
Sonia meraih lengan Vanya, segera menghentikan langkah wanita itu agar tidak bertindak bodoh. Dua wanita itu saling memandang, Sonia menggelengkan kepalanya sembari menelan salivanya gugup. Ia merasakan sendiri bagaimana amarah Richard. Meski bukan tangannya sendiri yang menyakitinya, akan tetapi Sonia masih teringat jelas bagaimana sikap lelaki itu saat marah.
“Kenapa nggak jadi? Saya jadi penasaran gimana cara kamu *******-***** Evelyn lalu membuangnya ke laut,” ujar Richard tampak santai, meski tatapan matanya begitu tajam. Hingga membuat dua wanita itu hanya bergeming dengan detak jantung yang bergemuruh.
Richard yang tengah fokus dengan dua perempuan itu tidak tahu, jika saat ini istrinya begitu pucat. Pria itu menegakkan punggung, satu tangannya masuk ke saku celana. “Kenapa? Apa saya semenakutkan itu?” Senyum smirk terbentuk dari bibir Richard, ia menghela napas berat lalu kembali berucap, “Sikap saya itu tergantung bagaimana Anda bersikap pada saya maupun keluarga saya. Tidak perlu saya jelaskan ‘kan? Intinya, saya bisa menjadi apa saja yang kalian pikirkan. Selama kalian baik, saya bisa lebih baik pada kalian. Tapi, kalau sebaliknya, hemm ... ,” tambah pria itu lagi. Sebelah alisnya terangkat.
“Cad,” panggil Velyn berusaha meraih ujung jas Richard. Kedua kakinya serasa kaku, sulit untuk digerakkan. Apalagi rasa nyeri dan kram di perutnya semakin menjadi. “Richard,” panggilnya lebih keras karena sang suami tak mendengar.
Buru-buru pria itu menoleh, “Sayang!” serunya panik kala melihat bulir keringat membasahi wajah cantik Velyn. Apalagi napasnya sampai tersengal-sengal. Richard menghampiri, memapahnya kembali masuk ke mobil.
“Sakit, Cad,” rintih Velyn.
__ADS_1
Richard menutup pintu mobil, ia tidak membawa banyak uang cash di dompetnya. “Besok datang saja ke rumah Velyn untuk mengambil ganti rugi mobilmu!” teriaknya bergegas masuk ke kursi kemudi. Tak menunggu lama, segera menginjak pedal gas, melajukan mobil agar lekas sampai di rumah sakit.
Kali ini, ia begitu fokus. Dalam hatinya menyesal karena harus meladeni dua wanita itu. Tak berapa lama, ia sampai di pelataran rumah sakit. Tepatnya di depan IGD.
“Tolong!” seru Richard saat keluar lalu membuka pintu untuk Velyn. Dua perawat yang bertugas, datang dengan brankar dan mendekatkannya ke mobil.
Richard segera menggendong Velyn, merebahkannya di atas brankar. Turut membawanya masuk dan memastikan istrinya baik-baik saja.
“Baiklah, tolong tunggu di luar sebentar ya, Tuan. Biar Dokter memeriksanya,” ucap salah satu perawat.
Rasanya tidak tega meninggalkan Velyn, apalagi saat ini ia yakin, bahwa Velyn sangat membutuhkannya. Namun, demi memenuhi prosedur rumah sakit, ia terpaksa keluar lebih dulu.
__ADS_1
“Sabar ya,” ujar Richard mencium kening Velyn. Sebelum akhirnya berjalan mundur dan keluar dari ruang observasi.
Pria itu berjalan mondar mandir seorang diri. Ia sampai tak peduli dengan dering ponsel yang memekik di sakunya sedari tadi. Ikut tegang, cemas dan khawatir menggulung menjadi satu dalam benaknya. Padahal sudah berulang kali menghela napas panjang, tapi masih sama saja. Dadanya seperti terhimpit beban yang berat. Apalagi saat mengingat Velyn menahan rasa sakit.
Beberapa waktu berlalu, terasa sangat lama bagi Richard. Padahal tidak sampai 30 menit. Dokter menyibak tirai, langsung berpapasan dengan Richard, “Anda suaminya?” tanya dokter perempuan menatap serius.
“Iya, Dok. Apa yang terjadi? Istri saya baik-baik saja ‘kan? Bagaimana kondisinya sekarang, Dok?” cecar Richard dengan dada berdebar-debar.
Bersambung~
__ADS_1