
Mendengar namanya disebut, Richard mendongak. Hanya menghela napas berat. Tahu betul wanita itu yang dulu sering datang ke bar dan menggodanya. Namun, tidak pernah ia gubris.
“Eh, Cad. Kamu resign dari bar sekarang kerja di mana? Atau jangan-jangan kamu jadi gigolo tante-tante girang! Hahaha!” seru wanita itu mendaratkan bokongnya di samping Richard.
Merasa tidak nyaman, Richard menggeser tubuhnya ke ujung sofa. Ia malas menanggapi wanita itu.
“Dibayar berapa, Cad? Nanti aku bayar dua kali lipat deh kalau mau sama aku. Aku enggak kalah kaya dan sexy kok dari tante-tante,” bisik wanita itu mengikis jarak hingga kembali dekat dengan Richard.
“Jangan dekat-dekat, Rihana!” tolak Richard mencondongkan tubuhnya ke samping agar semakin jauh dari Rihana.
Wanita bernama Rihana itu mengibaskan rambut panjangnya. CEO salah satu perusahaan jewellary di negara itu tergolong sudah berumur, hanya saja masih betah single. “Iddih, dari dulu sampai sekarang masih aja sama. Sombong banget jadi orang. Simpenan tante-tante aja sombongnya selangit!” seru Rihana sengaja mempertegas suaranya. Hingga beberapa orang yang lalu lalang kini menatap ke arah mereka.
“Mau saya simpenan tante-tante girang, mau jadi gigolo, mau jadi tukang ojek, terserah saya. Toh, tidak merugikan kamu!” balas Richard melipat kedua tangannya di dada.
“Eh ....” Belum sempat Rihana berucap sudah terpotong oleh suara lembut Velyn.
“Richard, ada apa?” tanya Velyn buru-buru mendekat ketika melihat seorang wanita menggoda suaminya.
Richard beranjak, merengkuh pinggang ramping istrinya dan merapatkan tubuh keduanya, “Sudah selesai?” tanya lelaki itu menatap mesra.
Rihana memicingkan mata, ketika melihat wanita yang jauh lebih muda darinya. Rasa kesal seketika menanjak hingga ubun-ubun.
__ADS_1
“Bukankah kamu sudah menikah? Kamu selingkuh ya?” pekik Rihana dengan ketus.
Orang-orang yang penasaran langsung berkerumun, mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Tidak ingin ketinggalan berita.
“Emm ... bener, saya memang sudah menikah. Dan ini suami saya! Jadi, berhenti menggoda suami saya, Nona Rihana!” balas Velyn tersenyum remah.
“Oh, pantas saja diblur. Ternyata Richard suami kamu. Kamu pasti malu ya, punya suami kere seperti dia. CEO Perusahaan Narendra, tapi suaminya sekelas pelayan. Cinderella versi pria!” cibir wanita itu terkekeh.
Velyn menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan ucapan wanita itu. Memang dia sama sekali tidak membuka media. Karena hanya akan merusak psikisnya.
“Tidak usah didengarkan, sudah selesai?” ucap Richard. Velyn hanya mengangguk membalasnya.
Richard mengeluarkan dompet, berjalan ke kasir yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menyerahkan black card, “Atas nama Evelyn Narendra,” ucapnya.
“Kamu bodoh banget sih, Vel. Udah nikah sama cowok miskin, eh kamu serahkan juga hartamu?” ketus Rihana menyenggol lengan Velyn.
“Maksud Nona apa ya? Aku tidak mengerti. Apa Anda tidak melihat kalau Richard mengeluarkan kartu itu dari dompetnya sendiri? Saya bahkan tidak memilikinya,” sahut Velyn dengan santai. Meraih tasnya, kemudian menyusul suaminya. Tangannya melingkar erat di lengan kekar suaminya. Menunjukkan pada seluruh mata yang memandang, bahwa lelaki itu miliknya.
Richard memutar tubuh saat sudah selesai transaksi, “Kenapa? Anda mau saya traktir juga? Silakan,” tutur Richard tersenyum miring.
Rihana mencebikkan bibirnya, ia terlanjur bad mood. Mengentakkan kaki keluar dari salon tersebut.
__ADS_1
“Kamu kenal sama dia?” tanya Velyn saat mereka melenggang keluar.
“Emmm ... iya,” sahut Richard.
“Kenal aja apa kenal banget?” selidik Velyn memicingkan mata.
Richard menoleh, sedikit menunduk sembari menahan senyum. “Ciye ... cemburu,” tuturnya mencubit hidung Velyn.
“Aaah, jawab dulu. Gimana kalian bisa kenal?”
Richard terkekeh melihat ekspresi menggemaskan istrinya. Ia lalu mengungkapkan, jika Rihana merupakan pelanggan bar di tempat ia bekerja dulu.
“Owh, ternyata suamiku jadi idola ya di sana!” ucap Velyn masih dengan muka masamnya.
“Apasih? Yang penting aku enggak ladenin mereka, Sayang. Apalagi sekarang sudah ada bidadari di sampingku. Mereka mah enggak ada apa-apanya,” gumam Richard tersenyum bangga, karena istrinya menunjukkan rasa cemburu.
“Ah udah lah. Aku mau pulang!” Velyn melepaskan diri, melenggang cepat meninggalkan suaminya.
“Kok pulang, katanya mau belanja?”
“Enggak jadi! Males kalau ketemu para fans mu lagi,” sahut Velyn tanpa menoleh, “Pelayan bar aja banyak yang suka. Apalagi kalau tahu kamu tajir melintir!” gerutunya pelan mengentakkan kakinya kesal.
Bersambung~
__ADS_1