang suami.
Richard menggeleng disertai senyum tipis, sedikit merunduk hingga bibirnya tepat di telinga Velyn, “Jangan pernah kotori tanganmu, Sayang. Tangan sucimu ini hanya untuk membelaiku.”
Velyn pikir Richard akan berbisik, ternyata suaranya cukup keras. Mustahil jika tidak didengar orang sekeliling. Bahkan sengaja meraih jemari lentik Velyn dan meletakkan di pipinya.
Kalimat yang tentu semakin memantik amarah Gerald. Terbukti dengan geraman tertahan di kepalan kedua tangannya.
__ADS_1
Richard melenggang santai, berdiri tepat di depan Gerald. Tetap menampakkan senyum manisnya. Ia menjulurkan tangan, menepuk bahu Gerald beberapa kali.
“Tuan Gerald yang terhormat. Anda sadar tidak, seberapa besar membuat istri saya terluka? Mulutmu harimaumu. Belajarlah menjadi laki-laki sejati. Saya saja masih ingat betul loh bagaimana Anda merendahkan Velyn, memaki dan memojokkannya tanpa mau mendengar penjelasannya. Susah payah saya menyembuhkan lukanya, dan seenaknya saja Anda ingin kembali dengan Velyn, menganggap saya merebutnya?”
Richard tertawa terbahak-bahak, bahkan ia bertepuk tangan begitu keras. Meski sorot matanya sangat tajam menghunus tepat jantung Gerald.
“Situ waras?” umpat Richard mencengkeram kerah kemeja Gerald. Raut wajahnya berubah dingin dan menyeramkan. Senyum yang sempat tersungging, memudar entah ke mana. Richard menarik bahu Gerald hingga mereka jarak mereka begitu dekat, “Jangan pernah berani mengusik Velyn lagi, kalau tidak ingin hidupmu semakin hancur!” ancam lelaki itu dengan berbisik. Menepuk-nepuk punggung Gerald dengan sedikit tekanan.
“Gerald, masih ingat jelas bagaimana kamu mempermalukan keluarga kami! Kamu sendiri yang membatalkan pernikahan Velyn, bahkan menikah dengan sahabat Velyn. Tidak tahu malu, menjilat ludah sendiri yang sudah kamu buang? Kamu bahkan lebih menjijikkan dari gigolo!” seru Rendra termakan hasutan Richard. Ia lebih fokus dengan sakit hatinya, atas perlakuan Gerald.
Berharap mendapat pembelaan dan menyerang Richard? Nyatanya justru berbalik mematikan langkahnya sendiri. “Om, Tante. Maaf, waktu itu saya khilaf,” aku Gerald menundukkan kepala dalam.
“Selingkuh berkedok khilaf? Makan tu khilaf!” cibir Velyn memutar bola matanya malas.
“Khilaf khilaf kepalamu itu?! Gara-gara tuduhan kamu, Perusahaan Narendra hampir collaps! Silakan lakukan konferensi pers di depan media. Bersihkan nama putriku!” tegas Narendra.
Velyn melirik sekilas ke arah ayahnya. Selama ini, ia kira orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan perasaannya. Ternyata dugaannya salah, “Apa mungkin karena hadiah yang dikasih Richard bisa mengubah mereka? Kalau iya, pinter juga cara Richard mengambil hati Papa dan Mama,” batin Velyn penuh keheranan.
__ADS_1
“Tapi itu sudah sangat lama, Om. Lagi pula sekarang Perusahaan Anda sudah kembali stabil, berita tentang pernikahan sekaligus perceraian saya, itu juga sudah menjelaskan kalau Velyn tidak bersalah,” elak Gerald enggan melakukannya.
“Saya ingin kamu meminta maaf secara terbuka!” Rendra menambahkan. "Bukannya minta maaf malah cari perkara!"
Gerald semakin membenci Richard, rasanya tidak adil. Hidupnya sudah hancur, ingin mencari dukungan malah yang terjadi sebaliknya. Diam-diam Gerald meraih sesuatu di balik jas, lalu menusuk perut Richard yang masih sangat dekat dengannya.
Richard mendelik, gerakannya begitu cepat hingga ia tidak bisa menghindar. Gerald segera berlari meninggalkan rumah tersebut.
“Richard!” teriak mereka serentak ketika tubuh lelaki itu terhuyung dengan darah yang mengalir dari perutnya.
“Cad, Richard, kamu masih dengar aku. Pa! Telepon ambulans, Pa! Cepat! Richard, jangan tidur. Kamu harus tetap buka mata! Richard kamu dengar ‘kan? Jangan pejamkan mata!” teriak Velyn memangku kepala Richard, terus membuatnya sadar. Ketakutan begitu menyergap hatinya. Tangannya gemetar saat melihat sebilah pisau masih menancap di perut suaminya.
Bersambung~
__ADS_1