
Richard terbahak-bahak mendengarnya. Gemas sekali mendengar celoteh sang istri yang tiada jeda itu. “Ternyata begini sifat asli kamu?” sindir Richard.
Sejak mereka menikah, Velyn memang tidak pernah mencarinya, bahkan bersikap dingin padanya. Tapi semua itu runtuh ketika terbukti Richard tidak bersalah dan sama-sama korban keegoisan Sonia.
“Ah! Yaudah aku matiin!” seru Velyn.
“Tunggu, Sayang,” sergah Richard seketika membuat Velyn berbunga. Di balik telepon ia menggigit bibirnya sendiri agar tawanya tak terdengar. Panggilan ‘Sayang’ itu membuat darahnya berdesir. “Kamu kangen ya? Baru juga beberapa jam kita enggak ketemu,” canda Richard terkekeh.
Tidak terdengar suara lagi, hanya deru napas Velyn yang tak teratur. Dadanya berdebar tak beraturan di seberang sana.
“Maaf ya, Vel. Sepertinya malam ini aku belum bisa pulang. Aku janji, besok akan menjemputmu. Sabar ya, aku juga rindu kok. Jangan ke mana-mana sebelum aku datang. Okay?” ucap lelaki itu tertawa.
“Kamu mau ke mana?” rengek Velyn khawatir.
“Melakukan hal yang harus aku lakukan. Demi kamu, keluarga kamu dan demi kita. Sudah dulu ya, emmm .... Love you,” ujar Richard dengan dada berdebar hebat.
Ribuan bunga tengah menghujani hati dua sejoli itu. Seperti remaja yang baru jatuh cinta.
Velyn justru mematikan ponselnya, ia malu mengatakannya. Tapi, wanita itu berguling-guling di atas ranjang. Sejenak bisa melupakan apa yang tengah menimpanya saat ini.
__ADS_1
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Usai menempuh perjalanan panjang, akhirnya Richard tiba di Villa ketika malam datang. Richard segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Richard sudah menunggu kedua mertuanya di meja makan. Menunggu selama beberapa waktu, akhirnya pasangan itu keluar untuk sarapan.
“Pagi, Pa, Ma. Gimana? Betah di sini?” tanya Richard menyambut mereka berdua setelah menyesap teh hangat di cangkirnya.
Rendra dan sang istri tentu terkejut, mata mereka membelalak melihat sang menantu sudah duduk di sana.
“Richard?” seru Sabrina duduk bergabung diikuti oleh Rendra. “Sejak kapan kamu di sini?”
Richard menyelesaikannya lebih dulu. Setelah meneguk air minum, pria itu berdehem sembari menyeka bibir dengan tisu. “Pa, Ma. Sore nanti Papa dan Mama sudah bisa kembali ke rumah. Aku jamin, sudah tidak ada huru-hara lagi di rumah. Dan untuk perusahaan, mungkin saat ini memang masih belum stabil. Tapi aku yakin ke depannya pasti akan membaik lagi,” papar Richard dengan serius.
Rendra menghentikan makannya, keningnya mengernyit menatap menantunya, “Bagaimana bisa kamu seyakin itu? Aku tidak mungkin bisa membayar media untuk klarifikasi. Gara-gara berita itu, hancur sudah reputasi keluarga dan juga perusahaan,” sahut lelaki tua itu mengepalkan tangannya.
“Tenang saja, Pa. Aku sudah membereskan semuanya. Tidak ada lagi berita miring tentang Velyn. Dan untuk perusahaan, mungkin butuh waktu untuk memulihkannya. Papa bersama tim development bisa mengeluarkan ide-ide baru yang lebih fresh, untuk menarik investor baru, buat para investor lama menyesali keputusannya,” saran Richard dengan ide yang cemerlang.
Rendra tampak berpikir, kepalanya mengangguk-angguk. “Benar juga. Kamu kenapa jadi pintar begini?” puji lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
Sabrina juga tampak kagum dengan pembawaan Richard yang berwibawa, tenang dan bisa menyelesaikan masalah sebesar itu.
“Oh ya, Velyn untuk sementara waktu masih pemulihan. Kondisinya sedang kurang baik. Aku harap untuk kali ini Papa bisa menanganinya dengan baik. Jika butuh saran atau bantuan, langsung saja hubungi aku, Pa,” tutur Richard tak menanggapi pujian ayah mertuanya.
“Ma, lebih baik Mama berkemas sekarang. Kita akan segera pulang siang ini juga,” pinta Richard pada ibu mertuanya.
Tanpa bantahan seperti biasanya, Sabrina mengangguk. Bergegas ke kamar untuk membereskan barang-barangnya. Meski sebenarnya sangat betah di sana, tapi ia baru sadar jika Debora sendirian di rumah. Kondisi anak gadisnya masih belum stabil. Khawatir jika gadis itu melakukan hal-hal di luar batas.
Richard dan Rendra berpindah ke ruang tengah agar obrolan mereka lebih nyaman. Rihard memberikan banyak masukan demi pengembangan perusahaan. Diam-diam Rendra kagum dengan kecakapan Richard dalam mengambil keputusan dan memberi ide-ide cemerlang dengan wawasan yang luas.
Matahari menanjak semakin tinggi, usai santap siang, Richard segera membawa Rendra dan istrinya untuk pulang. Tak kenal lelah, meski harus pulang pergi menyetir sendiri, agar lekas sampai di rumah lalu bertemu dengan istrinya.
Setelah tujuh jam perjalanan akhirnya mereka tiba di kediaman Narendra. Benar ucapan Richard, sudah tidak ada huru-hara seperti saat mereka meninggalkan rumah.
Sabrina dan Rendra yang duduk di jok belakang saling melempar pandang, sorot mata mereka memendarkan keterkejutan sekaligus kekaguman. Ternyata ucapan menantunya sepenuhnya benar dan bisa dipercaya.
“Pa, Ma, sebentar lagi ada tamu. Ada baiknya Papa dan Mama membersihkan diri dulu,” ucap Richard menurunkan koper kedua mertuanya.
“Siapa?” tanya Rendra penasaran.
“Nanti Papa akan tahu sendiri.” Richard tersenyum, membawa koper mereka masuk lalu menyerahkan pada salah satu asisten rumah tangga.
__ADS_1
Bersambung~