
Tiba di rumah sakit, Debora segera berlari keluar dari taksi tanpa menunggu Delon yang menyelesaikan pembayaran. Pria itu terkejut sekaligus bingung sendiri melihatnya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Delon bergegas menyusul. Sempat berhenti saat sandal rumah yang tadi tersemat di kaki Debora, lepas satu.
Delon memungut sandal bulu berwarna kuning, dengan bentuk bebek yang menjulurkan lidah dan mata juling. “Persis seperti pemiliknya!”
Pria itu berdecih. Melenggang dengan langkah tegap tanpa memedulikan sekeliling yang kini memusatkan atensi padanya. Lelaki berpakaian serba rapi, dengan satu sandal karakter di tangannya. Manik matanya mengedar ke seluruh penjuru rumah sakit.
Terlihat bak pangeran yang tengah mencari cinderella. Sayangnya bukan sepatu kaca yang ia bawa. Delon mendengkus kesal ketika tak menemukan Debora. “Sialan! Ditinggal begitu aja!” umpatnya kesal beralih ke bagian informasi.
Sesuai insting yang berjalan di otaknya, Delon langsung menyebutkan nama Richard. Sebab, sedari tadi Velyn yang mengangkat telepon tuannya itu. Benar saja, usai mendapat ruang rawat Richard, Delon segera bergegas. Wajah datarnya menutupi kepanikan yang sebenarnya membelenggu. Khawatir terjadi sesuatu dengan Richard.
Baru hendak mengayunkan tangan untuk mengetuk, Delon menajamkan pendengaran. Isak tangis yang terdengar membuat detak jantungnya semakin berlarian. Ia membuka pintu dengan kasar. Napasnya terengah-engah.
"Delon?" panggil Velyn yang pertama melihatnya.
Sedangkan Debora tengah menangis terisak di pelukan wanita itu. Masih dengan jas miliknya yang membalut tubuh mungil gadis itu.
“Masuklah,” perintah Velyn mengedikkan kepala, mengarah pada ranjang pasien.”
"Maaf, Nona,” ucapnya menundukkan kepala, merasa tidak sopan karena asal nyelonong.
“Tidak apa-apa.” Velyn membelai rambut panjang Debora yang begitu kusut. Menenangkan adik satu-satunya itu, meski tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Velyn mengajaknya duduk di sofa, Debora menurut tanpa melepas pelukan erat sang kakak.
Delon sempat melirik ke arah Debora, tapi tak terlihat. Wajah gadis itu tersembunyi di dada kakaknya. Tangisnya bahkan terdengar pilu.
__ADS_1
“Tuan, Anda kenapa?” tanya Delon khawatir.
“Luka kecil, tugas baru untukmu. Cari Gerald dan seret ke kantor polisi. Buat laporan pembunuhan berencana,” papar Richard.
Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bagi Delon, ia bergerak duduk untuk menanyakan kronologi kejadian. Cekatan pria itu mengeluarkan alat tempurnya dari dalam tas, mencatat segala keterangan yang disampaikan tuannya tanpa menyela.
Di sisi lain, Debora sudah tampak lebih tenang. Hanya saja masih terdengar isak kecil sesekali. Manik matanya bengkak dan memerah.
Velyn beranjak berdiri, mengambilkan air mineral dari kulkas yang tersedia di ruangan itu. Membuka segelnya, lalu menyodorkan pada adiknya.
“Bawa sisir nggak tadi?” tanya Velyn yang hanya dijawab dengan menggelengkan kepala.
“Saya bawa, Nona!” serobot Delon yang tanpa sengaja mencuri dengar pertanyaan Velyn.
Richard melayangkan tatapan curiga, “Kau tidak mendengarkanku?” tanya Richard.
“Keren sekali telingamu. Bisa menangkap dua sisi yang berbeda!” puji Richard terkekeh.
Delon menyugar rambut cepaknya ke belakang, mengurai senyum canggung sembari mengangguk.
“Mana?” Velyn ternyata sudah berdiri di sampingnya, menengadahkan tangan.
Segera lelaki itu mengambilkan sisir yang selalu berada di dalam tas kerjanya. Meletakkan pelan di telapak tangan Velyn tanpa berani bersentuhan dengan kulit mulus wanita itu. Karena sejak tadi, ada sepasang mata yang siap menerkamnya.
“Makasih!” Velyn kembali pada adiknya, mulai merapikan rambut panjang Debora yang sebagian tertutup jas Delon. Lalu mulai menyisirnya dengan perlahan.
__ADS_1
“Ini jas siapa? Kenapa penampilanmu seperti ini? Terus kenapa tiba-tiba nangis kayak gitu? Dimarahin sama Mama dan Papa?” cecar Velyn.
“Gara-gara dia, Kak!” tunjuk Debora pada Delon, tanpa berani menatapnya. Suaranya begitu lirih dan serak. Tapi Velyn masih mendengarnya dengan jelas.
Velyn memutar pandangan, alisnya saling bertaut saat maniknya berserobok dengan netra Delon yang membelalak. “Kau apakan adikku, Delon?” seru Velyn berkacak pinggang.
Manik Delon mengerjap berulang-ulang. Mendadak panik sampai menaikkan kedua tangannya ke atas, bak penjahat yang tertangkap basah. “Sa ... saya tidak apa-apakan, Nona! Serius! Ah, atau menangisi sandalnya ini?” Delon membungkuk sejenak, kembali tegak untuk menunjukkan salah satu sandal karakter milik Debora.
Velyn menunduk, melihat kaki Debora yang memang kotor sebelah. Dan pasangan sandal itu tersemat di salah satu kaki adiknya. “Hah? Kok bisa?”
“Dia meninggalkannya begitu saja di luar. Mungkin sedang cosplay sebagai cinderella yang bermimpi dikejar pangeran,” sahut Delon memutar bola matanya malas.
“Kak! Enggak kayak gitu! Dia tiba-tiba menarik tanganku dengan paksa. Menggelandangku keluar dan menyuruhku masuk ke taksi dengan kasar, Kak,” teriak Debora kembali menangis tersedu-sedu. Air mata merebak di kedua manik hitamnya. Velyn segera memeluknya lagi sembari menghela napas kasar.
“Berlebihan!” cetus Delon bersuara pelan.
Richard yang mendengarnya meraih bantal dan mengempaskan tepat di kepala Delon. “Dia trauma! Belum lama ini dilecehkan para brandalan. Sikapmu memantik ketakutannya lagi, Delon!” geram Richard membela adik iparnya. Meski gadis itu menyebalkan, Richard mengerti dan tetap menganggapnya seperti adik sendiri. Apalagi selama ini ia hidup sendiri tanpa saudara.
DEG!
Rasa bersalah seketika mulai menjalar ke seluruh tubuh Delon, menelan saliva susah payah, “Jadi ....”
Bersambung~
mampir di novel keren ini juga ya Best...
__ADS_1