
“Utututu! Gemasnya suami aku kalau lagi ngambek,” ucap Velyn tertawa.
Tidak ada cara lain, tidak mungkin Richard harus bersuara lantang demi mengetahui hubungan mereka. ‘Sabar, tenang, kuasai keadaan. Rasanya seperti balon yang siap meletus!’ gumam Richard menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya dengan kasar.
Pria itu kembali duduk, kali ini di tepian ranjang istrinya. Jemarinya menggenggam satu tangan sang istri, senyum pun ia paksa terurai asal rasa penasarannya bisa terjawab.
“Sayang, ada hubungan apa kamu sama Gilang? Boleh ‘kan suamimu yang tampan menawan ini mengetahuinya?” tanya Richard selembut mungkin.
Velyn berdehem, ia bergerak hendak duduk. Buru-buru dibantu oleh sang suami. Richard mengganjal sebuah bantal di punggung wanitanya yang bersandar pada headbord ranjang.
“Mmm mau tahu aja apa mau tahu banget?” goda Velyn menusuk-nusuk dada Richard dengan jari telunjuknya.
Sentuhan Velyn membuat sekujur tubuh Richard meremang, ia raih jari mungil itu lalu menciumnya. Bahkan hendak menggigit jika tak segera ditarik lagi oleh Velyn.
“Richard!” seru wanita itu menatap kesal.
“Jangan berbelit. Aku tidak suka basa basi!” sahut Richard kembali mode serius. Hampir saja konsentrasinya buyar.
“Jadi, Gilang itu pacar aku waktu masih SMA. Nah, dia nerusin kuliah di luar negeri. Kita lost contact sampai sekarang. Ini pertama kali kita bertemu lagi,” tutur Velyn merasa was was sekaligus takut dengan tatapan nyalang suaminya. Apalagi, kini urat-urat lehernya menonjol, jakunnya pun naik turun dengan kasar.
“Jadi, kalian belum putus?” Richard memastikan.
Velyn hanya menggeleng pelan. “Belum,” sahutnya. “Tap... tapi, itu cuma cimon, Richard. Nggak penting dan nggak pakai perasaan juga,” ucapnya cepat segera merevisi.
“Cimon?” sebelah alis Richard terangkat, masih belum merasa puas akan jawaban istrinya.
“Iya, sekedar cinta monyet gitu lah. Ah gimana sih kalau lagi masa puber itu. Kamu juga pasti merasakannya ‘kan?” sahut Velyn cepat mengingat sang suami tengah mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
Pria jangkung itu mencondongkan tubuhnya pada sang istri. Giginya terdengar bergemeletuk, maniknya menatap tajam lalu berkata, “Tidak! Sekolahku di asrama. Semuanya laki-laki. Nggak ada cimin cimon apalah itu.”
“Oiya, kamu bilang nggak penting dan nggak pakai perasaan? Bagaimana dengan dia? Aku bahkan bisa melihat jelas masih ada benih-benih cinta di matanya saat menatapmu!” tegas Richard.
Velyn menghela napas panjang, menahan diri agar tidak terbang ke awang-awang, karena suaminya terlihat cemburu. Dilingkarkan kedua lengan pada leher kokoh sang suami, mendekatkan hidung mereka, “Richard Dirgantara, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Karena aku, cuma milikmu, suamiku. Tidak akan ada Richard Richard yang lain. Seluruh hatiku sudah dipenuhi sama kamu!” tutur wanita itu panjang lebar lalu mengecup bibir Richard dengan singkat.
__ADS_1
Sontak saja mampu membuat tubuh Richard bergetar. Ia sampai begitu heran merasa istrinya begitu agresif sekarang.
Richard meletakkan punggung tangan di kening istrinya, menempelkan bolak balik dan menangkup kedua pipi Velyn, “Udah nggak demam,” gumamnya terheran.
“Berkat kamu. Makasih udah jagain aku sepanjang malam, Richard,” ujar Velyn menyentuh salah satu lengan suaminya, lalu tiba-tiba menggigitnya sekuat tenaga.
“Aaaaa! Sakit, Sayang!” Richard hanya berseru tanpa mendorong tubuh Velyn. Ia mampu menahannya.
“Hehe, gemes sih!” ucap Velyn tanpa rasa bersalah.
