
Bumper mobil yang ditumpangi oleh Richard, ditabrak dari belakang akibat berhenti mendadak. Seorang wanita muda bergegas keluar dari mobil miliknya, melangkah penuh emosi menghampiri mobil yang tidak sengaja ia tabrak.
Berulang kali wanita berambut blonde itu mengetuk jendela mobil Richard penuh emosi. “Woy keluar, Lo! Buta ya? Goblokk kok ditelen sendiri. Keluar nggak?” teriak wanita itu berkacak pinggang. Matanya membeliak dengan lebar.
Richard sama sekali tidak peduli dengan pekikan frontal di luar sana. Ia langsung menangkup pipi Velyn yang masih syok, “Kamu nggak apa-apa? Perut kamu gimana? Ada yang sakit? Atau kepalamu? Ada yang terbentur nggak?” cecar Richard khawatir memeriksa bagian tubuh sang istri, hingga berakhir di perut datar wanita itu. Mengusapnya lembut sembari merunduk, “Maaf ya, Sayang. Kamu pasti terkejut. Maaf,” tambah lelaki itu mengecup perut Velyn.
“Woy! Buka atau aku hancurin ni mobil?” teriak wanita itu lagi sembari menghantam tas tangannya pada jendela kemudi.
“Nggak apa-apa. Sana keluar, tanggung jawab!” ucap Velyn mengedikkan kepalanya keluar. Ia tengah mengatur detak jantungnya yang masih berantakan.
“Beneran nggak apa-apa? Perut kamu....?” Richard benar-benar khawatir karena sempat menyentuhnya.
“Iiih sana, Richard! Sebelum tambah ribet!” Velyn memotong ucapan sang suami sembari memotong kalimat lelaki itu.
Namun yang terjadi sebenarnya, perutnya memang terasa kram dan begitu tegang. Ia hanya tidak ingin ada masalah lain yang lebih panjang. Terpaksa menahan rasa nyeri di perut bagian bawahnya. Kedua kakinya bahkan gemetar. Ia berusaha menampilkan raut biasa saja.
Mau tak mau, Richard turun dari mobil. Wanita berambut blonde tadi sudah mengayunkan batu dan melemparkannya ke jendela mobil Richard.
Pria itu tidak mengetahui batu melayang ke arahnya. Tepat sekali mengenai pelipisnya, saking kerasnya, hingga mengeluarkan darah. Richard menyentuh lukanya, jemarinya terkena cairan merah.
“Hah? Buset! Kena kepalanya! Gila, dari penampilannya ini sih ATM berjalan!” gumam wanita blonde itu dengan panik. Apalagi saat melihat Richard terluka karenanya.
Hanya dari tatapan Richard saja, wanita itu segera mengurai kesadarannya. Lalu melangkah tegas mendekati lelaki itu. Ia berdehem sembari merapikan rambutnya.
__ADS_1
“Situ yang salah ya! Liat tuh bumper mobil saya penyok. Ngapain berhenti mendadak? Pokoknya saya nggak mau tahu. Saya minta ganti rugi!” tandas wanita itu menunjuk ke arah mobilnya.
Richard meliriknya sekilas, kemudian berucap, “Hemm? Sebutkan saja nominalnya!” tutur lelaki itu masih dengan tatapan tajamnya. Justru aura gentleman seperti itu mampu menghipnotis para kaum hawa. Termasuk wanita yang berdiri di hadapannya itu.
Saat tengah menaksir jumlah kerugiannya, Velyn menjambak rambut wanita itu hingga terjengkang ke belakang. Suaminya terlalu lambat menangani. Aura permusuhan ditujukan pada wanita yang tengah mundur beberapa langkah itu.
“Velyn!” panggil Richard panik, segera menarik lengan sang istri dan membawanya ke pelukan.
Tubuh Velyn menegang, bahunya naik turun kasar, seiring dengan deru napas yang berembus cepat. "Apa? Kelamaan!" sahutnya tanpa menoleh.
“Sakit sialan!” pekik wanita itu saat menyadari, Velyn lah yang menjambak rambutnya.
“Alah, cuma gitu doang. Nggak sampai rontok. Pantesnya sih sampai gundul tu kepala!” balas Velyn dengan ketus menatap jijik wanita di hadapannya.
"Jangan dekat dekat suamiku!" seru Velyn menutup hidungnya, tangan lainnya menerobos sela lengan Richard sembari mengibas-ngibas.
“Minggir! Wanita kurang ajar itu patut diberi pelajaran!” balas perempuan itu menyalak-nyalak.
Richard mendorong tubuh wanita itu dengan kasar. Tidak ada ampun bagi siapa pun yang berani menyakiti istrinya. "Hadapi aku kalau mau menyentuhnya!" ujar lelaki itu dengan tegas.
“Aw!” seru wanita itu terhempas di trotoar. Ia meringis kesakitan.
Terdengar derap langkah sepatu yang mendekat. “Vanya!” teriak wanita lain yang baru saja muncul dari mobil Vanya.
__ADS_1
Velyn dan Richard turut menoleh, memperhatikan wanita itu membantu Vanya berdiri. Velyn mendengkus sebal, kedua tangannya mengepal dengan erat.
“Cih! Datanglah dedengkotnya!” gumam Velyn memutar bola matanya malas.
“Dia itu ... Son... Son... Siapa, Yang, namanya? Sahabat kamu dulu ‘kan?” tanya Richard melirik sang istri.
“MANTAN ya! Mantan sahabat!” sahut Velyn ketus. Sakit hati yang sempat terpendam, rupanya kembali menanjak ketika mereka bertemu.
“Oh! Pantes. Ternyata antek-anteknya wanita itu?” Richard manggut-manggut saat ingatannya tidak salah.
Setelah berdiri, Vanya hendak melabrak Velyn. Sonia baru menoleh, ia terkejut, manik matanya membelalak lebar saat melihat kehadiran Velyn. Sedari tadi, ia sibuk bermain ponsel di dalam mobil.
Sonia mengira, Vanya bisa membereskan masalah dengan cepat. Rupanya, bukan menyelesaikan, akan tetapi menambah masalah baru. “Ve... Velyn?” gumam Sonia.
"Ooh! Ini yang kamu ceritakan itu? Jadi wanita ini yang menghancurkan hidupmu? Gara-gara dia juga Gerald dipenjara 'kan? Sudah lama sekali aku ingin meremas-remasnya hingga hancur! Lalu membuangnya ke laut biar dimakan hiu!" ucap Vanya yang lupa akan ancaman Richard.
"Ehm!" Deheman Richard mengalihkan perhatian mereka semua.
Sonia dan Vanya menelan salivanya gugup saat melihat pria berbalut jas mahal itu tengah bersandar di pintu mobil sembari bersedekap dada.
Bersambung~
__ADS_1