
Velyn tak bisa berucap, matanya menatap nanar dengan bibir bergetar, ia menghela napas berulang untuk meredakan keterkejutannya. Hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Wanita itu memalingkan muka, bahkan bergerak membelakangi suaminya. Ada banyak hal yang mengganjal di hatinya.
Richard hanya bergeming memperhatikan. Keningnya berkerut dalam, akan tetapi Richard menahan diri, ingin memberi waktu pada sang istri untuk menenangkan diri.
Benar saja, lama kelamaan tangis wanita itu semakin pecah. Bahunya bergerak kasar seiring dengan isak tangis yang terdengar. Entah apa yang ada di benak sang istri, di saat banyak pasangan suami istri begitu bahagia dan mendamba memiliki momongan, Velyn justru merasa begitu terpukul saat mendengar berita kehamilan itu.
Dalam sudut hati terdalam Richard merasa kecewa, karena melihat reaksi wanita itu yang tampak tak menginginkan kehadiran malaikat kecil dalam pernikahan mereka.
‘Sebenarnya ada apa? Kenapa Velyn justru terlihat sesedih ini?’ batin Richard menahan sesak di dada. Manik matanya memerah. Namun, ia tekan rasa penasaran itu demi kondisi sang istri beserta calon bayinya.
“Velyn, ada apa? Ada yang sakit?” tanya Richard menyentuh bahu istrinya. Tak lama, wanita itu menepis lengan Richard dengan kasar. Velyn meringkuk sembari memeluk perutnya, tangisnya bukan mereda, tapi semakin menjadi.
__ADS_1
Richard bingung harus bagaimana. Ia melepas dasi yang masih melilit kerah kemeja sedari tadi. Sambil menghela napas berat, Richard berucap, “Baiklah, menangislah sesukamu. Aku tunggu sampai kamu merasa lebih baik. Panggil saja aku kalau butuh sesuatu ya. Aku tidak akan pergi,” ujar lelaki itu memelankan nada suaranya. Membungkuk sembari mencium kening wanitanya, barulah melenggang pergi menjauh dari ranjang.
Sesuai buku yang pernah ia pelajari, sedikit banyak Richard mengerti akan perubahan hormon ibu hamil. Sudah lama ia mempersiapkannya. Setiap malam sebelum tidur, Richard membaca buku yang dibelikan Delon, seputar kehamilan.
“Hmmh, cari stok sabar di mana? Ah, ngadepin keluarganya saja bisa. Ini cuma Velyn masa nggak bisa?” gumam Richard menyandarkan kepala pada sandaran sofa.
Pandangannya tak lepas dari wanita yang terbaring di atas ranjangnya. Ia mencoba mengalihkan perhatian, melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Delon! Caty ada di negara ini. Gimana bisa lepas dari pengawasan kamu?” Delon membeliak ketika pesan itu masuk ke ponselnya. Pasalnya sedari tadi mereka berdiskusi mengenai pekerjaan. Ini sungguh di luar perkiraan Delon.
“Maaf, Tuan. Terlalu banyak yang saya handel. Jadi, fokus saya pada Caty mulai berkurang. Tapi saya rasa, dia tidak akan berani macam-macam, Tuan,” balas Delon berkilah dengan cepat, sebelum sang bos mulai mengira-ngira sendiri. ‘Tangan saya cuma dua,’ tambahnya hanya
__ADS_1
Richard sadar, selama ini semua proyek dan pekerjaannya dihandel oleh lelaki itu. “Alesan aja!” sembur lelaki itu jengah, menyebut nama Caty.
Waktu telah menunjukkan pukul 2 malam. Richard masih terjaga, menutup note book yang sedari tadi ia geluti. Matanya sudah terasa perih. Tubuhnya juga serasa kaku. Richard meregangkan sekujur tubuhnya, lalu berhenti saat tatapannya beralih pada Velyn.
Pria itu beranjak berdiri, kembali mendekati sang istri dan duduk di kursi tepat di sebelah ranjang Velyn. Terkejut karena ternyata wanita itu belum memejamkan mata.
“Velyn, kok belum tidur?” tanya Richard merapikan anak rambut Velyn. Ia masih terisak sesekali.
Richard menghela napas berat, “Sebenarnya kamu kenapa? Kenapa nggak suka mendengar kehamilan kamu hemm? Atau aku ada salah? Tolong bicaralah,” pinta Richard meraih jemari Velyn dan menciumnya.
Bersambung~
__ADS_1