Richard hanya tersenyum sembari mengacak rambut Velyn. “Tidak masalah. Selama bisa membuat kamu bahagia,” ujarnya. “Ayo mandi sekarang.”
Richard merengkuh tubuh Velyn, membawanya ke kamar mandi setelah Velyn membawa infusnya. Namun, tiba di kamar mandi Velyn bergeming. Ia menahan tangan Richard saat hendak melucuti pakaiannya.
“Kenapa? Pusing? Sakit? Atau mual lagi?” tanya Richard bertubi karena khawatir.
“Enggak. Tapi, malu. Kamu tunggu di luar aja sana.” Velyn mengedikkan kepala ke arah luar.
“Tapi....”
“Sssttt ... biarkan aku melakukan tugasku.”
Mau tak mau, Velyn harus menekan rasa malunya dan berakhir dimandikan sang suami. Lelaki itu begitu telaten, hanya memperbolehkan istrinya duduk manis tanpa melakukan apa pun.
Hampir setengah jam berlalu, Velyn sudah kembali ke ranjang pasien dalam kondisi bersih dan segar. Bahkan kali ini Richard membantu mengeringkan rambut panjang sang istri dan menyisirnya.
“Nah, udah cantik. Makan dulu ya,” ucap Richard meraih nampan makanan, berisi sarapan pagi lengkap dengan buah dan minumannya.
Diperlakukan bak ratu, Velyn kesulitan menelan makanan. Serasa teronggok di tenggorokan, saking terharunya. Ia saja tidak ingat kapan terakhir kali dimanja seperti itu. Sebelum menikah, tidak ada yang memperlakukannya seperti itu.
“Kok nangis?” Richard menyeka bulir bening yang mendadak berjatuhan di pipi Velyn.
“Ah, aku hanya terharu, Cad. Makasih ya, kamu sabar menungguku. Kamu juga selalu ada buat aku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika tanpamu,” tutur Velyn menyelam begitu dalam manik hitam sang suami.
__ADS_1
“Sudah tugas aku. Udah, jangan mikir macam-macam. Kali ini, aku yang akan ambil alih perusahaan. Sepertinya Papa sudah tidak bisa diandalkan,” sahutnya sembari menyuapi makanan dari rumah sakit itu.
Walaupun hambar, tapi disuapi sembari diajak bercanda, tanpa terasa semua makanan yang tersaji habis tak bersisa. Termasuk buah dan minumannya juga.
“Aku pulang sebentar ya. Lihatlah, bajuku berantakan. Aku mau mandi dulu, ambil pakaian ganti juga. Biar nggak bolak balik. Delon udah balik kandang, jadi nggak ada yang bisa diandalkan,” gurau Richard merapikan selimut dan memastikan infus istrinya mengalir dengan lancar.
“Mau aku bantu tidur?” tawar Richard.
“Aku hanya hamil, Richad. Bukan sekarat,” elak Velyn terkekeh, menyibak lengan suaminya.
“Ya ‘kan gara-gara aku, kamu jadi hamil Velyn.”
“Udah ah, sana pulang. Bau!” titah Velyn menutup hidung dengan kedua jarinya.
“Yaudah, kalau ada apa-apa panggil aja suster. Aku nggak akan lama kok,” ucap lelaki itu mencium kening sang istri beserta kedua pipi dan bibir. Lalu berjalan mundur sembari melambaikan tangan, hingga melangkah keluar dari ruangan.
Tak berapa lama, pintu kembali terbuka. Velyn melongokkan kepala, “Apalagi, Richard? Ada yang ketinggalan?”
Namun nyatanya, bukan sang suami yang muncul. Akan tetapi Dokter Gilang yang baru saja selesai jam kerjanya. Pria itu melenggang masuk ke ruangan Velyn.
“Gilang?” seru Velyn terkejut melihatnya.
“Hai, Velyn. Lama nggak ketemu, kamu makin cantik aja!” sahut Gilang semakin mendekat.
Velyn gusar, menoleh ke sekeliling dengan panik. Ia takut terjadi kesalahpahaman. Apalagi akhir-akhir ini namanya sering wara wiri di media.
“Gilang, mau ngapain kamu?”
Gilang duduk di kursi, tepat di samping Velyn, menatap wanita itu lamat-lamat.
“Gi... Gilang!” panggil Velyn mulai gugup menerima tatapan dari pria itu.
Bersambung~
__ADS_1