
Richard bergeming mendengarkan laporan dari anak buahnya. Gerahamnya mengetat dengan gigi bergemeletuk.
“Apa Anda sudah melihat berita yang baru saja tersebar luas?” tanya Delon pelan.
“Ya!”
“Karena hal itu, banyak kolega yang memutuskan kerja sama dengan perusahaan Narendra secara sepihak. Mereka menilai bahwa Nona seorang ....” Delon tidak berani mengatakan kalimat selanjutnya.
Richard sudah paham maksud ucapannya. Berita tak senonoh itu, memang telah mencoreng nama baik Narendra, terutama Velyn.
Tangan Richard mengepal dengan begitu kuat. Deru napasnya memburu. “Delon, tolong segera hubungi perusahaan IT terbaik. Minta untuk selidiki orang yang pertama kali unggah berita sialan itu!” tegas Richard.
“Baik, Tuan!”
“Aku tunggu hasilnya segera. Kalau bisa hari ini juga harus ketemu siapa dalangnya, Delon!”
Sambungan telepon terputus. Richard segera beralih menghubungi istrinya. Akan tetapi, ponselnya mati. Tidak bisa dihubungi sama sekali. Hal itu semakin membuat Richard gusar.
Ia tidak bisa diam saja. Bergegas melepas selang infus yang menancap di tangannya. Berjalan pelan keluar dari rumah sakit tersebut.
Sebuah taksi berhenti setelah Richard melambaikan tangan. Ia segera duduk di kursi penumpang, “Kediaman Narendra,” ucapnya pada sang sopir.
__ADS_1
“Anda penasaran juga ternyata. Saya sendiri tidak menyangka. Keluarga itu ternyata menjual anak gadisnya demi menyelamatkan perusahaan dari kehancuran,” ucap sopir taksi dengan lancang.
BUGH!
Richard menendang kursi sopir penuh emosi. Mobil segera menepi karena sang sopir benar-benar terkejut. Ia menoleh pada Richard, manik mata lelaki itu memancarkan amarah.
“Jangan berbicara hal yang belum kamu ketahui kebenarannya! Lakukan saja pekerjaanmu dengan benar! Mulutmu bisa saja menghilangkan pekerjaanmu!” geram Richard dengan rahang yang mengeras.
Sopir taksi tersebut menelan salivanya gugup, dadanya berdebar tak karuan melihat perubahan dalam diri Richard, “Ma ... maaf, Tuan!”
“Jalan!” titah Richard menghempaskan punggungnya pada sandaran jok mobil. ‘Siapa pun yang membuat berita ini, aku pastikan akan hancur!’ batin Richard menautkan kedua tangannya dengan kuat.
\=\=\=\=0000\=\=\=\=
“Tuan Narendra! Mohon minta waktunya sebentar! Apakah berita yang tersebar di internet hingga di televisi itu benar adanya?”
“Iya, Tuan Rendra! Bisakah Anda menjelaskannya? Apa benar Nona Evelyn menjual diri demi bisa menggaet para kolega!”
“Apakah ini strategi bisnis? Karena sebelumnya, Perusahaan Narendra mengalami krisis. Tapi tak lama kemudian, bisa bangkit kembali dengan mudah!”
“Mohon klarifikasinya, Tuan Narendra!”
__ADS_1
Teriakan demi teriakan terus mengudara. Kameramen juga tak melepas bidikannya dari pintu utama maupun seluruh sisi rumah.
“Pa, gimana ini? Kalaupun kita jelaskan jika Velyn sudah menikah, mereka pasti tidak akan percaya! Apalagi Velyn tidak di rumah. Ke mana anak itu, Pa?!” seru Sabrina panik di dalam rumah.
Ia bersama suaminya mengintip di balik tirai. Pintu rumah mereka tertutup rapat. Sama sekali tidak ada celah yang terlihat
“Papa juga tidak tahu, Ma. Di saat-saat genting seperti ini ke mana tuh anak! Mana nggak bisa dihubungi pula!” geram Rendra mengepalkan kedua tangannya.
“Aduh, Pa. Mau sampai kapan kita terkurung di sini? Bagaimana kita bisa membungkam mereka? Velyn saja tidak di rumah. Nanti mereka malah semakin berpikir macam-macam, Pa.” Sabrina semakin panik dan tidak tenang.
Apalagi ia terus mendapat teror dari rekan-rekan sosialitanya. Sabrina diancam akan dikeluarkan dari perkumpulan mereka, jika tidak segera klarifikasi.
“Pa! Ayo dong mikir! Jangan diam saja! Mama enggak terima dikeluarin dari komunitas sosialita Mama, Pa. Gara-gara masalah ini, semua meneror dan mengancam Mama," pekik Sabrina frustasi.
“Sssshh! Diam dong, Ma. Jangan berisik! Ini juga Papa lagi mikir solusinya!” sanggah Rendra kesal karena istrinya semakin menambah kepanikannya saja.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
“Dikabarkan hingga detik ini, Tuan Narendra dan keluarganya sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Banyak para wartawan yang menunggu klarifikasi sejak pagi. Namun, tidak terlihat aktivitas dari Keluarga Narendra.” Suara gelombang radio mobil taksi yang ditumpangi Richard terdengar begitu jelas.
Dada Richard naik turun dengan kasar, ia sangat khawatir terhadap istrinya. "Cepatlah sedikit! Lambat sekali kamu nyetirnya!" teriak Richard membuat sang sopir terperanjat kaget.
__ADS_1
Bersambung~