
Derit pintu ruangan yang terbuka, mengalihkan perhatian Richard. Wajahnya terlihat kusut, pakaiannya juga berantakan akibat terjaga sepanjang malam.
Kursi tunggu yang tidak nyaman, terpaksa ia duduki untuk memeriksa pekerjaannya. Tidak bisa jauh dari ranjang sang istri, karena Velyn terus mengigau sepanjang malam.
“Selamat pagi. Maaf mengganggu, Tuan. Dokter akan memeriksa kondisi pasien,” ucap perawat dengan ramah. Selang beberapa detik, pria berjas putih khas dokter memasuki ruangan.
“Pagi,” sapa dokter lelaki itu. Kakinya melangkah tegap mendekati ranjang pasien.
Richard tak bersuara, hanya mengangguk untuk menjawabnya. Sebenarnya terbesit rasa tak suka akan kehadiran dokter tersebut. ‘Kenapa harus laki-laki sih? Masih muda lagi!’ gumamnya dalam hati.
Mendengar suara berisik, Velyn mulai mengerjapkan mata. Ia langsung meraih lengan Richard saat merasa lelaki itu bergerak menjauh.
“Jangan pergi,” ucap Velyn pelan.
Senyum tipis terurai dari bibir Richard, ia membungkuk sembari membelai puncak kepala Velyn. “Enggak, Sayang. Dokter mau memeriksamu,” ucapnya pelan meninggalkan kecupan di kening istrinya.
Velyn menggerakkan kepala, beralih menatap ke seberang Richard. Mereka bergeming dalam keterkejutan, kala pandangan keduanya saling bertemu.
__ADS_1
Sebelah alis Richard terangkat, ia merasa ada hawa yang berbeda menguar di ruangan tersebut. “Ehm! Apakah periksanya sudah selesai? Kalau sudah tolong tinggalkan ruangan ini. Saya mau membersihkan tubuh istri saya!” tegas Richard menekankan kata istri dan sedikit lebih keras.
“Ah, iya. Maaf. Saya hanya terkejut. Karena rupanya, Velyn yang menjadi pasien saya.” Dokter mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mendadak gugup, lalu melaksanakan tugasnya meski dengan jantung yang berdebar.
“Jangan sampai salah! Tangannya dikondisikan!” sela Richard memicingkan mata, kala sang dokter menempelkan stetoskop di dada Velyn.
Suster yang mendampingi, hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. Tak heran, karena sudah sering kejadian seperti itu mereka alami.
“Apa kabar, Vel? Kamu, sudah menikah ternyata.” Pelan, suara pria itu sangat pelan. Matanya berbinar ketika bertemu dengan manik hitam Velyn.
Geram, Richard mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. “Tolong profesional!” sindir lelaki itu.
“Tanpa Anda suruh, saya pasti melakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya!” ketus sekali Richard membalas. Sampai-sampai Velyn menggigit bibirnya karena merasa tidak enak.
“Permisi, Velyn. Jangan terlalu stres, rileks aja. Aku siap kapan pun saat kamu membutuhkanku,” ucap Dokter Gilang sesekali melirik Richard dengan tatapan remeh. Lalu kembali tersenyum saat kembali menatap Velyn.
“Terima kasih! Ada saya yang akan selalu membahagiakannya! Silakan tinggalkan kami, Dokter!” Richard mengedikkan dagu ke arah luar. Mengusir mereka secara halus.
__ADS_1
Velyn hanya bergeming sedari tadi. Ia sama sekali tak bersuara atau pun menanggapi ucapan dua lelaki di hadapannya itu.
Sepeninggal Dokter Gilang dan asistennya, Richard menutup pintu ruangan dengan kasar. Velyn sampai terlonjak kaget mendengarnya. Tersadar, bunyi terlalu keras, Richard bergegas mendekati istrinya.
“Maaf, maaf, Sayang. Kamu terkejut ya?” ucap Richard mengusap perut istrinya, lalu menciumnya.
“Bukan dia yang kaget. Tapi mamanya,” sahut Velyn menunduk, menyentuh puncak kepala sang suami.
Richard mendongak, ia memasang wajah masam. Raut wajahnya teramat merah. Lelaki itu menyipitkan matanya, “Siapa lelaki itu? Kalian punya hubungan apa? Kenapa tatapannya berbeda? Jawab!” cecar Richard berkacak pinggang.
“Eeee... Kamu cemburu?”
“Perlu aku jjawab! Aiyss, jangan mengalihkan pembicaraan!” tukas Richard semakin terlihat kesal karena istrinya justru terkekeh menatapnya.
“Dia .... Gilang.”
“Udah tahu! Yang aku tanyakan, kalian pernah ada hubungan apa?”
__ADS_1
Bersambung~