SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA

SUAMI PENGGANTI YANG TERHINA
BAB 64 : KABAR BAIK


__ADS_3

Dokter tersenyum mendapati rentetan pertanyaan yang tak berjeda itu. “Tuan, istri Anda memang tengah mengandung. Usia kehamilannya 6 minggu. Akan tetapi....”


“Tapi apa, Dok?” sela Richard tak sabar dan begitu khawatir. Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap istri atau calon anaknya, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Dadanya bertalu kuat menanti jawaban dari sang dokter.


“Tapi untuk saat ini, butuh penanganan intensif. Sepertinya, istri Anda mengalami syok. Jadi, saya sarankan agar rawat inap dulu sampai kondisinya stabil,” jelas sang dokter.


“Bagaimana dengan janin dalam kandungannya? Apa baik-baik saja? Tadi sempat mengalami guncangan kuat saat perjalanan ke sini,” tambah Richard.


“Seperti yang saya bilang, butuh penanganan intensif agar kami bisa terus memantau kondisi ibu dan bayinya. Usia saat ini sangat rawan, Tuan.”


“Baik. Terima kasih penjelasannya, Dok!”


“Sama-sama. Permisi.”


Dokter melenggang pergi kembali bertugas. Sedangkan Richard bergeming tak percaya akan kabar bahagia yang tengah menderanya. Persis sesuai dugaannya. “Yess!” serunya mengepalkan tangan di udara. Kemudian, bergegas mengurus pendaftaran rawat inap sang istri. Tentunya, ia memilih ruang perawatan yang istimewa.


Velyn tertidur usai menerima obat beserta penguat kandungan. Richard segera membuka note book, menghubungi asisten andalannya. Kedua pria itu tampak serius dalam beradu pandang melalui layar benda pipih di hadapan mereka.

__ADS_1


“Tuan, untuk masalah pemberitaan mengenai identitas Anda sudah berhasil ditekan. Dan beberapa perusahaan yang sudah saya tandai, terus menjilat untuk meminta kontrak kerja sama, sudah saya kirim ke email, Anda. Semua berkas sudah saya limpahkan pada Stevy, Tuan. Malam ini juga saya akan kembali,” lapor Delon di sebuah kamar hotel yang ia sewa beberapa hari ini, demi membantu mengurus perusahaan istrinya.


Richard mengangguk menanggapi, sembari membuka deretan email masuk. “Kerja bagus, Delon. Kau memang selalu bisa diandalkan. Bonus kamu sudah aku transfer. Jangan cuti dulu sebelum anakku lahir!” tutur Richard dengan bangganya.


Delon langsung memelas, dengan tubuh terlihat lunglai tak berdaya. Akan tetapi, ia tidak berani melayangkan protes. Ia juga sudah terbiasa pontang panting menangani Dirgantara Corp sejak kepergian tuannya itu.


“Tenang saja, nggak lama lagi, Delon. Bukankah cuma butuh waktu 9 bulan?” ucap Richard yang melihat perubahan asistennya itu.


“Eee... maksud Anda, Nyonya hamil?” tanya Delon memastikan.


Senyum dan sebuah anggukan yang tampak di layar laptopnya, sudah cukup memberikan jawaban atas pertanyaan Delon. Ia ikut terharu sekaligus lega. Secara otomatis, kabar mengenai pelimpahan aset pada Laura—ibu tiri Richard, akan digagalkan.


“Jangan beritahu kakek. Aku yang akan memberi tahunya sendiri!” ucap Richard.


“Siap, Tuan. Oh ya, butuh validasi untuk beberapa proyek besar. Sudah saya kirim berkasnya di surel Anda, Tuan.”


“Ya, ini sedang aku pelajari. Sekali lagi, terima kasih banyak, Delon. Jangan kawin dulu ya!”

__ADS_1


Delon membeliak mendengar penuturan tuannya yang tanpa dosa itu. Ia hanya menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kaku.


Hingga suara lenguhan Velyn, membuat Richard bergegas memutus video call mereka tanpa ucapan apa pun. Richard beranjak, menghampiri istrinya di atas ranjang pasien.


“Sayang?” panggil Richard tepat di telinga istrinya. Telapak tangannya membelai kening sang istri yang dipenuhi keringat dingin.


Velyn membuka matanya, kepalanya mendadak berat dan semua serasa berputar-putar, sehingga terpaksa kembali menutup mata.


“Mau apa? Minum? Makan?” tawar lelaki itu beralih menggenggam jemari Velyn.


“Kenapa nggak pulang aja, Cad?”


“Enggak, Sayang. Dokter harus memantau kondisi kamu dan calon bayi kita!” tegas lelaki itu.


Sepasang kelopak mata Velyn langsung terbuka lebar. Menatap suaminya begitu dalam. “A... apa? Calon bayi kita?” tanya Velyn beralih menyentuh perut datarnya.


“Iya. Kenapa? Kamu nggak suka?” tandas Richard saat melihat tanggapan sang istri.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2